Soloensis

“Istiqomah” – Jangan Anggap Remeh Pedagang Pasar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
29

            Bagi sebagian orang, pekerjaan di pasar tradisional dipandang remeh dan kerap kali disebut “hanya”. Orang-orang akan lebih memandang “wah” dengan para pemakai dasi dan jas yang berada di ruangan ber-AC. Namun kedua perbedaan fisik tersebut tidak dapat menjamin kehidupan seseorang di masa depan.

Belum tentu para pedagang di pasar tradisional yang identik dengan tempat “kumuh” tidak dapat menjamin kehidupan keluarga mereka dengan pasti. Seperti cerita hidup salah seorang pedagang buah di pasar Kota Boyolali, yang mampu menyekolahkan ke-4 anaknya hingga ke Perguruan Tinggi. Bahkan membiayai anak pertamanya hingga menjadi seperti saat ini, yang mengabdi sebagai TNI AD Kostrad di Tanah Kusir, Jakarta.

            Mukhlasin (54th) begitu panggilan akrabnya. Pria asli Salatiga ini sangat dikenal di wilayah pasar Kota Boyolali karena perjuangannya selama menjalani usahanya. Memang berdagang buah ini tidak murni ia dirikan sendiri, tetapi melanjutkan usaha dari istrinya, Istiqomah (54th).

            Istiqomah dulunya adalah anak dari orangtua sederhana. Karena dia tak sanggup untuk menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, ia memutuskan untuk membantu orangtuanya bekerja. Istiqomah telah menjalani profesinya sebagai pedagang buah sejak berusia 12 tahun. Dulu usahanya belum memiliki toko buah sebesar sekarang, namun masih secara candak kulak atau membeli langsung dari petani lantas menjualnya kepada para bakul di pasar Jatinom, Klaten. Karena memang sebelumnya Istiqomah tinggal di Jatinom, Klaten bersama dengan orangtuanya.

Hingga akhirnya Skenario Tuhan yang telah mempertemukan mereka. Berawal saat Istiqomah menjualkan buah mulai dari Salatiga hingga ke Semarang, pertemuan dan perkenalan bermula dari sebuah perbincangan mengenai jual beli yang dilakukan. Menurut Mukhlasin, dulu istrinya memang pandai dalam melakukan jual beli, tetapi kurang dalam memanajemen keuangan. Hal itulah yang membuat Mukhlasin tergerak untuk membantu sang istri dalam menjalankan usahanya. Wajar saja karena dulu Istiqomah hanya lulusan SD, itupun hanya sampai kelas 3 saja, sedangkan Mukhlasin adalah lulusan STM Pertanian di Salatiga.

Dari pertemuan ini, mereka mulai merintis usaha bersama. Mereka memberanikan diri untuk berjualan di kota, tepatnya di pasar Kota Boyolali. Selama di kota itulah mereka mendapatkan banyak pengalaman. Akhirnya usahanya berkembang dengan menambah jualan roti dan membuka toko elektronik. Bahkan kala itu menjadi usaha elektronik terbesar di Boyolali, namun beberapa waktu kemudian usaha tersebut jatuh karena kurangnya manajemen. Karena kerugian yang ditaksir cukup besar, 4 toko yang dimiliki terpaksa harus ditutup.

Kemudian mereka kembali hanya berjualan buah saja, kembali dengan modal yang seadanya. Bahkan menjual barang-barang yang tak terpakai, hingga mobil gundul satu-satunya dilakukan guna menambah modal yang harus dikeluarkan. Semua itu rela dilakukan karena keberanian dan tekad untuk berwirausaha sendiri.

Belum genap mereka merasakan kejayaan,cobaan kembali datang. Di tahun 2007, pasar Kota Boyolali mengalami kebakaran. Karena kebetulan saat itu harus membiayai sekolah 3 orang anak dan bertepatan dengan anak pertamanya yang sedang pendidikan sebelum menjadi TNI AD di Jakarta, Mukhlasin nekat berjualan di pinggir jalan depan pasar yang sedang direnovasi. Meskipun sebenarnya dilarang oleh Bupati setempat saat itu, Drs. Sri Moeljanto. (lihat :  https://www.liputan6.com/news/read/141732/pasar-induk-boyolali-terbakar )

Karena proses perbaikan berlangsung lebih dari satu tahun, itu dirasa sangat lama. Jika tidak berjualan selama itu, dia tidak akan mampu membiayai sekolah dan pendidikan anak-anaknya. Hal tersebut yang membuat Mukhlasin nekat berjualan dengan banyak resiko.

Dimasa jatuh itu, membuat Mukhlasin harus hutang di beberapa bank hingga mencapai 600 juta rupiah, yang saat ini masih berkisar 10 juta rupiah. Bahkan untuk biaya sewa kontrakan pun ia pinjam dari adiknya. Meski hutang yang ditanggung cukup banyak, justru hal tersebut yang membuat Mukhlasin berusaha lebih rajin lagi dalam membangun usahanya dengan semangat pantang menyerah.

Benar saja, kini usahanya kembali berjalan dengan lancar. Mukhlasin telah memiliki toko yang bisa dibilang cukup besar. Tidak hanya buah saja, ia juga menjual roti, snack dan oleh-oleh makanan ringan. Mulai dari penghasilan penjualan yang sedikit, hingga sekarang yang tak main-main, menjadikan Mukhlasin boleh dikatakan sebagai pengusaha yang sukses.