Recap Lintas Demonstrasi Mei di UNS Solo pada 8 Mei 1998

8 MEI 1998: Aksi demonstrasi di UNS Solo

dok. Solopos Institute

Munculnya aksi demonstrasi di sepanjang jalan gerbang depan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menunjukkan semakin meluasnya gerakan mahasiswa di Kota Surakarta. Aksi ini tidak

lagi terbatas di dalam lingkungan kampus, tetapi mulai mengambil ruang publik sebagai sarana penyampaian aspirasi.

Mahasiswa dan warga sekitar berkumpul di gerbang depan UNS untuk melakukan orasi, konsolidasi, serta menarik perhatian masyarakat terhadap tuntutan reformasi yang semakin menguat.

Keberadaan demonstrasi di jalan utama tersebut juga mencerminkan peningkatan intensitas gerakan.

“Aksi pembakaran Ban yang dilakukan di sepanjang gerbang depan UNS Surakarta pada 8 Mei 1998”

dok. Solopos Institute

Aksi pembakaran di gerbang depan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menandai meningkatnya eskalasi (situasi yang semakin tidak kondusif) demonstrasi mahasiswa. Pembakaran benda seperti kardus dan ban dilakukan sebagai simbol perlawanan sekaligus untuk menarik perhatian publik terhadap tuntutan yang disampaikan.

Selain itu, tindakan ini juga berfungsi sebagai blokade untuk memperlambat aktivitas di sekitar lokasi aksi dan menciptakan ruang bagi massa demonstran. Munculnya aksi pembakaran menunjukkan bahwa situasi mulai tidak kondusif, di mana demonstrasi yang awalnya berlangsung tertib perlahan berubah menjadi lebih tegang.

Aksi demonstrasi yang semakin memperparah keadaan di lingkungan UNS Surakarta.

”Kondisi yang Semakin Memuncak”

dok. Solopos Institute

Aksi demonstrasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menunjukkan kondisi

yang semakin memburuk seiring meningkatnya jumlah massa dan intensitas aksi. Kegiatan yang

semula berupa orasi dan konsolidasi mulai berkembang menjadi aksi yang lebih tegang, ditandai

dengan mobilisasi massa ke ruang publik dan terganggunya aktivitas di sekitar kampus.

”Peserta Mengalami Kelelahan Berujung Pingsan Akibat Demonstrasi UNS Mei 1998”

dok. Solopos Institute

Dalam situasi yang padat dan penuh tekanan tersebut, adapun peserta/warga aksi yang pingsan, diduga

akibat kelelahan atau kondisi fisik yang tidak stabil.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa situasi di lapangan semakin sulit dikendalikan, di mana

emosi mulai mempengaruhi jalannya demonstrasi. Aksi yang terus meningkat tersebut menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang memperparah keadaan di Surakarta menjelang puncak kerusuhan pada pertengahan Mei 1998.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Recap Lintas Demonstrasi Mei di UNS Solo pada 8 Mei 1998

Di Balik Bangunan Tua Benteng Vastenburg

Di tengah padatnya lalu lintas Kota Surakarta, sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh. Letaknya berada di kawasan Gladak yang selalu ramai kendaraan. Banyak orang melewatinya setiap hari tanpa benar-benar mengenali sejarahnya. Bangunan itu adalah Benteng Vastenburg.

Benteng Vastenburg bukan sekedar bangunan tua yang berdiri di tengah kota Surakarta. dibalik dinding tebal dan bentuknya yang kokoh, tersimpan cerita panjang tentang kekuasaan, kolonialisme, dan perubahan fungsi dari masa ke masa. Sekilas benteng ini tampak seperti bangunan tua biasa. Cat dindingnya mulai memudar dan beberapa bagian terlihat usang. Sesekali tempat ini digunakan untuk acara publik. Banyak pula anak muda datang hanya untuk berfoto.

Padahal benteng ini menyimpan cerita panjang tentang kolonialisme Belanda di Surakarta. Ia bukan sekadar bangunan pertahanan militer. Benteng ini juga menjadi simbol kontrol politik kolonial. Dari sinilah Belanda menjaga kepentingannya di wilayah kerajaan.

Foto lama Benteng Vastenburg yang memperlihatkan kondisi bangunan pada masa kolonial Belanda. (Instagram malammuseum)

Benteng Vastenburg dibangun pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Nama “Vastenburg” berasal dari bahasa Belanda yang berarti benteng yang kuat. Sejak awal bangunan ini memang dirancang sebagai pusat garnisun militer untuk menjaga kepentingan Belanda di Surakarta.

Letaknya yang sangat dekat dengan Keraton Surakarta Hadiningrat bukanlah kebetulan. Setelah Perjanjian Giyanti politik di Jawa masih rapuh dan Belanda terus mencurigai kekuatan kerajaan lokal. Dari benteng inilah mereka bisa mengawasi pusat kekuasaan Surakarta secara langsung.

Pengawasan kolonial tidak selalu dilakukan melalui perang terbuka. Kadang pengawasan hadir melalui tata ruang kota. Benteng menjadi contoh nyata strategi tersebut. Bangunan dapat menjadi alat kekuasaan.

Di seberang benteng berdiri rumah residen Belanda. Kini bangunan itu menjadi Balai Kota Surakarta. Keduanya dipisahkan oleh Jalan Jenderal Sudirman. Kawasan ini sekarang dikenal sebagai Gladak.

Area dalam benteng memiliki halaman luas di bagian tengah. Pada masa kolonial, lapangan ini digunakan sebagai tempat latihan militer, apel pasukan, hingga aktivitas administrasi tentara. Ruang terbuka tersebut menjadi pusat kegiatan karena menghubungkan bangunan-bangunan lain di dalam kompleks benteng.

Di sekeliling halaman utama terdapat barak tentara yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal serdadu Belanda. Bangunan ini menjadi tempat beristirahat para tentara setelah menjalankan tugas menjaga keamanan wilayah Surakarta. Selain itu, terdapat pula gudang penyimpanan senjata dan amunisi yang menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan benteng.

Potret area dalam Benteng Vastenburg yang memperlihatkan benteng pertahanan, lapangan tengah, serta bangunan di dalam kompleks benteng yang masih berdiri hingga kini. (merdeka.com)

Secara arsitektur Benteng Vastenburg menampilkan ciri khas bangunan militer Eropa pada masa kolonial. Bangunan ini memiliki dinding tinggi, dikelilingi parit, serta bastion di setiap sudutnya. Desain itu dirancang untuk kepentingan pertahanan agar mampu menahan serangan dari luar. Benteng ini juga difungsikan sebagai pusat militer dan penyimpanan logistik tentara.

Dibalik fungsi militernya benteng ini mencerminkan hubungan tidak seimbang antara kekuasaan kolonial. Letaknya yang dekat dengan keraton memperlihatkan adanya pengawasan ketat terhadap aktivitas masyarakat. Benteng juga menjadi simbol dominasi kekuasaan asing terhadap penguasa kolonial.

Fungsi benteng mengalami perubahan seiring berjalannya waktu setelah berakhirnya masa kolonial Belanda. Bangunan ini sempat terbengkalai dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai dalam waktu lama. Kondisi itu menyebabkan beberapa bagian benteng mengalami kerusakan cukup signifikan seiring waktu.

Saat ini Benteng mulai mendapatkan perhatian sebagai salah satu situs bersejarah bernilai budaya tinggi. Upaya pelestarian dilakukan untuk menjaga keberadaan bangunan agar tidak hilang ditelan zaman. Selain menjadi objek wisata, benteng juga dimanfaatkan sebagai ruang publik berbagai kegiatan. Beragam acara seni dan budaya sering diselenggarakan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.

Jika dilihat dari atas kawasan ini sangat politis. Ada keraton Surakarta Hadiningrat yang menjadi simbol kekuasaan lokal. Ada benteng yang menjadi simbol kekuatan militer kolonial. Ada juga kantor pemerintahan kolonial di sekitarnya.

Tata ruang seperti ini menunjukkan relasi kuasa. Belanda tidak hanya hadir sebagai pedagang. Mereka membangun sistem pengawasan yang terstruktur. Ruang kota diatur untuk kepentingan kolonial.

Pada masa pendudukan Jepang, fungsi benteng kembali berubah. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sempat digunakan militer nasional. Namun kondisinya semakin menurun seiring waktu. Perawatan benteng sering terabaikan.

Memasuki era modern, fungsi Benteng Vastenburg kembali berubah. Tempat yang dulu identik dengan kekuatan militer kini lebih sering digunakan untuk konser musik, festival budaya, hingga berbagai kegiatan publik lainnya. Perubahan itu menunjukkan bagaimana ruang terus mengalami transformasi.

Tempat yang dulu identik dengan kontrol kolonial kini menjadi ruang publik. Namun sejarah di baliknya tidak boleh dilupakan begitu saja. Benteng Vastenburg bukan sekadar bangunan tua di tengah Kota Surakarta. Di balik temboknya tersimpan cerita panjang tentang kolonialisme, pengawasan politik, dan hubungan rumit antara Belanda dengan kerajaan lokal.

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Di Balik Bangunan Tua Benteng Vastenburg

Menengok Kembali Demonstrasi Mahasiswa Solo 1998

28 Tahun telah berlalu, namun ingatan mengenai peristiwa 1998 masih terpendam pada memori. Sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di STSI Solo, pada waktu itu situasi sudah mengalami gesekan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang selama ini tidak pernah ikut dalam aksi mulai bergabung pada 29 April 1998.

Inilah potret para demonstrasi sebelum terjadinya kerusuhan puncak pada 14 Mei 1998. Ketegangan yang awalnya berupa orasi dan tuntutan damai perlahan berubah menjadi situasi yang lebih panas, ditandai dengan aksi saling dorong dan gesekan fisik di antara kedua kubu. Interaksi yang semakin intens tersebut akhirnya memicu kericuhan yang sulit dikendalikan. Kejadian ini selanjutnya menjadi bagian dari perjalanan panjang pergerakan mahasiswa yang mencapai klimaksnya pada pertengahan Mei 1998, sebuah momen krusial dalam catatan sejarah Indonesia.

Solopos: Demonstrasi STSI solo

6 Mei 1998: Mensikapi Kondisi Politik Indonesia

Terlihat kelompok massa mulai melakukan aksi pembakaran seiring dengan situasi yang semakin memanas. Para pengunjuk rasa bergerak bersama, kompak dalam satu suara, bersatu dalam gelombang dukungan mahasiswa yang kian besar. Pada minggu itu, Kota Bengawan benar-benar dilanda kerusuhan, dan bentrokan terjadi di berbagai lokasi, membuat suasana kota menjadi tegang dan tidak kondusif.

Aksi yang terjadi di STSI Solo juga menjadi salah satu momen yang signifikan. Ini bukan hanya tentang beraksi di jalanan, melainkan juga sebagai reaksi terhadap situasi politik di Indonesia yang tengah kacau. Mahasiswa mengungkapkan aspirasi reformasi dengan semangat yang semakin kuat dan jelas. Dari awalnya yang merupakan demonstrasi damai, perlahan-lahan menjadi lebih serius, menunjukkan seberapa besar beban dan kecemasan yang dirasakan pada saat itu.

Dokumen Solopos: Massa berbondong-bondong menyuarakan aspirasi

Rombongan mahasiswa terlihat berbondong-bondong turun ke jalan, melakukan aksi arak-arakan yang jadi gambaran nyata situasi saat itu. Mereka berjalan dalam antrean panjang, dipenuhi semangat, dengan teriakan nyaring yang terus menggema di sekeliling jalan. Spanduk yang bertuliskan “Reformasi” dikibarkan, seolah menjadi lambang dari ketidakpuasan sekaligus harapan, bahwa situasi politik Indonesia pada waktu itu tidak dalam keadaan baik.

Meskipun sinar matahari sangat terik dan menyengat, hal itu tidak menghalangi mereka sama sekali. Sebaliknya, di tengah cuaca yang melelahkan, semangat mereka justru semakin berkobar. Keringat yang bercucuran seolah menjadi bukti komitmen mereka dalam mengekspresikan aspirasi.

Dokumen Solopos: Petugas keamanan melakukan penghadangan di gerbang Kampus UMS.

7 Mei 1998: Bentrok Aksi Solidaritas

Selang satu hari kemudian, giliran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang beraksi. Sejak pagi, atmosfer di sekitar kampus Pabelan sudah mulai tegang, ketika ratusan mahasiswa mempersiapkan diri untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi mereka. Dengan semangat yang serupa seperti kampus-kampus lainnya, mereka berupaya keluar dari kawasan kampus untuk bergabung dalam aksi yang semakin meluas di Kota Solo.

Namun, langkah mereka nggak semulus yang dibayangkan. Di pintu masuk Kampus Pabelan, petugas keamanan sudah siap sedia dan menghalangi pergerakan para demonstran. Barisan aparat berdiri rapat, membentuk penghalang yang bikin mahasiswa tertahan di depan gerbang.

Bentrokan akhirnya tidak dapat dielakkan antara mahasiswa yang diorganisir oleh Solidaritas Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA) dan aparat keamanan. Keadaan yang awalnya tegang berubah menjadi kacau dengan cepat. Dorong-mendorong semakin intens, benda-benda mulai dilempar, dan gas air mata digunakan untuk membubarkan kerumunan.

Akibatnya cukup mengkhawatirkan. Setidaknya 52 mahasiswa terpapar gas air mata yang menyebabkan sesak napas dan kepanikan di tengah kerumunan. Di samping itu, 11 mahasiswa mengalami cedera akibat lemparan dari benda keras dalam situasi yang semakin tidak terkendali. Bahkan, dua di antara mereka terpaksa dibawa ke RS Islam Surakarta karena keadaannya yang serius dan memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Di sisi lain, aparat juga tidak lolos dari dampak bentrokan, sekitar 40 petugas dilaporkan menderita luka-luka akibat benturan yang keras di lapangan.

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Menengok Kembali Demonstrasi Mahasiswa Solo 1998

Kilas Balik: Bentrokan Mahasiswa UMS dan Aparat, 7 Mei 1998

Pada Kamis, 7 Mei 1998, kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Pabelan, Kartasura, berubah menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa di Surakarta. Sejak pagi, suasana kampus tidak lagi berjalan seperti hari-hari biasa. Aktivitas akademik mulai tersisih oleh kerumunan mahasiswa yang memadati halaman hingga jalan di depan kampus. Sejumlah mahasiswa datang berkelompok, sebagian membawa spanduk, sementara yang lain membentuk lingkaran-lingkaran kecil untuk berdiskusi dan menyusun barisan aksi.

Di tengah situasi itu, kampus tidak lagi hanya menjadi tempat belajar, tetapi berubah menjadi ruang politik tempat mahasiswa membangun konsolidasi dan menyuarakan tuntutan yang mulai menggema di berbagai kota. Mereka menuntut agar Soeharto beserta kroni- kroninya diadili, menuntut dilakukannya amandemen UUD 1945, serta meminta penghapusan dwifungsi ABRI yang selama Orde Baru memberi ruang besar bagi militer dalam kehidupan politik. Selain itu, mahasiswa juga menuntut pelaksanaan otonomi daerah yang lebih luas, penegakan supremasi hukum, serta pembentukan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Menjelang siang, massa mahasiswa semakin memadati ruas jalan di depan kampus. Ribuan mahasiswa turun ke jalan sebagai bagian dari gelombang gerakan reformasi yang meluas di berbagai kota, termasuk Surakarta, untuk menuntut perubahan politik di tengah krisis nasional yang semakin memburuk. Jalan raya di depan UMS dipenuhi mahasiswa yang menyuarakan tuntutan reformasi dan penegakan hukum, menjadikan kawasan kampus sebagai salah satu titik penting konsolidasi gerakan mahasiswa di Surakarta. Besarnya konsentrasi massa menunjukkan bahwa UMS telah berkembang menjadi salah satu pusat penting gerakan mahasiswa lokal dalam menekan pemerintah Orde Baru.

Foto ini merekam besarnya mobilisasi mahasiswa UMS pada puncak gerakan reformasi 1998. Kehadiran ribuan mahasiswa di halaman dan jalan depan kampus memperlihatkan bagaimana ruang kampus tidak lagi sekadar menjadi tempat kegiatan akademik, melainkan telah berubah menjadi arena politik tempat mahasiswa menyatakan sikap terhadap krisis nasional yang sedang berlangsung.

Aparat dan mahasiswa berhadapan di depan gerbang Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam suasana tegang pada masa Reformasi 1998. (Koleksi Solopos Media Group).

Di depan gerbang Universitas Muhammadiyah Surakarta ketegangan terasa menggantung di udara. Aparat keamanan berdiri rapat membentuk barikade dengan helm, tameng dan kendaraan lapis baja, sementara di hadapan mereka mahasiswa berkumpul dalam jumlah besar. Aksi ini tidak terjadi secara tiba-tiba dan menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa di Surakarta yang menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto.

Demonstrasi berlangsung ketika Indonesia sedang dilanda krisis berat. Sejak 1997, krisis moneter membuat nilai rupiah merosot tajam, harga kebutuhan pokok melonjak, dan kondisi ekonomi masyarakat memburuk. Di tengah situasi itu, kemarahan mahasiswa tidak hanya dipicu oleh persoalan ekonomi.

Ketegangan memuncak ketika mahasiswa mencoba menembus barikade. Dorongan antara mahasiswa dan aparat tak terhindarkan. Barisan depan mahasiswa berusaha bertahan, sementara aparat bergerak maju untuk membubarkan massa. Bentrokan pun pecah di depan gerbang kampus. Situasi yang semula berupa aksi demonstrasi berubah menjadi benturan terbuka antara mahasiswa dan aparat keamanan.

Bentrokan antara aparat keamanan dengan para Demonstran di Kampus UMS Pabelan Sukoharjo pada 7 Mei 1998. (Koleksi Solopos Media Group).

Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung sejak pagi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berujung ricuh di depan gerbang kampus. Ketegangan mulai meningkat ketika ratusan mahasiswa berupaya keluar untuk melanjutkan aksi ke luar kampus, namun dihadang oleh aparat keamanan yang telah membentuk barikade lengkap dengan tameng dan kendaraan taktis.

Situasi yang semula diwarnai adu argumen dan aksi dorong-mendorong kemudian berkembang menjadi bentrokan terbuka. Massa mahasiswa mulai melemparkan batu dan benda keras ke arah aparat, yang dibalas dengan tembakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Kepulan asap gas dengan cepat menyelimuti area sekitar gerbang kampus, memicu kepanikan di kalangan mahasiswa yang berusaha menyelamatkan diri sambil mengevakuasi rekan-rekan yang terjatuh maupun terluka.

Dalam kondisi yang semakin tidak terkendali, bentrokan tersebut berkembang menjadi kerusuhan skala terbatas di kawasan sekitar kampus UMS Pabelan. Jalanan di sekitar lokasi dipenuhi puing-puing batu dan sisa tembakan gas air mata. Sejumlah mahasiswa dan polisi dilaporkan mengalami luka sekitar 63 Mahasiswa dan 40 polisi cedera. akibat benturan fisik dan lemparan benda keras, sementara aparat tetap bertahan dan secara bertahap mendorong massa untuk mundur ke dalam area kampus.

 

Foto Kolonel Infanteri Sriyanto, Komandan Korem 074 Warastratama dan Kolonel Polisi Zainal Abidin Ishak, Kepala Kepolisian Wilayah Surakarta/Ka Polwil. (Koleksi Solopos Media Group).

Aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri menjadi garda terdepan dalam pengendalian situasi yang memanas di Surakarta pada awal Mei 1998. Dalam dokumentasi tersebut, tampak Kolonel Infanteri Sriyanto selaku Komandan Korem 074 Warastratama bersama Kolonel Polisi Zainal Abidin Ishak yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Wilayah Surakarta (Kapolwil), keduanya memegang peran penting di lapangan.

Sriyanto bertanggung jawab atas stabilitas keamanan wilayah dari sisi teritorial TNI, sementara Zainal Abidin Ishak memimpin langsung pengamanan dari unsur kepolisian. Keduanya berada dalam koordinasi untuk merespons gelombang demonstrasi mahasiswa yang terus meluas, termasuk aksi besar di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 7 Mei 1998.

Seiring meningkatnya eskalasi, situasi di lapangan menjadi tidak kondusif. Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung sebagai penyampaian aspirasi berkembang menjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat. Dalam kondisi tersebut, kedua perwira ini berperan dalam upaya pengendalian massa serta pemulihan keamanan di wilayah Surakarta. Peran Sriyanto dan Zainal Abidin Ishak mencerminkan respons aparat negara dalam menghadapi tekanan sosial dan politik yang semakin menguat menjelang berakhirnya masa Orde Baru.

 

Mahasiswa membersihkan batu-batu yang berserakan di jalan usai bentrokan di depan Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Mei 1998, sebagai bagian dari upaya membersihkan jalan pascakerusuhan. (Koleksi Solopos Media Group).

Kondisi di sekitar gerbang Universitas Muhammadiyah Surakarta mulai berangsur kondusif setelah bentrokan. tetapi sejumlah bekas kerusuhan masih tampak di lokasi, terutama batu, pecahan, dan puing yang berserakan di badan jalan akibat aksi saling lempar antara mahasiswa dan aparat keamanan. Aktivitas di kawasan tersebut juga belum sepenuhnya pulih dan masih terlihat terbatas.

Sejumlah mahasiswa terlihat membersihkan area jalan sebagai bentuk kesadaran untuk memulihkan  kondisi  lingkungan  pascakerusuhan.  Mereka  memunguti  batu-batu  yang berserakan, lalu mengumpulkannya ke dalam wadah atau menyingkirkannya ke tepi jalan. Beberapa mahasiswa juga tampak menyiram jalan untuk mengurangi debu serta menghilangkan sisa gas air mata yang masih terasa.

Kegiatan pembersihan tersebut dilakukan secara gotong royong sebagai upaya memulihkan kondisi lingkungan kampus agar kembali dapat digunakan. Di tengah situasi yang masih menyisakan ketegangan, aktivitas ini menandai beralihnya kondisi dari bentrokan menuju pemulihan. Selain terlibat dalam demonstrasi, mahasiswa juga terlihat membersihkan dampak kerusuhan yang terjadi di sekitar kampus. Pembersihan jalan tersebut menjadi bagian dari upaya meredakan situasi setelah eskalasi konflik pada hari itu sekaligus membantu mengembalikan kondisi lingkungan di kawasan UMS.

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Kilas Balik: Bentrokan Mahasiswa UMS dan Aparat, 7 Mei 1998

Perizinan Bangunan yang Sering Dianggap Remeh, Padahal Bisa Bikin Repot di Kemudian Hari

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia konsultasi teknik dan perizinan bangunan, saya cukup sering menemui pemilik gedung, pabrik, atau ruko yang baru “kelabakan” mengurus izin justru setelah bangunannya jadi, bahkan setelah beroperasi bertahun-tahun. Alasannya macam-macam: dulu dikira cukup asal ada IMB, dikira SLF itu opsional, atau memang sejak awal tidak ada yang mengingatkan.

Padahal, di tengah geliat pembangunan properti dan industri yang terus tumbuh di berbagai kota, dua dokumen ini, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), bukan sekadar berkas administratif yang bisa diurus belakangan. Keduanya adalah dasar hukum yang menentukan apakah bangunan boleh berdiri, dan boleh dipakai.

Dari IMB ke PBG, Bukan Cuma Ganti Nama

Sejak PP Nomor 16 Tahun 2021 (turunan UU Cipta Kerja) berlaku, istilah IMB resmi diganti PBG. Banyak yang mengira ini cuma soal nama saja, formalitas baru dengan istilah baru. Padahal prosesnya jauh lebih ketat dibanding IMB dulu. Ada konsultasi teknis sejak tahap perencanaan, mulai dari kajian tata bangunan, keandalan struktur, sampai proteksi kebakaran.

Saya sendiri masih sering menjumpai klien yang menyiapkan dokumen PBG dengan cara lama, seolah cukup melengkapi berkas administratif tanpa kajian teknis yang memadai. Hasilnya bisa ditebak: pengajuan tertahan berbulan-bulan karena dokumen teknis ditolak dinas terkait, entah itu Dinas Penataan Ruang atau Dinas Cipta Karya, tergantung daerahnya.

SLF, Syarat yang Sering Dilupakan Setelah Bangunan Jadi

Kalau PBG diurus sebelum bangunan berdiri, SLF baru masuk setelah konstruksi selesai. Sertifikat ini membuktikan bahwa bangunan sudah layak dari sisi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, sampai kemudahan akses, sebelum boleh dipakai atau disewakan.

Yang sering saya temui di lapangan, banyak gedung perkantoran atau pabrik yang sudah jalan bertahun-tahun tapi belum punya SLF. Ini bukan risiko kecil. Bisa kena sanksi administratif, operasional bisa dihentikan, dan yang paling sering bikin pusing pemilik: kesulitan saat bangunan mau dijual, disewakan, atau dijadikan agunan bank. Bank sekarang makin ketat mensyaratkan legalitas bangunan lengkap sebelum menyetujui pembiayaan.

Yang Paling Sering Jadi Masalah: Bukan Birokrasi, Tapi Dokumen Teknis

Kalau ditanya apa yang paling sering bikin proses PBG dan SLF molor, jawabannya hampir selalu sama: dokumen teknis yang tidak siap. Kajian struktur, mekanikal elektrikal, proteksi kebakaran, aksesibilitas, semua itu harus disusun oleh tenaga ahli bersertifikat dan mengikuti format yang sesuai standar pemerintah daerah maupun Kementerian PUPR.

Dari pengalaman kami menangani proses ini di PT. Kaizen Enjiniring Nusantara, hampir semua keterlambatan yang terjadi bukan karena birokrasi yang berbelit, tapi karena pendampingan teknis yang kurang tepat sejak awal. Kalau kajian teknisnya disiapkan dengan benar sejak tahap perencanaan, prosesnya sebenarnya bisa jauh lebih cepat dan lebih hemat biaya dibanding harus bolak-balik revisi.

Bukan Cuma Soal Legal, Tapi Juga Soal Kepercayaan

Saya melihat kepatuhan perizinan bangunan ini sebenarnya bukan cuma soal patuh hukum. Ini juga cerminan bagaimana sebuah perusahaan dikelola. Bagi investor atau mitra bisnis, kelengkapan PBG dan SLF jadi salah satu tanda bahwa perusahaan tersebut serius dan siap diaudit kapan saja.

Pemerintah sendiri terus mendorong digitalisasi lewat Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) supaya prosesnya lebih transparan dan cepat. Tapi sistem yang bagus pun tidak akan banyak membantu kalau dokumen teknis yang diajukan kualitasnya masih jauh dari standar.

Penutup

Dari pengalaman saya mendampingi banyak pemilik bangunan, satu hal yang selalu saya sampaikan: urus legalitas bangunan sejak dari tahap perencanaan, jangan menunggu sampai jadi masalah. Karena kalau sudah terlanjur bermasalah, biayanya, waktunya, dan risikonya jauh lebih besar dibanding kalau diurus dari awal dengan benar.

Legalitas bangunan yang lengkap itu bukan cuma soal aman dari sanksi. Itu juga fondasi kepercayaan, baik dari investor, mitra bisnis, maupun masyarakat yang nantinya menggunakan bangunan tersebut.

Ditulis pada Your Voice | Tag | Komentar Dinonaktifkan pada Perizinan Bangunan yang Sering Dianggap Remeh, Padahal Bisa Bikin Repot di Kemudian Hari

Bukan Sekadar Menahan Bangunan, Ini Fungsi Tiang Pancang saat Tanah Lunak Tidak Mampu Memikul Beban

Ketika sebuah bangunan, jembatan, atau struktur berat berdiri di atas tanah yang lapisan permukaannya lunak, pondasi dangkal tidak selalu cukup diandalkan. Risiko penurunan berlebih, kemiringan, hingga pergeseran struktur bisa muncul bila beban tidak diteruskan ke lapisan tanah yang tepat.

Di sinilah fungsi tiang pancang menjadi penting. Elemen pondasi ini bekerja dari bawah permukaan, memindahkan beban struktur ke tanah yang lebih mampu menahannya atau memanfaatkan tahanan gesek tanah di sepanjang badan tiang. Tiang pancang juga dirancang untuk membantu mengendalikan penurunan dan pergerakan lateral struktur.

Fungsi Utama Tiang Pancang

Secara sederhana, fungsi tiang pancang adalah meneruskan beban dari bangunan ke lapisan tanah pendukung yang aman. Beban tersebut tidak selalu hanya berasal dari berat bangunan. Ada pula beban penghuni, kendaraan, mesin, getaran, angin, gempa, hingga tekanan air pada struktur tertentu.

Pada bangunan bertingkat, tiang pancang membantu memindahkan beban kolom dan balok ke lapisan tanah yang memiliki daya dukung lebih baik. Pada jembatan, fondasi tiang menerima beban dari pier, abutment, struktur atas, serta gaya lain yang bekerja selama masa layanan.

Tidak Selalu Harus Menembus Tanah Keras

Banyak orang mengira tiang pancang baru bekerja apabila ujungnya sudah mencapai tanah keras. Kenyataannya, tidak sesederhana itu.

Ada tiang yang mengandalkan daya dukung ujung atau end bearing. Pada sistem ini, beban utama diteruskan melalui ujung tiang ke lapisan tanah atau batuan yang lebih kuat.

Namun, ada pula tiang gesek atau friction pile. Jenis ini memperoleh tahanan dari interaksi antara permukaan tiang dan tanah di sekelilingnya. Pendekatan tersebut dapat dipakai ketika lapisan tanah keras berada sangat dalam, selama perhitungan kapasitas dan batas penurunannya memenuhi kebutuhan desain.

Mengurangi Risiko Penurunan Bangunan

Fungsi lain yang sering luput diperhatikan adalah mengendalikan penurunan. Tanah lunak atau tanah kompresibel dapat mengalami pemampatan ketika menerima beban dalam waktu lama.

Tiang pancang membantu memindahkan sebagian besar beban ke lapisan yang lebih stabil sehingga penurunan dapat dibatasi. Meski begitu, tiang pancang bukan berarti membuat bangunan sama sekali tidak turun. Yang dikejar dalam perencanaan adalah penurunan yang masih berada dalam batas aman, termasuk mencegah perbedaan penurunan antarbagian bangunan.

Perbedaan penurunan inilah yang berbahaya. Bangunan dapat tampak masih berdiri, tetapi lantai mulai tidak rata, dinding retak, pintu sulit ditutup, atau elemen struktur mengalami tekanan yang tidak direncanakan.

Menahan Gaya Samping dan Menjaga Kestabilan

Tiang pancang juga tidak hanya bekerja secara vertikal. Pada sejumlah proyek, fondasi harus menghadapi gaya lateral atau dorongan dari samping.

Gaya tersebut dapat muncul akibat angin, gempa, arus air, tekanan tanah, pengereman kendaraan di jembatan, maupun pergerakan struktur di atasnya. Karena itu, perencanaan fondasi tiang tidak berhenti pada hitungan beban tekan. Desainnya juga mencakup daya dukung aksial dan lateral, serta kestabilan terhadap penurunan, geser, dan guling.

Inilah alasan tiang pancang banyak dipakai pada jembatan, bangunan bertingkat, jalan layang, dermaga, struktur dekat pantai, hingga area dengan lapisan tanah lunak.

Penting untuk Jembatan dan Struktur di Atas Air

Pada konstruksi jembatan di sungai atau wilayah perairan, tantangannya bertambah. Dasar sungai belum tentu memiliki daya dukung yang cukup, sementara arus air dan potensi gerusan dapat memengaruhi kondisi tanah di sekitar fondasi.

Direktorat Jenderal Bina Marga menjelaskan bahwa tiang pancang pada jembatan digunakan ketika tanah di bawah dasar sungai tidak memiliki daya dukung memadai. Dalam kondisi tersebut, tiang meneruskan beban dari struktur di atas permukaan air menuju tanah pendukung di bawahnya.

Karena itu, panjang tiang, kedalaman pemancangan, jenis material, hingga metode pengujian tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan perkiraan visual di lapangan.

Kapan Tiang Pancang Biasanya Dibutuhkan?

Tiang pancang umumnya dipertimbangkan ketika proyek menghadapi kondisi seperti berikut.

  1. Lapisan tanah permukaan lunak atau mudah mampat.
  2. Beban bangunan cukup besar dan tidak dapat dipikul pondasi dangkal.
  3. Lokasi berada di tepi sungai, pantai, rawa, atau kawasan dengan muka air tanah tinggi.
  4. Struktur membutuhkan kestabilan terhadap gaya samping, geser, atau guling.
  5. Risiko penurunan tanah diperkirakan terlalu besar bila menggunakan pondasi biasa.

Tiang yang Lebih Dalam Belum Tentu Lebih Aman

Panjang tiang bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pekerjaan pemancangan. Tiang yang dipancang terlalu dangkal dapat gagal mencapai kapasitas yang direncanakan, tetapi tiang yang dipancang terlalu dalam juga bukan otomatis menjadi solusi.

Perencana perlu membaca data penyelidikan tanah, menghitung beban struktur, menentukan jumlah serta jarak antartiang, lalu memverifikasi hasil pekerjaan melalui metode yang sesuai spesifikasi proyek. Pengujian fondasi diperlukan untuk mengetahui perilaku tiang terhadap beban dan memastikan hasil di lapangan tidak sekadar mengandalkan asumsi.

Standar yang Masih Berlaku

Saat pengecekan terbaru, BSN masih mencantumkan SNI 8460:2017 tentang Persyaratan Perancangan Geoteknik dengan status berlaku. Untuk pondasi tiang jembatan, Bina Marga juga masih menampilkan SNI 03-6747-2002 sebagai standar berlaku yang mencakup daya dukung aksial dan lateral, penurunan, guling, geser, serta sambungan tiang dengan balok pondasi.

Pada akhirnya, fungsi tiang pancang bukan sekadar menjadi “batang beton panjang” yang ditanam ke tanah. Tiang pancang adalah bagian penting dari sistem keselamatan struktur. Ketika tanah di permukaan tidak lagi mampu memikul beban, fondasi inilah yang membantu bangunan tetap stabil dari bawah.

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , | Komentar Dinonaktifkan pada Bukan Sekadar Menahan Bangunan, Ini Fungsi Tiang Pancang saat Tanah Lunak Tidak Mampu Memikul Beban

Magang di BPK DIY, Mahasiswa Ilmu Sejarah UNS Belajar Tari dan Gamelan

JOGJA — Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang tergabung dalam kegiatan magang sekaligus rekognisi KKN di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran.

 

Pelatihan yang berlangsung selama empat minggu ini meliputi seni tari, karawitan (gamelan), dan

nyinden, dengan melibatkan masyarakat umum khususnya generasi muda sebagai peserta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata dalam pemajuan kebudayaan sekaligus ruang

pembelajaran langsung bagi mahasiswa di tengah masyarakat.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UniversitasSebelas Maret (UNS) Solo, yang tergabung dalam kegiatan magang sekaligus rekognisi KKN di Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran. (Istimewa)

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Sebelas Maret (UNS) Solo,  berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan
pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran. (Istimewa)

 

Selama pelaksanaan, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai peserta pendukung, tetapi juga

terlibat dalam pendampingan, pengelolaan kegiatan, hingga dokumentasi. Hal ini memberikan

pengalaman praktis yang memperkaya pemahaman mereka terhadap dinamika pelestarian budaya

di lapangan.

 

Sebagai puncak kegiatan, diselenggarakan pementasan kesenian yang menampilkan hasil

pelatihan para peserta. Acara ini disaksikan oleh masyarakat sekitar serta tamu undangan,

sekaligus menjadi sarana apresiasi dan promosi kesenian tradisional kepada publik.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UniversitasSebelas Maret (UNS) Solo, yang tergabung dalam kegiatan magang sekaligus rekognisi KKN di Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran. (Istimewa)

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Sebelas Maret (UNS) Solo,  berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan
pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran. (Istimewa)

Pelatihan ini memiliki fungsi strategis dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional, memperluas

ruang edukasi budaya, serta mendorong keterlibatan aktif genrasi muda dalam menjaga warisan

Budaya. Di sisi lain, kolaborasi antara mahasiswa dan Balai kebudayaan menjadi bentuk sinergi

yang saling menguatkan. Mahasiswa memperoleh pengalaman kontekstual dan keterampilan

praktis, sementara instansi mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan program pelestarian

budaya.

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin hubungan yang semakin erat antara dunia akademik dan

lembaga kebudayaan dalam upaya menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa secara

berkelanjutan

 

Ditulis pada Humaniora, School Life | Tag , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Magang di BPK DIY, Mahasiswa Ilmu Sejarah UNS Belajar Tari dan Gamelan

Tren Hiburan Digital yang Semakin Digemari Generasi Muda

Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menikmati hiburan. Jika dahulu hiburan identik dengan televisi, radio, atau aktivitas di luar rumah, kini berbagai bentuk hiburan digital dapat diakses hanya melalui smartphone dan koneksi internet. Perubahan ini terutama terlihat pada generasi muda yang tumbuh di tengah era digital dan memiliki kedekatan yang tinggi dengan teknologi.

Kemudahan akses informasi membuat berbagai jenis hiburan dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Tidak heran jika banyak anak muda aktif mencari referensi terbaru mengenai dunia hiburan digital melalui berbagai platform online, termasuk situs informasi seperti bahiswon6 yang membahas berbagai tren dan perkembangan menarik di dunia hiburan digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Meningkatnya Popularitas Game Online

Salah satu bentuk hiburan digital yang paling diminati generasi muda adalah game online. Berbagai genre permainan kini hadir dengan fitur yang semakin menarik, mulai dari game strategi, simulasi, olahraga, hingga permainan yang mengutamakan kerja sama tim.

Beberapa faktor yang membuat game online semakin populer antara lain:

  • Mudah diakses melalui smartphone maupun komputer.
  • Menawarkan interaksi sosial dengan pemain lain.
  • Memiliki pembaruan konten secara berkala.
  • Menyediakan tantangan dan kompetisi yang menarik.
  • Dapat dimainkan kapan saja sesuai waktu luang.

Selain sebagai sarana hiburan, banyak generasi muda yang melihat dunia game sebagai peluang untuk mengembangkan keterampilan berpikir strategis, komunikasi, dan kerja sama tim.

Konten Video Pendek Semakin Mendominasi

Kemunculan platform video pendek telah mengubah pola konsumsi hiburan masyarakat. Generasi muda kini lebih menyukai konten yang singkat, informatif, dan mudah dipahami dalam waktu beberapa detik hingga beberapa menit.

Konten video pendek populer karena:

  • Mudah dikonsumsi saat waktu senggang.
  • Menyajikan informasi secara cepat.
  • Memiliki format yang kreatif dan menghibur.
  • Menjangkau berbagai topik, mulai dari edukasi hingga hiburan.

Banyak kreator konten yang memanfaatkan tren ini untuk membangun komunitas dan menyebarkan informasi kepada audiens yang lebih luas.

Streaming Menjadi Pilihan Utama

Layanan streaming film, serial, dan musik juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda kini lebih memilih layanan yang memungkinkan mereka menikmati konten sesuai keinginan dibandingkan harus mengikuti jadwal tayang tertentu.

Keunggulan layanan streaming antara lain:

  1. Koleksi konten yang beragam.
  2. Akses yang fleksibel.
  3. Kualitas audio dan video yang semakin baik.
  4. Rekomendasi konten berdasarkan preferensi pengguna.
  5. Dapat dinikmati melalui berbagai perangkat.

Kemudahan tersebut membuat layanan streaming menjadi salah satu sumber hiburan utama di era digital.

Podcast dan Konten Audio Kian Populer

Selain video, konten audio juga semakin digemari. Podcast menjadi salah satu format yang banyak dipilih karena dapat didengarkan sambil melakukan aktivitas lain seperti bekerja, berolahraga, atau bepergian.

Topik podcast yang paling diminati biasanya meliputi:

  • Pengembangan diri
  • Bisnis dan kewirausahaan
  • Teknologi
  • Gaya hidup
  • Hiburan dan budaya populer

Popularitas podcast menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga informasi yang dapat menambah wawasan.

Komunitas Digital Menjadi Ruang Interaksi Baru

Internet telah membuka peluang bagi siapa saja untuk bergabung dengan komunitas yang memiliki minat yang sama. Saat ini banyak komunitas digital yang terbentuk di berbagai platform media sosial maupun forum online.

Melalui komunitas tersebut, anggota dapat:

  • Berdiskusi mengenai hobi yang sama.
  • Berbagi pengalaman dan pengetahuan.
  • Menjalin relasi baru.
  • Mengikuti perkembangan tren terkini.

Interaksi digital ini menjadi salah satu alasan mengapa hiburan online terasa lebih menarik dibandingkan hiburan konvensional.

Tren Hiburan yang Beriringan dengan Gaya Hidup Modern

Perkembangan hiburan digital juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Generasi muda kini semakin tertarik pada konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan inspirasi mengenai gaya hidup, produktivitas, dan pengembangan diri.

Karena itu, banyak pengguna internet yang turut mengakses berbagai sumber informasi gaya hidup seperti bccaipiao untuk memperoleh wawasan mengenai tren kehidupan modern yang relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.

Perpaduan antara hiburan dan informasi menjadi salah satu karakteristik utama konsumsi konten digital masa kini.

Tantangan dalam Mengonsumsi Hiburan Digital

Meski menawarkan banyak manfaat, konsumsi hiburan digital tetap memerlukan pengelolaan yang bijak. Penggunaan yang berlebihan dapat berdampak pada produktivitas, kesehatan fisik, maupun kesehatan mental.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara hiburan dan aktivitas lainnya antara lain:

  • Menentukan batas waktu penggunaan perangkat digital.
  • Memprioritaskan tugas dan pekerjaan terlebih dahulu.
  • Menyisihkan waktu untuk aktivitas fisik.
  • Mengurangi konsumsi konten yang kurang bermanfaat.
  • Memilih hiburan yang memberikan nilai tambah.

Dengan pendekatan yang tepat, hiburan digital dapat menjadi sarana relaksasi sekaligus media pembelajaran yang bermanfaat.

Penutup

Tren hiburan digital terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat. Mulai dari game online, video pendek, layanan streaming, podcast, hingga komunitas digital, semuanya telah menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda saat ini.

Meski menawarkan berbagai kemudahan dan keseruan, penggunaan hiburan digital tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan waktu yang baik. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, generasi muda dapat menikmati hiburan sekaligus memperoleh manfaat positif yang mendukung perkembangan diri dan kualitas hidup di era digital.

Ditulis pada Pop Culture | Tag , , | Komentar Dinonaktifkan pada Tren Hiburan Digital yang Semakin Digemari Generasi Muda

Mengingat Tragedi: Kebakaran Pasar Gede di Masa Lampau

Di kawasan Pecinan Kampung Ketandan, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Solo, bangunan bersejarah yang dikenal sebagai Pasar Gede Hardjonagoro tegak berdiri. Dari pagi hingga malam hari, kompleks pasar itu ramai. Letaknya di pinggir jalan besar, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di Kota Solo.
Sejarah Pasar Gede berawal dari berdirinya Kota Surakarta oleh Paku Buwono II pada tahun 1745. Pada masa itu, masyarakat Tionghoa tidak diperbolehkan menetap di dalam kawasan keraton yang berada di sebelah selatan Kali Pepe. Karena itu, mereka membangun permukiman di wilayah utara Kali Pepe. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, muncul sebuah pasar tradisional yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Pasar Gede.
Suasana Pasar Gede Surakarta sekitar tahun 1900. Di sisi kanan terlihat deretan los pasar sebelum renovasi tahun 1930, dengan jalan yang masih teduh oleh pepohonan. Sumber : Olivier Johannes RAAP dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe 2015.
Pada awal perkembangannya, Pasar Gede masih berupa pasar oprokan atau pasar lesehan yang banyak diisi oleh pedagang dari luar kota. Para pedagang tersebut menjajakan dagangan secara sederhana di area pasar, sementara pedagang Tionghoa umumnya berjualan dari rumah toko (ruko). Semakin ramainya aktivitas perdagangan membuat pasar ini terus berkembang. Dalam perkembangannya, seorang kapitan Tionghoa bernama Be Kwat Koen menjalin perjanjian kerja sama dengan Residen Solo untuk mengelola pasar tersebut selama 40 tahun.
Kontribusi Arsitek Eropa
Pasar Gede dibangun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X dan dirancang oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten. Dalam perancangannya, Karsten memadukan gaya arsitektur kolonial dengan unsur arsitektur Jawa yang sesuai dengan iklim tropis.
Perpaduan tersebut terlihat pada bentuk atap yang tinggi dan besar sehingga udara dapat mengalir dengan baik dan membuat suasana di dalam pasar tetap sejuk. Bangunan Pasar Gede terdiri dari dua gedung utama yang dipisahkan oleh jalan raya, sehingga terlihat luas dan sesuai dengan namanya, “Gede”, yang berarti besar dalam bahasa Jawa.
Pembangunan Pasar Gede dimulai pada tahun 1927 dan diresmikan pada 12 Januari 1930 oleh Paku Buwono X. Nama “Hardjonagoro” diambil dari gelar K.R.T. Hardjonagoro yang diberikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta kepada seorang tokoh keturunan Tionghoa.
Simbol Multietnis dan Pasar Priyayi
Pada masa kolonial Belanda, Pasar Gede menjadi pusat pertemuan aktivitas perdagangan antara masyarakat Tionghoa, Belanda, dan pribumi. Pasar ini juga dikenal sebagai “Pasar Priyayi” karena barang-barang yang dijual dianggap memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan pasar lain di Solo.
Selain sebagai pusat perdagangan, Pasar Gede juga mencerminkan keberagaman budaya yang tumbuh di Kota Solo. Hal ini terlihat dari keberadaan Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie yang berada tepat di dekat pasar dan masih berdiri hingga saat ini sebagai bagian dari sejarah kawasan tersebut.
Melewati Zaman, Bertahan dari Guncangan

Pada tanggal 20 Desember 1948, pasukan Belanda memasuki wilayah Surakarta. Menanggapi situasi tersebut, Komandan Brigade V, Letnan Kolonel Slamet Riyadi, mengeluarkan perintah untuk melakukan pembumihangusan serta penghancuran sejumlah jembatan di Kota Surakarta mulai pukul 18.00 WIB. Dimulainya perlawanan terhadap Belanda ditandai dengan suara tembakan dan ledakan bom. Salah satu aksi awal dilakukan oleh Vennieling-corps Tentara Pelajar yang meledakkan beberapa bangunan penting, seperti kantor gubernur, Pasar Gede, asrama Tentara Pelajar, Gedung Gajah yang menjadi markas Staf Divisi IV Timuran, serta kantor pos. (Panitia Seksi Penggali Sejarah Monumen Sejarah Militer DAM VII/Diponegoro, 1965: 19).

Namun ujian tidak berhenti di situ, Pasar Gede sebagai sarana perekonomian Kota Solo kembali mengalami musibah ketika kebakaran melanda pada tanggal 28 April 2000. Korsleting listrik dianggap sebagai penyebab api berkobar, dan meski enam unit pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api, upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan bangunan pasar yang memiliki luas 10.000 meter persegi.

 

Petugas pemadam kebakaran mencari api yang masih menyala
Los Bumbon di dalam pasar ludes
Setelah api berhasil dipadamkan, kondisi bagian dalam Pasar Gede tampak mengalami kerusakan yang sangat parah. Sejumlah kios dan fasilitas pasar hangus terbakar, dengan rangka atap besi yang rusak dan sebagian runtuh akibat suhu tinggi. Puing-puing sisa kebakaran masih berserakan di berbagai sudut bangunan, sementara asap tipis terlihat di beberapa bagian lokasi. Petugas juga tampak melakukan pemeriksaan untuk menilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Kobaran api melumatkan bangunan Pasar Gede pada malam hari hingga menyebabkan kerusakan parah pada area pasar (Koleksi Solopos Media Group).
Warga menyaksikan kobaran api yang melumatkan bangunan Pasar Gede pada malam hari (koleksi Solopos Media Group).
Kobaran api melahap bagian dalam Pasar Gede dan menghanguskan deretan kios pedagang (koleksi Solopos Media Group).
 
Wali Kota Solo, Slamet Suryanto (paling kanan) meninjau lokasi terjadinya kebakaran (Koleksi Solopos Media Group).
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api (Koleksi Solopos Media Group)
Setelah kebakaran, para pedagang dipindahkan ke pasar darurat. Berbagai masalah muncul, dimulai dengan kepindahan ke pasar darurat yang kondisinya tidak memenuhi syarat sebagai pasar. Masalah lain yang timbul adalah isu dari wali kota yang akan membangun pasar menjadi mall, dan keinginan pihak legislatif untuk mengubah pasar menjadi bangunan modern. 
Para Pedagang yang selama ini mangkal di Gerbang utama berusaha mengais bekas dagangannya
(Koleksi Solopos Media Group).
.
Warga pasar pun berjuang mempertahankan identitas tradisional pasar mereka. Konflik akhirnya berakhir dengan penyelesaian melalui dialog antara para pihak. Pihak eksekutif dan legislatif akhirnya mengalah dan setuju dengan keinginan warga pasar. Komunitas Paguyuban Pasar Gede (Komppag) memainkan peran penting karena berhasil meminimalkan konflik dan mencegah terjadinya kerusuhan
Bangkit dan Diresmikan Kembali
Pemerintah memperbaiki Pasar Gede pada tahun 2000 dan meresmikan ulang pada tahun 2001. Dari berbagai kejadian tersebut, bentuk Pasar Gede kini hanya 80% dari bentuk awalnya saat berdiri. Demi menjaga keunikan peninggalan bersejarah ini, Pasar Gede Hardjonagoro ditetapkan sebagai cagar budaya tercatat pada No. 01/13/C/Jb/2012.

Penulis: Verdiansyah Hernyana Rudra Perkasa; Fatimah Az Zahra; Vania Khoirunnisa Hartono; Daffa Fauzan Alfaridz; Rizky Muhammad Akbar (Program Studi Ilmu Sejarah UNS 2023)

 
Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Mengingat Tragedi: Kebakaran Pasar Gede di Masa Lampau

Berita Kebakaran Pasar Gede dalam Surat Kabar Solopos

Pada hari Jumat 28 April 2000, tepatnya sekitar pukul 01.00 WIB, kebakaran hebat melanda Pasar Gede Hardjonagoro yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Solo. Sumber api berasal dari korsleting listrik di lantai II, yakni di kawasan Diskotik Solo Biliar yang lokasinya berdekatan dengan pos polisi Pasar Gede. Pihak kepolisian melalui Kapolresta Solo Letkol (Pol) Robby Kaligis saat itu menyatakan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kebakaran terus berjalan.

Peristiwa ini diawali dengan adanya ledakan kecil di dalam Diskotik Solo Biliar pada pukul 01.00 WIB. Hanya dalam waktu 15 menit, kobaran api membesar lalu membumbung tinggi dan merambat dengan cepat ke arah selatan hingga mencapai pos polisi, kemudian terus menjalar ke bagian atap sisi utara bangunan. Tak butuh waktu lama, nyaris seluruh area pasar dilahap si jago merah. Tiga unit mobil pemadam kebakaran baru tiba di lokasi sekitar pukul 01.45 WIB. Keterlambatan ini terjadi akibat kendala komunikasi yang menghambat penyampaian informasi kepada pihak pemadam. Guna memperkuat upaya pemadaman, bantuan tambahan akhirnya didatangkan dari wilayah Klaten, Sukoharjo, dan Boyolali.

Kebakaran ini meninggalkan kerugian yang sangat besar. Nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp15 miliar, sementara ratusan lapak pedagang musnah. Para bakul yang menggantungkan hidup di pasar tersebut hanya bisa menangis menyaksikan tempat usaha mereka rata dengan tanah. Tak sedikit di antara mereka adalah para ibu yang sehari-hari berjualan pada malam hari dan kini harus kehilangan sumber penghidupan mereka.

 

Karya Karsten Itu Dua Kali Direhabilitasi

Artikel berjudul In Memoriam Pasar Gede Solo (Bagian I): Karya Karsten itu Dua Kali Direhabilitasi yang diterbitkan oleh Solopos ini menceritakan tentang sejarah dan nilai penting Pasar Gede bagi masyarakat Solo setelah terjadinya kebakaran pada hari Jumat, 28 April. Pasar Gede yang juga dikenal sebagai Pasar Hardjonagoro, merupakan pasar terbesar yang dibangun di era Pakoe Boewono X, dirancang oleh arsitek asal Belanda, Thomas Karsten, dengan gaya arsitektur tropis Eropa yang khas dan tidak dimiliki oleh pasar lain di Solo maupun di Indonesia. Bangunan ini terdiri atas dua gedung yang dihubungkan oleh jembatan di atas Jl. Urip Sumoharjo, berlokasi strategis di pusat kota tepat di hadapan Balai Kota Solo.

Pengelolaan Pasar Gede berada di bawah naungan Keraton Kasunanan Solo, dan sejak didirikan, pasar ini telah mengalami dua kali rehabilitasi besar, yaitu pada tahun 1949 akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh massa dan pada tahun 1981 serta 1986/1987 yang menghasilkan bangunan baru bernama Akaru Biliar. Sebelum terkena kebakaran, pasar ini menaungi 578 pedagang dengan berbagai macam komoditas, dari makanan, perlengkapan rumah tangga, tekstil, hingga jamu, dan menjadi tempat perdagangan pertama di Solo yang dirancang secara profesional serta dikunjungi ribuan orang setiap harinya, termasuk mereka yang datang dari luar kota. 


Ratusan Bakul Meratap Pilu

Masyarakat dari berbagai kampung seperti Pasar Kliwon, Sangkrah, dan sekitarnya berbondong-bondong menuju Pasar Gede setelah mendengar kabar kebakaran. Pasar Gede yang biasanya tak pernah sepi itu semakin ramai oleh warga yang ingin menyaksikan langsung. Para pengusaha yang menempati lantai II ikut meratap pilu, begitu pula ratusan pedagang kecil yang menempati area Pasar Gede di bawahnya. Kejadian memilukan itu berlangsung sekitar pukul 03.30 WIB saat bakul-bakul mulai berdatangan. Seorang wanita ikut meratapi bangunan yang “berselimut” api. Tidak hanya lokasi jualannya yang terbakar, tetapi juga jalan-jalan di sekitarnya ikut terdampak.

Mbah Hadi: Ini Firasat Buruk

Kebakaran yang terjadi di Pasar Gede Solo mendapat perhatian dari ahli perhitungan Jawa, sekaligus Kepala Museum Radyapustaka Solo, K.R.H. Darmodipuro (Mbah Hadi), yang menganggapnya sebagai pertanda buruk bagi masyarakat Solo. Ia menyatakan peristiwa ini berkaitan dengan karakteristik hari Jumat Wage yang memiliki sifat aras pepet, dan menambah kekhawatirannya karena Keraton Solo juga pernah mengalami kebakaran pada malam yang sama.

Di sisi lain, Pangageng Parentah Keraton Solo, Drs. G.P.H. Dipokusumo (Mas Dipo), menjelaskan bahwa Pasar Gede atau Pasar Hardjonagoro mengandung nilai filosofis yang dalam sebagai simbol hubungan antara hablumminallah dan habluminannas milik Keraton. Pasar ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992. Oleh sebab itu, pihak Keraton berharap bahwa pembangunan kembali Pasar Gede dapat mempertahankan fitur arsitektur bangunan lama, demi melestarikan identitas dan kebanggaan kota Solo. 

Surat Kabar Solopos. Sabtu, 27 Mei 2000

Pedagang Boyongan ke Lokasi Darurat

Pada 26 Mei 2000, ratusan pedagang Pasar Gede Solo dipindahkan ke pasar darurat di kawasan Plasa Beteng setelah kebakaran yang terjadi pada 28 April 2000. Perpindahan ini diawali dengan acara slup-slupan atau selamatan yang disertai kirab sebagai bentuk doa agar para pedagang tetap memperoleh keselamatan dan kelancaran usaha selama menempati lokasi sementara.

Pemerintah Kota Solo menjadikan pembangunan kembali Pasar Gede sebagai prioritas karena pasar ini merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting. Pasar darurat tersebut menampung sekitar 886 orang yang menggantungkan mata pencahariannya pada aktivitas perdagangan di Pasar Gede.

Peristiwa ini juga mengingatkan pada sejarah tahun 1929–1930, ketika para pedagang Pasar Gede pernah dipindahkan sementara selama proses renovasi pasar. Karena itu, perpindahan pedagang pada tahun 2000 dianggap sebagai pengulangan peristiwa yang pernah terjadi sekitar 70 tahun sebelumnya.

Penulis: Verdiansyah Hernyana Rudra Perkasa, Fatimah Az Zahra, Vania Khoirunnisa Hartono, Daffa Fauzan Alfaridz, Rizky Muhammad Akbar (Program Studi Ilmu Sejarah UNS 2023)

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Berita Kebakaran Pasar Gede dalam Surat Kabar Solopos

Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

Kota Solo secara geografis memang dikelilingi oleh aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan anak sungainya, yakni Kali Pepe. Letak wilayah yang berada di dataran rendah membuat kota ini memiliki kerentanan alami terhadap luapan air sejak masa lampau. Jika melihat perbandingan pada kondisi banjir yang sering terjadi hingga siklus banjir besar, ini bukan merupakan hal baru. Namun peristiwa tahun 1966 tetap menjadi memori yang paling membekas bagi warga yang terdampak. Kondisi alamiah ini kemudian diperparah oleh perubahan tata ruang yang terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan kota yang pesat.

Banjir bandang yang terjadi pada Maret 1966 berada di saat kondisi politik Indonesia sedang berada dalam titik yang sangat krusial. Enam kecamatan di jantung Kota Solo terendam air hingga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat secara total pada waktu itu. Ini makin memperparah situasi Indonesia yang kala itu sedang masif melakukan pembantaian partai komunis, apalagi solo merupakan kawasan yang menjadi basis dari kelompok kiri tersebut.

Meskipun situasi keamanan nasional saat itu belum stabil, naluri kemanusiaan warga justru muncul sebagai kekuatan yang menyatukan mereka. Kerugian materi yang sangat besar tidak menghalangi niat masyarakat untuk saling bahu-membahu demi bertahan hidup di lokasi pengungsian.

Aktivitas warga ketika air merendam seluruh tempat di Pasar Gede Solo

Sumber : Solo Zaman Dulu

Praktik filantropi atau kepedulian sosial yang diwujudkan melalui penggalangan dan penyaluran dana menjadi kunci penting dalam proses penanganan dampak bencana banjir Surakarta kala itu. Berbagai lapisan masyarakat bergerak secara swadaya untuk menyediakan dapur umum serta menyalurkan bantuan pakaian layak pakai bagi para korban. Menurut Tirto, bantuan datang dari berbagai pihak dan daerah mulai dari Jakarta serta bandung yang dipelopori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menggalang dana sebagai bantuan bagi korban banjir Solo.

Tak kalah perhatian, Kompas kala itu juga membuka Dompet Korban Banjir berupa uang dan barang yang berasal dari bantuan pembaca, bantuan ini bisa dikirim melalui wesel pos atau diserahkan secara langsung kepada redaksi. Selain itu menurut surat kabar Berita Yudha, tercatat hasil sumbangan yang berasal dari masyarakat dan memuat nama-nama orang hingga sejumlah uang yang kemudian disumbangkan kepada korban banjir. Solidaritas ini membuktikan bahwa nilai gotong royong tetap mengakar kuat meski negara sedang berada di tengah krisis Perpolitikan yang hebat. Bantuan yang datang bukan sekadar materi, melainkan wujud dukungan moral agar warga yang terdampak mampu bangkit kembali dari keterpurukan.

Hingga saat ini, ketakutan akan banjir yang sama masih menghantui melalui ancaman luapan air pada beberapa titik di Surakarta, terutama di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Pepe. Pakar dan peneliti hingga akademisi menunjukkan identifikasi mereka pada  berbagai jenis kawasan berisiko yang memerlukan penanganan tata ruang lebih serius dan terintegrasi agar bencana serupa tidak terulang. Belajar dari bencana banjir Solo tahun 1966, Pemerintah Kota Solo perlu memberikan titik-titik tersebut untuk meminimalisir banjir yang sama dikemudian hari. 

Peristiwa banjir bandang tahun 1966 di Surakarta merupakan potret nyata bagaimana ketangguhan masyarakat dapat melampaui kondisi politik nasional yang sedang bergejolak. Meskipun ancaman banjir secara geografis tetap menghantui wilayah Kota Solo, solidaritas sosial yang terwujud dalam praktik filantropi mampu menjadi pilar utama dalam pemulihan pascabencana. Sejarah panjang solidaritas ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang bahwa gotong royong adalah modal sosial yang sangat vital dalam menghadapi krisis. Mengingat risiko bencana yang masih terus mengintai di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kali Pepe, narasi sejarah tersebut hendaknya menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat penataan ruang yang lebih terintegrasi.

Memahami sejarah bencana bukan berarti hanya mengenang penderitaan masa lalu, melainkan menjadi landasan penting untuk mitigasi yang lebih baik. Dengan demikian, memori kolektif tentang musibah masa lalu dapat bertransformasi menjadi langkah preventif yang nyata demi masa depan Surakarta yang lebih aman bagi masyarakatnya.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

Tahukah Anda mengenai sejarah panjang Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa tradisional? Kota Solo dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai budaya yang tetap eksis hingga kini. Nilai-nilai tradisi tersebut terus diwariskan melalui kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan sehari-hari. Banyak situs bersejarah terus ada dengan cara beradaptasi mengikuti perubahan zaman agar tetap memiliki makna.

Bangunan bersejarah mendapatkan pembaruan tanpa harus menghilangkan karakter historis yang masih kuat. Transformasi pemanfaatan area juga nampak jelas di sepanjang area bantaran kali Pepe. Walaupun mengalami perkembangan, Kali Pepe masih mempertahankan perannya sebagai saluran air di kota.

Kali Pepe adalah salah satu sungai yang menuju ke Sungai Bengawan Solo yang berada di sebelah utara kota. Aliran sungai ini membentang dari Terminal Gilingan hingga Sangkrah. Dari sudut pandang geografis, Kali Pepe memiliki peranan yang krusial dalam pengaturan ruang Kota Solo.

Namun, kondisi itu kini hanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang telah berlalu. Keindahan Kali Pepe perlahan-lahan semakin memudar seiring dengan perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Kenangan akan kejayaan sungai tersebut masih tersimpan dalam ingatan masyarakat Kota Solo.

Kali Pepe telah berubah menjadi daerah kumuh akibat peningkatan limbah yang terus-menerus. Berbagai jenis sampah dibuang langsung ke dalam sungai sehingga menyebabkan bau yang tidak sedap. Pencemaran ini berasal dari kegiatan rumah tangga dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Banyak permukiman informal dibangun di sepanjang tepi Kali Pepe tanpa adanya pengaturan yang baik.

Memasuki pada awal tahun 1991, pembangunan ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Program ini direncanakan dengan jangka panjang agar hasil yang dicapai lebih baik. Pemerintah melakukan normalisasi aliran sungai dengan cara pengerukan dan pembersihan sampah. Penataan area sekitar sungai juga merupakan elemen penting dalam proses pembangunan ini.

Posisi Kali Pepe yang terletak di tengah kota menjadikannya sebagai tempat utama penampungan limbah. Sungai ini menerima aliran limbah dari berbagai kegiatan rumah tangga dan perkotaan. Besar volume limbah menjadi tantangan yang signifikan dalam pemulihan kondisi sungai. Oleh karenanya, pengelolaan yang terintegrasi antara pemerintah dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.

Kondisi Kali Pepe pada saat itu sangat buruk akibat timbunan lumpur yang melebihi dua meter. Timbunan ini menghalangi aliran air dan secara signifikan memperburuk pencemaran di sungai. Pendangkalan sungai mengurangi kapasitas penampungan air dan bisa berisiko menyebabkan banjir. Pemerintah kemudian merencanakan pembangunan serta perbaikan sebagai langkah utama untuk penanganan.

Biaya proyek ini diperkirakan berada di angka antara dua hingga empat miliar rupiah. Hartomo menyebutkan bahwa anggaran tersebut disusun berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan teknis di lapangan. Awalnya, sumber dana direncanakan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dana tersebut ditujukan untuk pembangunan dan renovasi infrastruktur di sungai.

Namun, dalam pelaksanaannya, anggaran yang ada tidak mencukupi seluruh kebutuhan pekerjaan. Selama dua tahun, dana APBD yang tersedia masih mengalami defisit yang cukup besar. Keterbatasan anggaran menjadi kendala dalam mempercepat proses normalisasi Kali Pepe. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi tambahan untuk mendukung kelangsungan proyek pembangunan.

Memasuki September tahun 1992 pembangunan kali Pepe memasuki tahap akhir mencapai 90 persen. Proyek pembangunan diperkirakan rampung pada Desember mendatang juga berakhirnya normalisasi Kali Pepe. Untuk mengingat proyek ini akan dilakukan pembangunan monumen kali Pepe sebagai tugu peringatan. Monumen kali Pepe terletak di Srambatan dan dilaksanakan oleh gabungan pelaksana kontruksi Kotamadya Surakarta.

kali pepe

Dua perahu wisata membawa pengunjung menyusuri Kali Pepe yang dihiasi ratusan lampion di Solo, Jumat (17/1/2025). (Dok.Solopos)

Sekarang fungsi dari Kali Pepe berubah menjadi tempat wisata dan tempat untuk menghabiskan waktu luang. Kondisi permukiman yang kumuh sekarang menjadi lebih tertata dan rapi tetapi masih bau di beberapa titik. Masyarakat sekarang mulai sadar dengan kondisi di tempat tinggal mereka dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Seperti pada rangkaian acara Grebeg Sudiro tahun 2025 Kali Pepe menghadirkan wisata air Lampion Imlek. Acara yang begitu meriah dan mejadi sumber pendapatan baru bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Tidak hanya itu, banyak spot menarik untuk dikunjungi seperti Cafe dan kuliner yang tersebar.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

Kilas Balik Demonstrasi Mahasiswa di Solo

Demonstrasi mahasiswa yang berlangsung beberapa bulan hingga Mei 2026 berawal dari ketidakpuasan terhadap situasi ekonomi politik di masa pemerintahan Prabowo-Gibran. Mahasiswa dari berbagai kota turun ke jalan. Tak hanya di jantung kota, di daerah juga terjadi hal sama. Sejak 1966, mahasiswa selalu jadi motor untuk menyuarakan perubahan.

Di Solo, demontrasi juga terjadi pada tahun ini. Namun, demonstrasi paling fenomenal di Solo terjadi pada Mei 1998. Tak hanya demo, terjadi bentrok, lalu masyarakat terlibat dalam demonstrasi, yang berujung kerusuhan.

Demonstrasi pada Mei 1998 itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa ini sebenarnya merupakan akumulasi dari berbagai masalah yang sudah berlangsung cukup lama, baik di bidang politik maupun sosial. Selama bertahun-tahun, sistem pemerintahan yang cenderung tertutup membuat masyarakat sulit menyampaikan kritik secara terbuka. Banyak kebijakan berjalan tanpa banyak ruang untuk perbedaan pendapat, sehingga perlahan muncul rasa tidak puas di berbagai kalangan.

Massa berkumpul di jalan di tengah kepulan asap sebagai bentuk protes yang mulai memanas. (Koleksi Solopos Media Group).

Kondisi ini tidak langsung menimbulkan aksi besar, tetapi menjadi latar belakang yang terus berkembang. Ketika masalah-masalah tersebut tidak kunjung terselesaikan, tekanan dalam masyarakat pun semakin terasa. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar munculnya gerakan yang lebih besar di kemudian hari.

Massa berkumpul di jalan di tengah kepulan asap sebagai bentuk protes yang mulai memanas. (Koleksi Solopos Media Group).

Di Solo, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi salah satu penggerak utama aksi pada Mei 1998. Dari kampus Kentingan, mereka mulai mengadakan pertemuan untuk membahas situasi yang sedang terjadi sekaligus menyusun langkah bersama. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi aksi di luar kampus.

Tuntutan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan mundurnya Presiden Soeharto. Mahasiswa juga menyoroti kondisi politik yang dinilai tidak terbuka, serta situasi sosial dan ekonomi yang semakin sulit. Aksi yang mereka lakukan menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mendorong terjadinya Reformasi 1998.

Mahasiswa dari berbagai kampus bergabung dalam aksi, sementara aparat berjaga di depan kampus UMS. (Sumber: Koleksi Solopos Media Group).

Memasuki bulan Mei, demonstrasi di Surakarta semakin meluas. Aksi tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa UNS dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), tetapi juga melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya. Sejumlah kampus yang sebelumnya jarang terlibat aksi mulai ikut bergerak.

Bentuk kegiatan mahasiswa saat itu cukup beragam, mulai dari membawa poster hingga mengadakan mimbar bebas di lingkungan kampus. Melalui kegiatan ini, gerakan mahasiswa mulai terlihat lebih terbuka dan melibatkan lebih banyak peserta.

Mahasiswa turun ke jalan menyampaikan pendapat, dan aksi semakin meluas. (Koleksi Solopos Media Group).

Mahasiswa memanfaatkan mimbar bebas sebagai tempat untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Selain itu, mereka juga sering mengadakan diskusi dan konsolidasi di berbagai area kampus untuk membahas situasi yang sedang terjadi serta menyusun langkah bersama. Kegiatan berkumpul ini sekaligus membantu membangun kebersamaan antar mahasiswa.

Dari proses tersebut, gerakan mahasiswa mulai berjalan lebih terarah. Bentuk kegiatannya pun beragam, seperti membawa poster hingga mengadakan mimbar bebas. Aksi yang awalnya hanya berlangsung di dalam kampus kemudian berkembang menjadi unjuk rasa di luar kampus dengan jumlah peserta yang semakin banyak. Mahasiswa dari berbagai fakultas ikut terlibat, melakukan long march, dan menyampaikan tuntutan secara terbuka.

Ketegangan terjadi saat mahasiswa berhadapan dengan aparat hingga bentrokan, menyebabkan beberapa peserta luka (Koleksi Solopos Media Group).

Pada awalnya, aksi mahasiswa berjalan tertib dan damai. Namun, seiring waktu, situasi menjadi semakin tegang hingga terjadi bentrokan dengan aparat. Dalam kejadian ini, puluhan hingga ratusan mahasiswa mengalami luka akibat peluru karet, pemukulan, dan gas air mata.

Perubahan ini terlihat jelas pada 8 Mei 1998 di kampus Universitas Sebelas Maret, ketika aksi besar melibatkan ribuan mahasiswa dan berlangsung selama beberapa jam. Banyak peserta aksi terluka dan sebagian harus dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini kemudian mendapat perhatian lebih luas, dan perwakilan mahasiswa membawanya ke tingkat nasional untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Kilas Balik Demonstrasi Mahasiswa di Solo

Mengenang Tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Pagi itu, pada tanggal 29 Mei 2006, suasana di kawasan Porong, Sidoarjo, mendadak berubah. Dari area pengeboran Sumur Banjarpanji-1 milik PT Lapindo Brantas, lumpur panas bercampur gas mulai menyembur ke permukaan. Semburan muncul di area persawahan yang berada tidak jauh dari pemukiman warga. Pada awalnya, masyarakat mengira kejadian tersebut hanyalah kebocoran biasa. Namun seiring waktu, lumpur terus keluar tanpa henti dan semakin meluas ke berbagai arah.

Warga Desa Siring menjadi salah satu kelompok pertama yang merasakan dampaknya. Sejak pagi hari, bau gas menyengat mulai tercium di sekitar permukiman. Lumpur panas dengan suhu mencapai sekitar 60 derajat Celcius terus menyembur dari dalam tanah. Situasi itu membuat masyarakat panik. Dua warga dilaporkan mengalami keracunan akibat menghirup gas hidrogen sulfida, sementara kegiatan belajar di sekolah sekitar lokasi sempat dihentikan selama dua hari demi alasan keselamatan.

Di tengah kepanikan warga, semburan lumpur justru semakin membesar. Permukiman, jalan, hingga lahan pertanian perlahan mulai tergenang. Lumpur yang keluar dari dalam tanah tidak dapat dihentikan dan terus meluas dari hari ke hari. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Tanah kehidupan yang berubah menjadi lautan lumpur panas. (Mongabay.co.id “Riset Sebut Lumpur Lapindo Sumbang Emisi Gas Metan Terbesar”)

Hingga bertahun-tahun setelah kejadian, penyebab utama semburan Lumpur Lapindo masih menjadi perdebatan. Sejumlah pihak menilai bencana itu dipicu oleh kesalahan teknis dalam proses pengeboran gas. Ketika pengeboran mencapai kedalaman lebih dari 2.700 meter, bor disebut mengalami gangguan dan tekanan gas dari bawah tanah tidak dapat dikendalikan. Tekanan tersebut diduga mencari celah keluar hingga akhirnya menyembur ke permukaan bersama lumpur panas.

Dalam sejumlah laporan, pihak rekanan proyek disebut pernah mengingatkan pentingnya pemasangan casing atau pipa pelindung sumur sebagai standar keselamatan pengeboran. Namun saat proses pengeboran berlangsung, casing pada kedalaman tertentu disebut belum terpasang. Kondisi itulah yang kemudian dianggap menjadi salah satu penyebab munculnya semburan lumpur. Di sisi lain, pihak Lapindo Brantas menyatakan kondisi geologi di lokasi pengeboran sulit diprediksi sehingga pengeboran tetap dilakukan.

Seiring berjalannya waktu, lumpur terus meluas dan menenggelamkan ribuan rumah, sekolah, tempat ibadah, jalan raya, serta lahan pertanian. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harus meninggalkan kampung halaman mereka. Kawasan yang dahulu dipenuhi permukiman kini berubah menjadi hamparan lumpur luas yang dibatasi tanggul-tanggul besar untuk menahan luapan lumpur yang masih keluar hingga sekarang.

Permukiman warga di Porong, Sidoarjo, tenggelam akibat semburan Lumpur Lapindo sejak 29 Mei 2006 (Wikipedia.org “Banjir lumpur panas Sidoarjo”)

Rumah-rumah warga di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, mulai terendam lumpur panas yang menyembur dari sekitar lokasi pengeboran Sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas pada 29 Mei 2006. Dalam waktu singkat, lumpur meluas hingga menggenangi permukiman, sawah, jalan raya, dan fasilitas umum di sekitar lokasi.

Foto ini memperlihatkan kondisi permukiman warga yang perlahan tenggelam akibat luapan lumpur panas. Atap-atap rumah yang masih terlihat menjadi saksi bagaimana desa-desa di Porong berubah menjadi kawasan lumpur luas. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi karena semburan lumpur terus membesar dan sulit dihentikan.

Bencana Semburan Lumpur Lapindo kemudian meluas hingga berdampak pada tiga kecamatan, yakni Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Lumpur panas menenggelamkan sedikitnya 12 desa dengan luas terdampak mencapai sekitar 600 hektare. Ribuan rumah, sekolah, tempat ibadah, pabrik, dan lahan pertanian ikut rusak akibat genangan lumpur yang terus meluas.

Lebih dari 11 ribu bangunan dilaporkan rusak dan sekitar 362 hektare sawah tidak lagi dapat digunakan. Puluhan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan hidup di pengungsian. Hingga kini, lumpur panas dengan suhu sekitar 70–85 derajat Celsius masih terus keluar dari pusat semburan. Untuk mencegah luapan yang lebih besar, sebagian lumpur dialirkan menuju Sungai Porong. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia modern karena dampaknya yang berlangsung sangat panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di Sidoarjo, Jawa Timur.

Citra satelit Porong, Sidoarjo, memperlihatkan perubahan wilayah sebelum dan sesudah bencana Lumpur Lapindo 2006. (Wikipedia.org “Banjir lumpur panas Sidoarjo”)

Citra satelit Porong, Sidoarjo, memperlihatkan perubahan besar wilayah sebelum dan sesudah terjadinya bencana Lumpur Lapindo pada 2006. Pada gambar sebelum bencana, kawasan tersebut masih dipenuhi lahan pertanian, tambak, permukiman warga, serta jalan tol Porong–Gempol yang membelah wilayah itu. Aktivitas masyarakat saat itu masih berjalan normal dengan sawah dan desa-desa yang menjadi pusat kehidupan warga.

Namun kondisi tersebut berubah drastis setelah semburan lumpur panas muncul pada 29 Mei 2006 di sekitar area pengeboran migas. Lumpur yang keluar dari dalam tanah terus meluas dan menenggelamkan kawasan di sekitarnya. Dalam citra sesudah bencana, terlihat area gelap luas yang menunjukkan genangan lumpur telah menutupi permukiman, lahan pertanian, hingga mendekati jalan tol. 

Tanggul-tanggul besar juga tampak dibangun untuk menahan aliran lumpur agar tidak semakin meluas ke wilayah lain. Infrastruktur penting seperti ruas Tol Porong–Gempol juga sempat terputus akibat genangan lumpur yang menutupi kawasan tersebut.

Bencana ini menyebabkan ribuan warga kehilangan rumah dan terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka. Desa-desa yang sebelumnya ramai perlahan hilang tertutup lumpur panas. Infrastruktur penting seperti jalan, sekolah, tempat ibadah, dan area pertanian ikut rusak akibat genangan lumpur yang terus keluar selama bertahun-tahun.

Melalui citra satelit tersebut, perubahan wilayah Porong terlihat sangat jelas. Kawasan yang dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat berubah menjadi hamparan lumpur luas. Peristiwa Lumpur Lapindo tidak hanya meninggalkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi simbol hilangnya ruang hidup masyarakat akibat salah satu bencana terbesar di Indonesia modern.

Monumen Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, menjadi pengingat tentang kampungkampung yang hilang akibat semburan lumpur panas. (jatimnow.com “Mengenang 5 Desa di Sidoarjo yang Hilang Terdampak Bencana Lumpur Lapindo)

Monumen sederhana itu berdiri di kawasan bekas terdampak Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Tulisan-tulisan pada batu monumen menggambarkan kekecewaan dan kesedihan warga yang kehilangan kampung halaman akibat semburan lumpur panas yang muncul sejak 29 Mei 2006. Kalimat seperti “Lumpur Lapindo telah mengubur kampung kami” dan “Suara kami tak pernah padam” menjadi simbol penderitaan masyarakat yang harus meninggalkan rumah dan kehidupan mereka.

Bagi warga terdampak, monumen tersebut bukan sekadar penanda lokasi bencana, tetapi juga bentuk peringatan agar tragedi Lumpur Lapindo tidak dilupakan. Ribuan rumah, sawah, tempat ibadah, dan fasilitas umum tenggelam akibat lumpur yang terus meluas selama bertahun-tahun. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan terpaksa memulai hidup baru di tempat lain setelah desa mereka tidak lagi dapat dihuni.

Tulisan pada monumen juga menyinggung lambatnya proses pemulihan kehidupan warga setelah bencana terjadi. Hingga kini, Lumpur Lapindo masih dikenang sebagai salah satu tragedi lingkungan terbesar di Indonesia yang meninggalkan dampak sosial, ekonomi, dan psikologis bagi masyarakat Sidoarjo.

Patung yang setengah tenggelam menjadi simbol luka panjang bencana Lumpur Lapindo yang hingga kini membekas di Porong, Sidoarjo. (x.com)

Hari Anti Tambang diperingati setiap 29 Mei untuk mengenang tragedi Lumpur Lapindo tahun 2006 yang menyebabkan kerusakan lingkungan besar dan membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Peringatan ini menjadi simbol penolakan terhadap dampak buruk industri pertambangan dan ekstraktivisme di Indonesia.

Saat ini, wilayah tambang di Indonesia terus meluas hingga lebih dari 97 juta hektar, bahkan pemerintah berencana membuka jutaan hektar tambahan untuk pertambangan mineral. Kondisi ini dinilai mengancam lingkungan, ruang hidup masyarakat adat dan warga lokal, serta memicu kriminalisasi terhadap warga yang menolak tambang.

Melalui Hari Anti Tambang, masyarakat diajak melawan kerusakan lingkungan, mendukung keadilan ekologis, melindungi masyarakat adat, dan menolak kebijakan yang merugikan rakyat serta alam.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Mengenang Tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Eksistensi Makam Soekarno terhadap Perkembangan Kota Blitar Tahun 1990 – 2004

Pada periode 1990-an, Makam Bung Karno telah menjadi ikon wisata ziarah kebangsaan di Blitar. Makam ini menarik banyak peziarah dari berbagai penjuru Indonesia, baik untuk mengenang Soekarno maupun untuk melakukan tradisi ziarah yang bersifat religius dan budaya.

Pembangunan makam ini, yang diresmikan pada 21 Juni 1979, memiliki unsur kepentingan politik dari rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Makam ini dibangun tidak hanya untuk menghormati Soekarno, tetapi juga sebagai upaya untuk menciptakan simbol baru berideologi Pancasila guna melawan pengaruh simbol-simbol Orde Lama yang terkait dengan Soekarno.

Tradisi ziarah di makam ini melibatkan kegiatan seperti menaburkan bunga (kembang telon, seperti mawar, melati, dan kantil) sebagai bentuk penghormatan, yang mencerminkan nilai-nilai budaya Jawa dan Islam. Selain itu, makam ini menjadi tempat reuni bagi para pengagum Soekarno, di mana mereka berkumpul untuk mengenang perjuangan dan pemikirannya. Makam ini juga digunakan sebagai alat politik untuk mengurangi pengaruh Soekarno di panggung politik nasional sambil menciptakan citra positif bagi pemerintah Orde Baru di mata masyarakat. Meskipun demikian, makam ini tetap menjadi simbol kebesaran Soekarno sebagai “Bapak Rakyat Indonesia” yang tidak pernah jatuh di hati rakyat.

Pada periode pasca-1998, ketika Orde Baru berakhir, Makam Bung Karno semakin diperkuat sebagai destinasi wisata sejarah dan kebangsaan. Makam Bung Karno telah menjadi ikon wisata Kota Blitar, menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemerintah Kota Blitar, melalui kebijakan otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan perbaikan berikutnya (UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 12 Tahun 2008), berupaya mengembangkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah, dengan Makam Bung Karno sebagai pionir pengembangan obyek wisata di kota ini.

Pada awal 2000-an, Pemerintah Kota Blitar mulai merencanakan pengembangan kawasan permukiman pendukung wisata di sekitar Makam Bung Karno, khususnya di Kelurahan Sentul dan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul. Makam Bung Karno menjadi media pembelajaran sejarah dan nasionalisme, yang diperkuat oleh keberadaan fasilitas pendukung seperti museum dan perpustakaan dikawasan tersebut. Museum Bung Karno menyimpan peninggalan bersejarah seperti kemeja putih, koper, dan lukisan unik yang menggambarkan Soekarno dengan efek visual jantungan yang berdetak, memberikan pengalaman yang mendalam bagi pengunjung untuk merasakan kehadiran Soekarno secara simbolis.

Kunjungan ke Makam Bung Karno di Blitar merupakan wujud penghormatan terhadap jasa Ir. Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan, memperkuat dimensi emosional melalui kaitan pribadinya dengan Blitar.

Makam ini didukung Museum dan Perpustakaan Bung Karno, menjadikan media pembelajaran sejarah dan nasionalisme, membangkitkan cinta tanah air, terutama bagi generasi muda yang kurang memahami tanggung jawab kolektif terhadap bangsa.

Keberadaan destinasi wisata seperti Makam Bung Karno telah menciptakan dinamika hubungan sosial yang lebih hidup dan beragam di kalangan masyarakat lokal. Interaksi antara warga setempat dengan para wisatawan yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang budaya telah membuka ruang sosial yang lebih inklusif dan dinamis. Setiap kedatangan wisatawan tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga memperkaya pengalaman sosial masyarakat melalui pertukaran cerita, tradisi, dan perspektif baru.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi yang berkembang di sekitar kawasan wisata turut memperkuat jaringan sosial masyarakat. Berbagai usaha seperti penjualan suvenir khas daerah, kuliner lokal, jasa parkir, dan pemandu wisata tidak sekadar meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga memperluas interaksi sosial mereka. Peningkatan jumlah pengunjung di kawasan Makam Bung Karno membawakonsekuensi serius terhadap lingkungan dan harmoni sosial masyarakat setempat. Setiap akhir pekan dan hari libur, ratusan bahkan ribuan wisatawan memadati areatersebut, menimbulkan masalah sampah yang semakin mengkhawatirkan.

Limbah plastik dari kemasan makanan dan minuman, serta sampah lainnya sering kali tidak terkelola dengan baik akibat minimnya fasilitas pembuangan dan kesadaran pengunjung. Tingginya intensitas kunjungan juga berpotensi menyebabkan kerusakan fisik pada situs budaya. Untuk mendukung keberlanjutan pariwisata di kawasan Makam Bung Karno, pelatihan kewirausahaan menjadi salah satu solusi penting dalam meningkatkan kompetensi masyarakat. Program pelatihan ini dirancang untuk mengajarkan strategi pemasaran digital, seperti pemanfaatan media sosial. Pelaku usaha juga dibekali dengan pengetahuan tentang pengelolaan bisnis yang berkelanjutan, termasuk manajemen keuangan, pelayanan prima, dan penerapan prinsip-prinsip ekonomi hijau.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu menarik lebih banyak wisatawan tetapi juga dapat mengelola usahanya secara lebih profesional dan ramah lingkungan. Pada periode 1990 hingga 2004, Makam Bung Karno tidak hanya berfungsi sebagai tempat ziarah untuk mengenang perjuangan Soekarno. Tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang memperkuat identitas Kota Blitar sebagai “Kota Patria”.

Sebagai ikon pariwisata Blitar, makam ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui aktivitas perdagangan dan jasa, sekaligus melestarikan budaya Jawa melalui acara seperti Grebeg Pancasila. Meskipun pada awalnya pembangunan makam ini terkait dengan kepentingan politik Orde Baru. Fokus pengembangan beralih ke peningkatan daya saing pariwisata melalui perencanaan strategis dan kolaborasi dengan masyarakat lokal.

Makam Bung Karno terusmenjadi simbol nasionalisme dan kebanggaan warga Blitar sekaligus mendukung ekonomi daerah melalui pariwisata budaya dan sejarah.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Eksistensi Makam Soekarno terhadap Perkembangan Kota Blitar Tahun 1990 – 2004

Gempa 2006: Kerusakan Lingkungan dan Bangunan Bersejarah Di Yogyakarta

Pada 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.54 WIB, gempa bumi berkekuatan 6,4 Mw terjadi di wilayah Bantul, Yogyakarta, Sleman, hingga Klaten. Guncangan berlangsung kurang lebih satu menit dengan pusat gempa berada sekitar 25 kilometer di tenggara Yogyakarta pada kedalaman sekitar 17 kilometer. Setelah gempa utama, masih terjadi ratusan gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai 5,2 Mw.

Gempa ini terjadi akibat pergerakan Sesar Opak yang membentang dari kawasan Parangtritis hingga bagian timur Yogyakarta. Pergerakan sesar tersebut dipengaruhi aktivitas Lempeng Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.

Kondisi Panggung Krapyak (Kandang Menjangan) pasca gempa, tampak pintu masuk dari sisi barat ditutup dengan bambu dan reruntuhan bangunan masih berserakan di pinggir bangunan. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)

Setelah gempa terjadi, kondisi Yogyakarta dan wilayah sekitarnya mengalami kerusakan di berbagai tempat. Banyak rumah warga, fasilitas umum, dan bangunan lama terdampak akibat guncangan yang cukup kuat. Sejumlah bangunan mengalami retak pada dinding, roboh sebagian, hingga rusak berat sehingga tidak bisa digunakan kembali. Kerusakan ini tidak hanya terjadi di kawasan permukiman, tetapi juga di pusat kota dan daerah yang memiliki banyak bangunan berusia tua.

Besarnya kerusakan dipengaruhi kondisi bangunan yang sebagian besar belum dirancang tahan gempa. Banyak bangunan lama masih menggunakan material dan konstruksi tradisional sehingga lebih mudah rusak ketika terjadi guncangan kuat. Selain itu, kawasan budaya dan peninggalan sejarah di Yogyakarta juga ikut terdampak, seperti rumah tradisional, bangunan cagar budaya, dan beberapa situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Kondisi rumah warga yang hancur akibat gempa, dan Petugas kesehatan memberikan pengobatan kepada warga di tenda darurat di Kaligatuk, Srimulyo, Piyungan, Bantul. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)

Di Bantul, banyak rumah warga ambruk dalam waktu singkat setelah gempa terjadi. Genteng dan dinding bata berserakan di jalan kampung, sementara warga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Setelah gempa mereda, banyak keluarga bertahan di lapangan, halaman rumah, dan tenda darurat karena takut gempa susulan datang kembali.

Pada hari-hari awal, warga kesulitan mencari anggota keluarga, air bersih, dan bantuan yang belum merata. Di tengah kondisi itu, muncul banyak cerita tentang warga yang saling membantu. Ada yang mengevakuasi tetangga dari reruntuhan rumah, ada pula yang berbagi makanan dan tempat berteduh dengan keluarga lain yang kehilangan rumahnya.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Gempa 2006: Kerusakan Lingkungan dan Bangunan Bersejarah Di Yogyakarta

Aspirasi dan Tuntutan: Mengenang Demonstrasi Mahasiswa UMS 1998

Reformasi menjadi pembahasan utama yang banyak dibicarakan di seluruh penjuru negeri. Topik ini tidak terjadi begitu saja, salah satunya dikarenakan terjadinya krisis tahun 1998 yang membuat Indonesia di ambang kehancuran ekonomi. Hingga suara itu bergema di semua kalangan demi menyuarakan hak dan keadilan dalam menuntut pemerintah Orde Baru.

Krisis moneter 1998 merembet menjadi krisis politik, krisis hukum, hingga krisis kepercayaan yang menjadi aspek utama alasan terjadinya demonstrasi. Isi dari tuntuntan mahasiswa kepada Rezim Orde Baru adalah perubahan total terhadap segala aspek baik sistem ekonomi, politik, sosial, dan pemerintahan. Masyarakat mulai menuntut Soeharto untuk turun dari jabatan presiden yang sudah memimpin rezim selama 32 tahun. Tuntutan ini yang kemudian disebut sebagai Gerakan Reformasi.

Demonstrasi sebelumnya terjadi pada Maret didukung oleh pihak kampus salah satunya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor UMS waktu itu, Drs. H. Dochak Latief memimpin langsung demonstrasi bersama 5000 mahasiswa serta belasan dosen lainnya. Tak hanya mahasiswa dan dosen, banyak aktivis dan politikus yang turun langsung ke UMS untuk menuntut Reformasi. Namun, ketika tuntutan berlarut-larut tidak terselesaikan, demonstrasi kembali pecah hingga berubah menjadi bentrokan. Dukungan dari berbagai elemen mulai dari pelajar dan masyarakat makin memperkeruh suasana demonstrasi.

Demonstrasi sempat terjadi perundingan antara pihak SMPTA dan Aparat TNI yang ada disana. Hingga akhirnya demonstrasi berubah menjadi medan pertempuran antara rakyat dan polisi antihuru-hara (PHH) yang diutus langsung oleh rezim agar dapat meredakan bahkan membubarkan demonstrasi. Kendati demikian, rakyat tidak takut dan malah bersatu dan melawan aparat yang diterjunkan. Aparat pun juga tidak tinggal diam, mereka juga melakukan penahanan pada sejumlah massa yang melempari mereka dengan batu.

Dalam aksi bentrok tersebut sebanyak 63 mahasiswa dan 40 polisi cedera, di antaranya  52  mahasiswa terkena gas air mata, 11 mahasiswa perlu dijahit karena terkena lemparan batu, 2 diantaranya dilarikan ke RS Islam Surakarta. Puncak dari bentrok tanggal 14-16 Mei, dimana Komandan Korem 074/Warastratama yang dipimpin, Kolonel Infranteri Sriyanto memberikan peringatan keras untuk menembak mati di tempat. Selain itu ia meminta kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah diatas pukul 22.00 WIB, bila tidak memiliki keperluan lain.

 

Ditulis pada Your Voice | Tag , , | Komentar Dinonaktifkan pada Aspirasi dan Tuntutan: Mengenang Demonstrasi Mahasiswa UMS 1998

Menangisi Venesia dari Timur: Transformasi Identitas Kota Air Palembang Pada Masa Kolonial (1825–1942)

Palembang hari ini terasa sangat pengap karena dipenuhi oleh hamparan aspal beton. Kita seolah lupa bahwa dahulu kota ini adalah pusat peradaban air dunia. Sungai Musi bukan sekadar pemandangan melainkan urat nadi utama bagi seluruh warga. Namun identitas kota sungai tersebut perlahan mulai pudar ditelan oleh modernitas zaman.

Perubahan besar ini bermula ketika kolonial Belanda mulai menguasai wilayah kedaulatan Palembang. Tahun 1825 menjadi awal dari runtuhnya kekuasaan mandiri dari Kesultanan Palembang. Pemerintah kolonial ingin mengubah wajah kota agar sesuai dengan visi birokrasi mereka. Mereka mulai memaksa orientasi kehidupan warga untuk segera berpindah menuju ke daratan. Sejak saat itu pembangunan fisik mulai dipaksa untuk menjauhi tepian sungai Musi.

Pembangunan jalan raya memang dianggap sebagai lambang kemajuan dan juga kontrol birokrasi kolonial, namun justru menjadi titik kerusakan tata ruang tradisional Kota Palembang. Rawa yang dahulu menjadi paru-paru kota mulai diuruk tanpa sisa. Jembatan dan aspal dibangun diatas jalur-jalur transportasi air tradisional milik masyarakat Kota Palembang. Perahu-perahu kecil kini mulai kehilangan ruang untuk bersandar di tepian sungai Musi.

Warga lokal perlahan mulai terpinggirkan dari pusat perputaran ekonomi kota. Perahu tradisional kalah bersaing dengan kapal uap besar yang bersandar di dermaga beton. Kemandirian ekonomi masyarakat sungai mulai tergerus oleh kekuatan modal asing. Justru masyarakat Kota Palembang dipaksa menjadi buruh di atas tanah yang dahulu mereka kelola sendiri. Bahkan masyarakat Kota Palembang harus menampung kerusakan lingkungan yang sudah dilakukan kolonial atas nama modernitas.

Kehilangan ini bukan hanya soal hilangnya rumah rakit yang sangat indah dipandang. Kita kehilangan cara berpikir yang menghargai keseimbangan antara manusia dan alam sekitar. Modernitas yang dibawa oleh kolonial menyisakan luka ekologi yang sangat dalam bagi kota. Banjir yang sering melanda kini menjadi pengingat atas kesalahan besar masa lalu.

Suara-suara dari masa lalu seolah memanggil kita dari dasar sungai Musi terdalam. Mereka mengingatkan kita tentang harmoni yang pernah terjalin erat antara manusia dan air. Kita harus berani meninjau ulang konsep pembangunan kota yang sedang kita jalankan. Jangan sampai identitas kita benar-benar terkubur di bawah lapisan aspal yang panas dibawah modernitas yang menggersangkan jiwa-jiwa kita.

Ditulis pada Your Voice | Tag , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Menangisi Venesia dari Timur: Transformasi Identitas Kota Air Palembang Pada Masa Kolonial (1825–1942)

Warisan Kolonial yang Masih Terasa di Kota Solo

Kota Solo tidak hanya dikenal sebagai kota budaya Jawa. Di balik wajah kotanya hari ini, masih tersimpan jejak panjang masa kolonial yang ikut membentuk perkembangan Solo sejak awal abad ke-20. Pengaruh itu terlihat dari bangunan lama, tata kota, hingga kehidupan sosial masyarakatnya.

Pada masa kolonial, Solo berkembang sebagai pusat pemerintahan Kasunanan sekaligus kota administrasi yang dipengaruhi Belanda. Dari situ muncul perpaduan budaya Jawa dan Eropa yang kemudian melahirkan gaya Indis. Gaya ini tampak pada berbagai bangunan lama yang masih berdiri sampai sekarang, seperti Bank Indonesia Surakarta, Pasar Gede Hardjonagoro, Gedung Djoeang 45, hingga kawasan Villapark. Bangunan-bangunan tersebut umumnya memiliki atap tinggi, deretan kolom besar, serta bentuk yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Pasar Gede Hardjonagoro, warisan kolonial di Kota Solo.(Sumber: Solopos Espos Id)

 

Perkembangan kota juga didukung hadirnya berbagai fasilitas modern pada masa itu. Jalur kereta api, trem, listrik, sekolah, hingga tempat hiburan seperti Taman Sriwedari membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah. Kehadiran transportasi ikut memperkuat posisi Solo sebagai kota perdagangan yang terhubung dengan daerah lain seperti Yogyakarta dan Semarang.

Di saat yang sama, Solo tumbuh menjadi kota dengan masyarakat yang beragam. Selain masyarakat Jawa, ada pula komunitas Eropa dan Tionghoa yang menetap dan beraktivitas di kota ini. Kawasan kota pun terbagi berdasarkan fungsi dan kelompok masyarakatnya. Area keraton tetap menjadi pusat budaya Jawa, sementara kawasan loji berkembang dengan pengaruh Barat yang lebih kuat. Adapun komunitas Tionghoa banyak berkembang di sekitar pusat perdagangan seperti Pasar Gede.

Pembagian kawasan itu menunjukkan bagaimana kehidupan sosial pada masa kolonial berjalan. Sistem pendidikan Barat mulai diperkenalkan, meski awalnya hanya bisa diakses kelompok tertentu. Dari situ, pola pikir masyarakat perlahan berubah, terutama dalam bidang administrasi, pendidikan, dan ekonomi. Meski begitu, budaya lokal tidak sepenuhnya hilang. Tradisi Jawa tetap bertahan dan berjalan berdampingan dengan pengaruh Barat.

Sampai sekarang, jejak kolonial masih terasa dalam wajah Kota Solo. Salah satu contohnya terlihat di kawasan Loji Wetan yang memperlihatkan perpaduan budaya Jawa, kolonial, dan Tionghoa dalam satu ruang kota. Warisan itu bukan hanya soal bangunan tua, tetapi juga bagian dari sejarah panjang yang membentuk identitas Solo hari ini.

Karena itu, pelestarian bangunan cagar budaya menjadi penting. Bangunan-bangunan lama bukan sekadar tempat wisata atau latar foto, melainkan penanda perjalanan kota dari masa ke masa. Dari jejak kolonial tersebut, Solo menunjukkan bahwa sejarah tidak benar-benar hilang, tetapi tetap hidup dan terasa dalam kehidupan kota sampai sekarang.

 

Referensi

A.   Surat Kabar

Kedaulatan Rakyat, Rabu, 25 Maret 1992.

B.   Artikel

Friska Candra Dewi, Ufi Saraswati, dan Abdul Muntholib, “Perkembangan Arsitektur pada Masa Kolonial di Surakarta Tahun 1900-1942: Tinjauan Politik, Sosial dan Pendidikan”, Journal of Indonesian History, Vol. 8, No. 2 (2019).

Kusumastuti, “Pengaruh Budaya Dalam Pembentukan Ruang Kota Sala Sejak Perpindahan Kraton Sampai Dengan Peletakan Motif Dasar Kolonial”, Region: Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, Vol. 1, No. 1, (2016).

C.   Sumber Online

“Kawasan Permukiman Kolonial “Villa Park Banjarsari” di Kota Solo”, https://hima.fib.ugm.ac.id/kawasan-permukiman-kolonial-villa-park-banjarsari-di-kota-solo/, Jumat, 4 Oktober 2024.

 

 

 

Ditulis pada Youth Perspective | Tag , , , , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Warisan Kolonial yang Masih Terasa di Kota Solo

Urban Farming Mojosongo: Dari Pekarangan Sempit, Warga Bangun Ketahanan Pangan

Urban farming Mojosongo (Dok. UNS)

Penulis: Diah Eka dan Erlina Dian

Warga Kampung Ngemplak Sutan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, memanfaatkan pekarangan sempit di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran guna memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.

Kegiatan urban farming di desa ini berawal dari relokasi warga terdampak banjir Bengawan Solo ke kawasan Mojosongo. Masyarakat di sini harus beradaptasi dengan lingkungan baru di tengah kehidupan perkotaan yang diwarnai tekanan pertumbuhan penduduk, keterbatasan ruang, dan ketimpangan akses terhadap kebutuhan hidup.

Kondisi ini kemudian mendorong hadirnya program pelatihan dari Rumah Zakat pada tahun 2013 melalui pembinaan pemanfaatan lahan pekarangan sempit, yang perlahan berkembang menjadi praktik urban farming Kampung Ngemplak Sutan, Mojosongo.

Urban farming (Dok. UNS)

Urban farming (Dok. UNS)

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), Kusrini, menyatakan tanaman yang dibudidayakan umumnya merupakan sayuran yang mudah dirawat dan cepat panen, sehingga dapat langsung dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan mereka.

“Tanaman seperti sawi dan bayam itu, bisa dipanen dalam waktu cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, kegiatan ini juga berdampak pada pengurangan pengeluaran ekonomi dalam rumah tangga. Salah satu warga, Mariyo, mengaku tidak lagi bergantung pada pasar untuk beberapa kebutuhan sayur.

“Sejak menanam sendiri, kebutuhan seperti cabai bisa dipenuhi dari pekarangan,” katanya.

Di sisi lain, keberadaan tanaman di lingkungan permukiman padat turut memberikan manfaat ekologis, seperti menurunkan suhu udara dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau. Warga juga memanfaatkan limbah dapur sebagai pupuk kompos untuk mendukung pertanian organik sekaligus mengurangi sampah rumah tangga.

Urban farming di Kampung Ngemplak Sutan kini dikenal sebagai identitas kolektif sebagai Kampung Sayur Mojosongo. Praktik urban farming ini menjadi contoh bagaimana pemanfaatan pekarangan sempit dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Ditulis pada Green Vibe | Komentar Dinonaktifkan pada Urban Farming Mojosongo: Dari Pekarangan Sempit, Warga Bangun Ketahanan Pangan