Soloensis

Tak Seringkas di Kelas

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Konon pengalaman itu “mahal” harganya. Maka dari itu, supaya harga pengalaman menjadi murah, saya akan membaginya secara gratis di Soloensis Writing Contest. Begini ceritanya:
“Tok…tok…tok…tok-tok,” kotak dipukul dengan cempala. Gamelan ditabuh, gendhing dimainkan. Dua gunungan diangkat mendekati blencong, menimbulkan bayangan besar di kelir. Lalu keduanya diputar-putar, tanda pentas siap dimainkan.… Pertunjukan hanya berlangsung 30-40 menit namun perjalanan panjang harus mereka lalui sebelum naik pentas (Solopos, 25/8/2015).
Tampaknya kutipan berita yang pernah saya tulis tersebut juga mampu mewakili diri saya dalam mengarungi dunia tulis-menulis. Dalam usaha menyajikan berita-berita melalui tulisan, yang nilai pentingnya hanya selama 24 jam (Mohamad, 2007) tersebut, harus melalui proses belajar tulis-menulis lebih dari 4/5 umur saya saat ini.
Beruntung, saya dijerumuskan masuk ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan UNS. Di sanalah sebenarnya, kemampuan saya dalam hal membaca dan menulis ditempa. Pengalaman menulis dan jurnalistik yang didapat di LPM Kentingan UNS, membuat saya tergerak ingin mengetahui lebih jauh seluk-beluk jurnalistik. Oleh karena itu dalam kesempatan magang yang diselenggarakan program studi (prodi) Sastra Indonesia UNS, saya memilih magang secara mandiri. Pilihan magang pun penulis jatuhkan pada Harian Umum (HU) Solopos.
Lalu kenapa Solopos? Padahal di Indonesia terdapat media-media besar seperti Kompas, Koran Tempo, Majalah Gatra, dan lain sebagainya. Alasan penulis singkat saja. Pertama, karena faktor kedekatan dan kehematan. Jarak kantor Solopos yang dekat dengan rumah, membuat penulis tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kos maupun makan. Kedua, pertimbangan wilayah kerja. Hal ini penting bagi reporter pemula, karena wawasan dasar tentang medan yang dihadapi akan mempermudah kerja reporter dalam mencari berita.
Bayangkan saja jika saya magang di media yang berada di Jakarta, misalnya, daerah yang hanya saya kenal dan lihat kondisinya dari televisi. Tentu saya akan kesulitan mencari berita, meskipun wilayah yang menjadi Ibukota Indonesia itu sebenarnya penuh dengan berita. Bahkan bisa jadi, saya selalu telat mengirim berita karena sering tersesat menuju lokasi liputan. Ketiga, adalah faktor kualitas Solopos yang boleh dikatakan sebagai media terbesar dan terbaik di Soloraya.
Dua bulan merupakan waktu yang sangat singkat bagi sebuah karir kewartawanan. Namun, itu waktu yang panjang dan berat bagi saya. Apalagi jika mengingat jangka waktu magang teman-temannya di Balai-Balai Bahasa yang hanya sebulan dan dapat plesir ke berbagai lokasi wisata. Saya hampir tidak dapat plesiran. Lha wong libur Lebaran saja hanya tiga hari. Pergulatan batin semacam itulah yang menimbulkan masalah tersendiri bagi saya.
Kendati demikian, pilihan tetap pilihan, dan saya harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Jadi selama dua bulan, hari demi hari saya jalani di HU Solopos yang berkantor di Jalan Adisucipto 190, Solo. Hari libur yang disediakaan setiap Sabtu pun menjadi tidak menentu. Setiap peluang dan kesempatan untuk menulis berita, sebisa mungkin dimanfaatkan.
Hal itu merupakan keputusan pribadi. Pihak HU Solopos sebenarnya tidak mewajibkan reporter magang untuk menulis berita. Akan tetapi, kesadaran diri ini menolaknya. Rasa-rasanya tidak pantas saja jika saya, orang yang sudah mengirimkan surat lamaran magang di sana, tidak berusaha untuk berkontribusi barang sedikit saja.
Hari demi hari dilewati, berbagai pelajaran dan pengalaman, suka dan duka pun saya dapatkan. Hingga kemudian saya sampai pada kesimpulan: benarlah pendapat Bill Kovach dan Rosenstiel (2006) bahwa pelajaran menjadi “reporter sebenarnya” jarang berasal dari lembaga pendidikan atau kampus. Pengisahan Goenawan Mohamad pada pengantar buku Seandainya Saya Wartawan Tempo pun demikian. Hasil kuliah selama lima tahun tidak sebanding dengan pelajaran yang diperoleh oleh seorang reporter di Tempo selama dua tahun. Pelajaran itu pun saya peroleh setelah keluar dari kampus, magang reporter di HU Solopos, dan setelah berkali-kali bertugas ke lapangan.
Berpraktik menjadi reporter di Solopos selama dua bulan, pada akhirnya tidak hanya mengajarkan ritme kerja seorang reporter media cetak. Pengalaman menyaksikan para reporter yang blak-blakan berbagi bahan liputan dan menerima bingkisan—sedang penulis ditekankan untuk mengandalkan liputan eksklusif dan dilarang menerima bingkisan apapun—turut memberi pelajaran bahwa menjunjung integritas jurnalistik bukanlah hal yang mudah. Singkatnya, praktik tidak seringkas teori di dalam kelas.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Hanputro_widyono

Mahasiswa Sastra Indonesia UNS

Add comment