Soloensis

All President’s Men sampai Spotlight

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Belasan tahun saya menekuni profesi jurnalis. Selama itu saya menemukan dua film yang berkesan sangat mendalam di benak saya. Pertama, film “All the President’s Men”. Kedua, film “Spotlight”.
Dua film ini bergenre sama, drama. Dua-duanya juga berkisah hal yang sama: jurnalisme investigasi. “All the President’s Men” dirilis pada 4 April 1976 di Washington DC, enam hari sebelum saya lahir ke dunia.
“Spotlight” dirilis di Indonesia pada 17 Februari 2016. Film ini bikinan 2015. “Spotlight” menjadi film peraih Piala Oscar 2016. Saya mendapatkan kesan yang sama ketika menyaksikan film yang berbeda zaman ini.
“All the President’s Men” saya saksikan–seingat saya–pada 1997. Ketika itu saya sedang “merintis karier jurnalis” dengan aktif di dunia pers mahasiswa. Film ini saya saksikan dalam sesi pembukaan pelatihan jurnalisme investigasi di Kota Jogja. Penyelenggara pelatihan itu adalan Badan Penerbit Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gadjah Mada.
Saat itu saya mewakili Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan Universitas Sebelas Maret menjadi peserta pelatihan jurnalisme investigasi dengan mentor jurnalis Andreas Harsono.
Satu frasa yang menghunjam dalam benak saya setelah menonton “All the President’s Men” adalah “follow the money”. Frasa ini muncul dari mulut narasumber anonim yang disebut “deep throat” yang membantu jurnalis Harian “Washington Post” Boob Woodward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman) membongkar skandal “Watergate” yang berujung pemunduran diri Presiden Richard Nixon.
Frasa “follow the money” menjadi penuntun Woodward dan Bernstein membongkar skandal politik terkait pemilihan presiden Amerika Serikat dan rivlitas Partai Demokrat dan Partai Republik itu.
Saya menyaksikan di film itu keuletan dan kesabaran yang luar biasa yang ditunjukkan Woodward dan Bernstein saat memburu narasumber-narasumber mereka, memburu dokumen, melakukan riset, menerakan disiplin verifikasi yang sangat ketat.
Kerja keras dua reporter ini membuahkan penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggdi ranah jurnalisme Amerika Serikat. Film ini saya saksikan beberapa kali sampai kini. Beberapa bulan lalu film ini saya putar di kelas jurnalisme investigasi di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Usuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Surakarta.
Sensasi tak terkatakan itu masih muncul saat saya menyaksikan lagi di film ini keuletan dan kerja keras Woodward dan Bernstein. Sesansi yang kurang lebih sama–dengan rasa yang lebih modern–saya rasakan kembali saat menyaksikan film “Spotlight”.
“Spotlight” mencerikan pekerjaan empat jurnalis investigator di Harian “Boston Globe”. Mereka membongkar skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan puluhan pastur di Keuskupan Boston.
Empat jurnalis itu adalah Michael Rezendes (Mark Rufallo), Walter Robinson alias Robby (Michael Keaton), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dibantu jurnalis investigator umum Gene Amoroso (Stephen Kurkjian).
Mereka berempat melapor kepada editor Ben Bradlee Jr. (John Slattery) yang berada di bawah koordinasi editor in chief Marty Baron (Liev Schreiber). Empat jurnalis ini bekerja spartan membongkar skandal yang sebenarnya 20 tahun lalu bahan-bahannya telah diterima Robby saat dia di Desk Metro Boston Globe.
Laku empat jurnalis Boston Globe ini dalam perspektif saya adalah laku jurnalisme yang “di luar batas kemampuan rata-rata jurnalis”. Di “Boston Globe” mereka berempat bekerja di ruang khusus yang terpisah dengan jurnalis-jurnalis dan editoir-editor lainnya.
Tim “Spotlight” di “Boston Globe” ini adalah tim elite dengan kemampuan di atas rata-rata, mereka adalah jurnalis investogator. Laku mereka sama dengan yang dijalani Woodward dan Bernstein: mengulik dokumen, riset, memburu dan menemui ratusan narasumber, memilah dan memilih data, mengecek informasi ke sana kemari, sangat disipilin pada verifikasi.
Dua praksis jurnalisme investigasi berbeda zaman ini punya efek sama: membongkar skandal yang merugikan publik dan menyelamatkan publik dari dampak skandal bila tak dibongkar dan tak diketahui publik.
Di film “Spotlight” saya sangat terkesan dengan kalimat yang diucapkan Rezendes saat bertemu hakim terkait dokumen privat yang telah dideklasifikasi menjadi dokumen terbuka. Dokumen itu adalah bukti-bukti laku pencabulan yang dilakukan puluhan pastur terhadap puluhan anak di Boston.
Ketika ditemui Rezendes, Hakim Constance Sweeney (Laurie Heineman) berkata,”Bagaimana tanggung jawab editorial [“Boston Globe”] ketika memublikasikan dokumen-dokumen yang sangat sensitif ini?”
Pertanyaan Sweeney itu sebenarnya bersubstansi mencoba mencegah Rezendes mendapat akses ke dokumen-dokumen yang baru saja dideklasifikasi menjadi dokumen publik, dokumen terbuka, oleh pengadilan itu.
Rezendes menjawab dengan balik bertanya,”Bagaimana tanggung jawab editorial [“Boston Globe”] bila tak memublikasikan dokumen-dokumen sensitif ini?” Rezendes kemudian mendapatkan akses penuh ke dokumen-dokumen penting yang merupakan catatan kasus-kasus pencabulan para pastur di Boston terhadap anak-anak itu.
Melihat dua film jurnalisme investigasi ini penting, tak hanya bagi jurnalis, karena film ini mengajarkan tentang laku keharusan memverifikasi semua informasi, selalu bersikap skeptis, dan mengedepankan sikap sopan dan terbuka saat memburu fakta dan informasi. Jelas berbeda dengan budaya bermedia sosial yang jamak menelan mentah-mentah informasi, tanpa skeptisisme, tanpa kehendak memverifikasi….

(foto di atas adalah poster film “Spotlight”)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
ichwan prasetyo

ichwan prasetyo

Jurnalis, suka membaca, suka mengoleksi buku, sedih bila buku dipinjam (apalagi kalau tak dikembalikan), tak suka kemunafikan.

Add comment