Soloensis

Pedagang Pasar Legi Kembali Bangkit

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
33

Pagi itu Sabtu, 3 November 2018 pukul 02.30 aku sudah siap ikut Ibu dan Bapak ke Pasar Legi. Pertama kalinya aku kesana setelah kejadian terbakarnya Pasar Legi Senin 29 Oktober lalu. Ibuku, Hartini (46) dan Bapaku, Yamto (52) sama-sama berjualan di Pasar Jaten, Karanganyar dan sejak 2004 silam menjadikan Pasar Legi serta Pasar Gede sebagai pemasok barang dagangan menggantikan Pasar Bejen yang sudah sejak tahun 2000 sebagai sumber pemasok barang dagangan karena hampir sama dan tidak jauh dari rumah kami di Dagen Jaten Karangannyar.

Suhu sekitar 22 derajat celcius, kami berangkat dengan sepeda motor dan hanya perlu waktu sekitar 10 menit sampai di Pasar Legi. Seperti yang sudah dikatakan Ibu sebelumnya, area luar Pasar Legi makin ramai karena banyak pedagang yang awalnya berjualan di area dalam berpindah di area luar, sepanjang Jalan Sutan Syahrir karena area dalam masih ada sisa puing-puing. Serta area dalam akan direncanakan pembangunan, jadi fungsi jual beli di area dalam mulai dikurangi.

Seperti biasanya, setelah memakirkan sepeda motor kami mulai membeli barang. “Enggak, tetep podolah tapi rodho angel digoleki barang-barange soale akeh seng tutup yen buka paling dodol sak enenge” (Enggak, tetap samalah tapi agak susah dicari barang-barangnya soalnya banyak yang tutup kalaupun buka hanya jualan seadanya) begitu jawab Ibu saat aku tanya apakah ada kenaikan harga akibat kebakaran pasar.

Suasana Pasar Legi, sekitar pukul 03.00 saat itu lebih ramai dari terakhir aku datang disini, sekitar awal Oktober lalu. Beranjak ke area barat Pasar Legi, seingatku dulu tidak seramai ini ternyata makin ramai dan makan padat pedagang bahkan dulunya sebelum kebakaran terjadi area sepanjang jalan S. Parman tidak seramai ini. Ibu terus mengajakku berkeliling, dia mencari kios sementara langganannya, sementara bapak masih di area luar sibuk memilih pepaya dan semangka.

 Belum ada satu putaran mengelilingi area barat Pasar Legi, Ibu baru bertanya dengan pedagang lain. “Mbak Tanti wonten pundi budhe?” (Mbak Tanti, ada dimana budhe?). Tanya Ibuku pada seorang pedagang Jagung dan kangkung, Yumi yang berasal dari Sumber Lawang, Sragen. “Mbak Tanti, dereng dodolan buk” (Mbak Tanti, belum jualan buk) begitu jawab wanita paruh baya tersebut.

Ibu menghela napas sebentar kemudian mengajakku berjalan kearah sisi timur Pasar Legi, agak sepi memang dari yang terakhir kuingat, padahal sudah jam tiga lebih. Aku juga ingat di sekitar area timur banyak pedagang sehingga jalan agak terang, tapi sekarang agak gelap karena hanya ada sedikit pedagang. “Budhe, wonten grabyasan sing apik?” (Budhe, ada grabyasan (krupuk kulit) yang bagus?” Tanya Ibu pada Suyanti, yang katanya dari Boyolali, meskipun tidak terlihat seperti ‘tampang Boyolali’.

“Boten wonteng buk, seng 115 kan? Entene 85 buk” (Tidak ada buk, yang 115 kan?, adanya 85), jawabnya. “Langgananku boten purun, jaloke sing apik sisan” (Langganku tidak mau, mintanya yang bagus sekalian), jelas ibu agak kecewa.

“sing apik wes mulu kobong buk, iki dodol sak enenge waelah sitik-sitik” (yang bagus sudah ikut terbakar buk, ini jualan seadanya dulu sedikit-sdikit).

“yoweslah, kentang sekilo mawon budhe. Budhe jenengankan wingi ten ngarep mriko kok sakniki pindah mriki?” (Yasudahlah, kentang satu kilo saja budhe. Budhe, anda kemarinkan di depan sana kok sekarang pindah kesini?) Tanya ibuku. “enggeh buk, mriko ruwet banget, bingung aku buk. Tapi, ten mriki wes penak buk, tetep yen jam enem wes kukutan soale niki ten emper toko buk” (Engeh bu, disana ribet banget, bingung aku buk. Tapi, di sini sudah enak buk, tetap setiap jam enam sudah tutup soalnya ini di halaman toko buk) jelasnya.

“Enggeh, sampun kepenak. Mbak Tanti dereng dodol budhe?” (Enggeh, sudah enak. Mbak Tanti belum jualan budhe?) Tanya Ibu, yang sepertinya masih penasaran dengan keberadaan Mbak Tanti.

“Dereng buk, kiose Mbak Tanti kan kebakaran kabeh, sampun telas buk sak isine” (Belum buk, kiosnya Mbak Tanti kan kebakaran semuanya, sudah habis buk seisinya) jelasnya dan memandang kearah tempat yang dulunya menjadi kios Mbak Tanti.

Tanti dan Suyanti adalah contoh korban yang harus ikhlas kiosnya terbakar, dan tidak bisa mengharapkan siapapun untuk mengganti barang dagangan mereka yang sudah hangus. Pemerintah hanya membantu dalam hal penyedian tempat pasar darurat dan revitalisasi pasar yang mana ditaksir mencapai 1,2 milliar, mengutip dari solopos.

Mereka tentunya kesulitan melakukan pinjaman pada bank karena bisnis mereka yang terganggu, mengutip dari Tirto.id, Pemerintah harusnya bisa mensosialisakan atau mengadakan asuransi pasar guna meminimalisir kerugian pedagang. Meskipun, kemungkinan tersebut kecil sebab loss ratio pasar tradisional bisa melebihi 100 persen. Ini artinya, klaim yang dibayarkan jauh melampaui total premi dari seluruh pasar yang diasuransikan. Itu sebabnya perusahaan asuransi enggan memberikan perlindungan.

Pasar tradisional merupakan salah satu yang mendukung geliat ekonomi daerah dan pengisi kantong kas daerah, sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian pada pasar. Perhatian ini, bukan hanya dalam bentuk revitalisasi yang selalu jadi program pemerintha daerah maupun pusat pada Pasar Tradisonal. Perhatian itu bisa berupa kemudahan dalam melakukan pinjaman, kebersihan, dan keamanan pasar.  

Hanif Dwi Wulandari

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
33

Hanif Wulandari

Mahasiswi IAIN Surakarta

Add comment