Soloensis

Tukang Cukur Naik Kelas

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Siang-siang di jalanan Solo, panas terasa membakar kulit dan wajah. Apalagi bagi pengendara sepeda motor seperti saya. Mumpung tanggal muda, salon potong rambut jadi pilihan berteduh sejenak, sekaligus merapikan mahkota kepala yang memang sudah agak gondrong. Arfa Barbershop di kawasan Kota Barat, Solo, persisnya di utara traffic light Jl. dr. Muwardi, jadi pilihan.
Masuk ruangan, sejuk segera terasa. Maklum ruangannya ber-AC. Tak banyak antrean siang itu sehingga setelah mengambil nomor, saya langsung dilayani oleh salah satu kapster. Sambil menikmati kelincahan tangan kapster merapikan dan memotong rambut saya, angan pun terbang ke masa kecil dulu.
Saat saya masih sekolah SD di Pekalongan—sebuah kota di kawasan pantai utara Jawa Tengah yang terkenal dengan batiknya—saya tidak mengenal salon untuk potong rambut. Tiap kali rambut saya gondrong, ayah akan membawa saya ke seorang tukang cukur tradisional. Tukang cukurnya sudah tua, berusia 60-an tahun. Potongannya memakan waktu lama, karena menggunakan gunting—beda dengan sekarang yang sudah pakai alat listrik—dan semacam silet (maaf saya tak tahu namanya) untuk merapikan tepian rambut yang habis dicukur. Setelah itu, bagian samping dan belakang ditaburi bedak, agar tidak gatal karena rambut-rambut sisa potongan yang masih menempel. Sampai di rumah, harus keramas agar rambut benar-benar bersih seusai dicukur.
Masih pada zaman saya SD dulu, di Pekalongan ada sebuah sungai, namanya Kali Loji. Nah di Kali Loji yang dekat Pasar Gede itu, di bantaran sungainya, di bawah pohon-pohon rindang—juga banyak terdapat tukang cukur tradisional. Mereka berderet-deret menantikan pelanggan. Tiap satu pohon sudah ada satu tukang cukur, tinggal pilih. Modalnya hanya kursi, cermin, dan peralatan cukur. Potong rambut disini bisa bikin ngantuk, karena angin yang sepoi-sepoi. Pemandangannya, sisi kiri adalah aliran Kali Loji, dan sisi kanan trototar yang berbatasan dengan jalan raya. Soal harga, dijamin murah.
Selain di Kali Loji, tukang cukur tradisional juga banyak ditemui di Alun-alun Pekalongan. Pohon beringin yang sangat teduh yang mengelilingi Alun-alun menjadi lokasi mangkal para tukang cukur. Berderet-deret mereka menantikan pelanggan. Hampir sama dengan tukang cukur di Kali Loji, di bawah pohon beringin pun mereka hanya bermodal kursi, cermin, dan seperangkat alat cukur. Potong rambut di sini lebih bikin liyer-liyer karena embusan angin dan keteduhan pohonnya.
Namun kini, zaman berganti. Tukang cukur tradisional tentu saja masih bisa kita temukan di sejumlah tempat. Namun kalau kita cermati, kini mulai marak bermunculan salon-salon potong rambut—terutama untuk pria—yang berjejaring alias waralaba. Bisa dibilang, kini tukang cukur naik kelas. Potong rambut tak sekadar ritual merapikan rambut, sudah itu selesai. Kini potong rambut adalah gaya hidup. Tak sekadar bercukur, di salon-salon ini kita bisa mendapatkan sejumlah layanan lain, mulai creambath, mengecat rambut, tattoo rambut, hingga perawatan mencegah kerontokan rambut. Ruangannya pun nyaman, dilengkapi dengan pendingin udara.
Jika dulu pandangan yang menancap di kepala saya adalah, salon potong rambut itu ya Salon Rudi Hadisuwarno atau Johnny Andrean, kini rasanya harus saya ubah. Selain dua salon yang sudah punya reputasi mentereng itu, bermunculan pula salon-salon yang menawarkan kenyamanan dalam perawatan dan potong rambut di Solo. Selain Arfa yang saya sebut di atas, masih ada pula Macho Barbershop, Barber King, maupun Oesman Barbershop.
Tak hanya salon untuk memfasilitasi kaum pria bergaya. Anak-anak pun jadi pangsa pasar yang menarik bagi pebisnis hairstyle. Anak saya, yang suka banget main game, kini ketagihan minta potong rambut di KinderCuts, di kawasan Jl. Melati Badran Solo, lantaran di sana menyediakan fasilitas game bagi anak yang sedang dicukur. Tak hanya itu, arena playground atau tempat bermain juga disiapkan pengelola agar anak tak jemu jika harus menunggu antrean. Selain KinderCuts, di Solo juga ada salon Cozy di kawasan Jl. Yosodipuro, yang juga menyediakan fasilitas serupa untuk anak-anak.
Ah, waktu beranjak siang, dan rambut saya juga sudah rapi. Kini saatnya saya melanjutkan perjalanan. 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
yonantha.chandra

yonantha.chandra

Add comment