Soloensis

Bersama Solopos Aku Menolak The Shallows

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Oleh Danang Muchtar Syafi’i
[Guru MIM Inovatif Gonilan]

Di akhir tahun ada pertanyaan mengejutkan dari salah satu guruku. Pertanyaan tersebut disampaikan melalui layang setrum, “Pada tahun ini (2015), berapa buku cetak yang telah kamu baca?”

Aku menjawabnya ragu sekaligus malu. Bukan aku tak ingat jumlahnya, tapi sedikit jumlah buku cetak yang aku baca di tahun 2015 itulah yang membuat aku malu untuk menjawabnya.

Esoknya aku bertemu dengan guruku. Ia tak memberikan maksud atas pertanyaannya itu. Ia hanya mengatakan, “Sudah pernah mendaras The Sh@llows bersama teman-temanmu?”.

The Sh@llows adalah buku yang ditulis oleh Nicholas Carr. Seingatku, sewaktu dulu membincangkannya bersama kawan, buku itu tidak mengandung jawaban untuk sebuah pertanyaan sesingkat itu.

Yang aku ingat adalah, The Sh@llows memberi keterangan bahwa internet mendangkalkan otak untuk berpikir. Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kapasitas berkonsentrasi, merenung dan berpikir mendalam.

Guruku mengangguk, namun ternyata ia tak menafsirinya sebatas itu. Lebih dari itu, katanya, Nicholas Carr seakan bertanya kepada kita bahwa bagaimana kabar kedangkalanmu setelah (secara tak sadar) menghinakan buku cetak?

Aku terperangah setelah menyimaknya lebih lama. Penghinaan terhadap buku cetak diterjemahkannya dengan sadis; enggan menyisihkan uang untuk membeli buku, yang kemudian membacanya dengan asyik, tenang, fokus dan tidak terganggu.

Aku teringat bahwa sejak lama aktivitas pemuliaan terhadap buku cetak memang menumbuhkan pikiran imajinatif, rasional, inventif serta pikiran memberontak di masa-masa bersejarah dunia (Masa Renaisans, Masa Pencerahan, Masa Revolusi Industri, Masa Modernisme).

Proses pemuliaan buku cetak itu juga berdampak besar pada keberlangsungan intelektual dan budaya. Dengan proses pemuliaan itu, otak kita dapat teraktifkan untuk melanjutkan hasil kekaryaan sebagai “kegembiraan” tanpa bercampur dengan gejolak aliran internet.

Dari semua media, internet memang paling resisten terhadap eksistensi buku cetak. Konektivitas internet bisa memberi kesenangan dan pengalihan atas praktik membaca buku cetak secara mendalam. Akibatnya, daya keajaiban otak yang dihasilkan dari pemuliaan buku perlahan melemah.

Pada abad serba digital, saban bermain internet penanda kebebasan dan kenikmatan. Akan tetapi, Carr hendak mengingatkan bahwa memartabatkan buku cetak menjadi laku pencegahan kedangkalan berpikir. Kedangkalan itu dapat mematikan kepekaan kemanusiaan.

Melalui penyadaran itulah aku telah mengerti. Di akhir tahun ini, guruku sebetulnya ingin menanyakan kabar otakku: apakah otakmu sudah dangkal?

Aku akan mengatakan kepadanya bahwa selama Solopos masih hidup dan belum usang, aku tak akan mudah menerima The Shallows (kedangkalan). Solopos adalah teman karibku. Dia temanku lantaran selalu “memanggilku” untuk terus mengirimkan karya resensi buku cetak selain karya tulis lain.

Ketika Solopos telah beberapa kali memuat karya resensiku, berarti aku telah memuliakan buku: membeli buku, membacanya secara mendalam, merawatnya serta meresensinya. Solopos seolah menunjukkan identitasnya sebagai “mitra terdepan” terhadap buku-buku cetak.

Pertemananku dengan Solopos juga menyiratkan persaingan. Aku selalu menyadarinya ketika aku mengunjungi kantornya. Tepatnya di ruang pusat dokumentasinya (pusdok), aku melihat koleksi buku-buku cetak yang ditata rapi.

Koleksi buku yang dimiliki Solopos telah membuatku iri. Buku-buku yang dipamerkannya menggodaku untuk bersikap genit: tak mau kalah dalam hal mengoleksi buku. Sebab, Solopos juga tak mau tertinggal untuk mendapatkan buku-buku bermutu.

Di sana, banyak buku bermutu yang belum ku miliki. Itu belum buku-buku yang dikoleksi oleh para jurnalisnya. Konon, di kediaman para jurnalis Solopos -secara perlahan tapi pasti- sedang terbangun perpustakaan pribadi.

Melihat budaya literasi Solopos aku pernah berkelakar, sepertinya profesi di dunia ini yang mengakrabi pekerjaannya dengan buku cetak hanyalah jurnalis. Sebagai penyandang profesi guru, aku berambisi menyainginya.

Sementara ini, aku pun harus mengakuinya. Aku serba kalah dalam hal mendapatkan ilmu (pengetahuan yang bersumber dari buku dan wawasan yang didapat dari kerja jurnalistik). Tetapi, aku punya peluang untuk mengejarnya.

Kesempatan itu adalah keunggulan waktu. Kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat literasi. Di Soloraya cukup banyak “rumah baca” yang mungkin tak sempat didatangi oleh jamak jurnalis Solopos. Setiap hari mereka memang berkelana ke pusat dan ke pinggir kota, tetapi itu mereka lakukan untuk mendapatkan berita.

Kesibukannya mungkin akan melewatkan dalam aktivitas perburuan buku cetak, pikirku. Namun, aku mendengar kabar bahwa Solopos punya jadwal mendiskusikan buku sekaligus diimbuhi dengan menyoal peristiwa aktual antar sesama rekan kerjanya.

Lho, berarti Lamartine keliru? Pada 1831, Alphonse de Lamartine (penyair Prancis dan politisi) mengatakan bahwa buku cetak tidak dapat bersaing dengan kebaruan koran yang terbit setiap hari. Nyatanya, hari ini buku masih ada, hidup berdampingan di samping koran.

Akhir kalam, pertanyaan guruku yang menyinggung buku cetak tersebut seketika telah mengingatkanku pada pengalaman bersama Solopos. Pertemanan dan persainganku dengan Solopos merupakan secarik pengalaman yang mengandung penolakan terhadap kedangkalan (The Shallows). Dan, aku berbahagia menjadi kawan sekaligus rivalnya. Hore!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Muchtaronichi

Pengisah Buku di MIM Inovatif Gonilan

Add comment