Soloensis

Aku dan Solopos: Dari Pembaca ke Polemik Mahasiswa

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Oleh Mutimmatun Nadhifah

Pertarungan intelektualitas mahasiswa di Indonesia bisa dimulai dan dilihat dari pertarungan gagasan yang tersebar di koran. Tentu hal ini berbeda dengan pertarungan gagasan yang ada di luar negeri seperti yang pernah ditulis oleh Ariel Heryanto (2004: 30-32) dalam Bukuku Kakiku, bahwa intelektual di perguruan tinggi baik mahasiswa ataupun dosen dipaksa layaknya buruh pabrik untuk melakukan penelitian jangka panjang untuk kemudian diterbitkan menjadi buku atau diterbitkan dalam jurnal Internasional. Di Indonesia, kita bisa bermula dan mengingat dari tokoh Soe Hok Gie dengan judul bukunya yang terus cetak ulang berjudul Catatan Seorang Demonstran.

Dari catatan harian Gie kita bisa mengetahui pergulatan gagasan dan kemelut seorang mahasiswa terus bermunculan melalui koran. Beberapa catatan Soe Hok Gie pantas kita ajukan bahwa Gie adalah pembaca dan sekaligus penulis di koran. Dalam catatannya tertanggal Rabu 28 Agustus 1968 (2008: 174) Gie menulis, “sekarang saya harus memikirkan secara serius apakah saya mau atau tidak segera ke luar negeri. Sore saya bertemu dengan Ir. Ryandi. Kelihatannya ia lelah tapi berseri-seri. Ia akan segera ke Amerika Serikat untuk Ph. D bersama keluarganya. Dari sana saya ke Ben Anderson. Kita bicarakan antara lain soal kemarahan orang-orang PSI karena karangan saya di Kompas dan di Sinar Harapan.”

Tulisan Soe Hok Gie yang sudah berwujud buku termasuk catatan hariannya memberi pengaruh kuat dalam kedekatanku dengan koran termasuk Solopos karena Gie tidak hanya menjadi wartawan seperti Ahmad Wahib. Gagasan dan etos intelektualitas Gie melampaui statusnya sebagai mahasiswa. Aku pikir, terdaftar secara administratif di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta menjadi kurang saat hari terlewati tanpa koran apalagi saat ada seorang teman yang memberi tahuku bahwa di Solopos ada rubrik yang disediakan untuk kalangan mahasiswa: Mimbar Mahasiswa yang terbit setiap hari Selasa. Rubrik ini menjadi incaranku pada semester pertama tahun 2012 lalu sehingga saat Selasa itu tiba, sering aku lihat pertama kali rubrik Mimbar Mahasiswa sebelum melihat rubrik Gagasan.

Sebagai mahasiswa baru asal Madura, aku hanya membaca koran di perpustakaan pusat IAIN Surakarta tepatnya di lantai dua. Namun, aku pikir, menjadi pembaca tanpa mengetahui kios koran di sekitar Kartasura akan menjadi laku sembrono dan ganjil dalam caraku sinau. Perkenalan itu aku lakukan agar aku mempunyai identitas sebagai pembeli sekaligus penghutang koran. Perkenalan dengan ibu dan bapak penjual koran menjadi cerita yang melengkapi kebahagiaan dalam sinau. Aku masih ingat saat tulisanku dimuat pertama di Mimbar Mahasiswa berjudul Buku dan Perempuan (Solopos, 23 April 2013). Tulisan itu muncul usai aku menghutang-membaca beberapa buku yang menarasikan intelektualitas perempuan pada zaman revolusi diantaranya adalah buku Dewi Sartika (1985) yang ditulis oleh Rochiati Wiriaatmadja, Maria Ullfah Subadio Pembela Kaumnya (1985) yang disusun oleh Gadis Rasid, Siti Soendari (2008) yang ditulis oleh Santo Koesoebjono dan Solita Koesoebjono-Sarwono. Buku-buku yang hadir pada tahun 80-an aku tafsirkan untuk memaknai kehidupan perempuan di masa sekarang. Karena tulisan itu sengaja dikirim untuk memperingati Hari Kartini, aku sedikit bermain tafsir tentang masyarakat yang menjadikan Kartini hanya sebagai simbol keperempuanan secara ragawi bukan secara gagasan yang diklarifikasi dan diperdebatkan. Bagiku, tulisan pertama yang dimuat tentu sangat berkesan karena setengah tahun lebih aku menjadi pembaca koran Solopos terlebih dahulu, sebelum akhirnya aku menjadi penulis meski kemudian kalah dengan kesan yang akhir-akhir ini aku rasakan saat tulisanku tidak hanya dibaca, tapi ditolak dan menjadi polemik panjang di Mimbar Mahasiswa. Beberapa tulisan yang pernah menjadi polemik di Mimbar Mahasiswa berjudul Ironi Mahasiswa Berorganisasi (Solopos, 11 Juni 2013), Tak Ada PKI di Perpustakaan (Solopos, 01 Oktober 2013), Paradoks KKN Transformatif (Solopos, 27 Oktober 2015), dan Mahasiswa, Motor, Mobil dan Intelektualitas (Solopos, 14 Oktober 2014). Hampir sekian tulisan yang tampil di Solopos adalah tulisan yang muncul saat melihat kondisi di kampus mulai dari persoalan birokrasi sampai pada nalar intelektualitas mahasiswa atau dosen. Kenapa aku nulis di Mimbar Mahasiswa?

Karena aku memiliki janji bahwa cerita menjadi mahasiswa bukan hanya sah secara administratif tapi lebih dari itu ada pertarungan gagasan. Keberanian mendaftar menjadi mahasiswa, aku pikir, adalah keberanian bertemu gagasan baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Bagiku Mimbar Mahasiswa memberi peluang mahasiswa untuk menulis dan bertarung secara gagasan tentang persoalan kampus saat koran yang lain semakin memberi ruang yang sangat sempit untuk mahasiswa atau ada tapi sulit memberi peluang adanya polemik.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Mutimmatun Nadhifah

Mahasiswa IAIN Surakarta, Bergiat di Bilik Literasi Solo

Add comment