Soloensis

Sekolah itu Menyenangkan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

“Jangan kau cabut masa bermain anak-anak dengan cepat, karena kelak kau akan menemukan anakmu yang tumbuh dewasa tapi kekanak-kanakan.”—Kandang Jurang Doank

Tiga tahun lalu, saat hendak mencarikan sekolah anak saya yang baru mau masuk SD, ada beberapa hal yang terlintas di benak saya.

Pertama, saya ingin sekolah yang lima hari saja (karena saya di Solo, anak dan istri bekerja di Jogja, sehingga dengan lima hari sekolah, ada waktu 2 hari untuk bisa berkumpul bersama keluarga).

Kedua, saya ingin sekolah yang mengapresiasi kemampuan anak, bukan sekadar kemampuan kognitif atau teori di kelas.

Ketiga, saya ingin sekolah yang tidak menerapkan ranking di kelas, karena menurut saya, setiap anak itu punya kelebihan sehingga pemeringkatan hanya akan mengecilkan kemampuan beragam si anak.

Keempat, saya ingin anak saya sejak dini mendapat pelajaran soal keberagaman dan perbedaan, karena dia tinggal di Indonesia yang beragam dan majemuk. Tanpa belajar soal keberagaman sejak dini, niscaya sulit rasanya dia akan menerima perbedaan maupun keberagaman.

Kelima, saya ingin waktu bermain anak tidak tersita karena disibukkan oleh beban pelajaran. Bagi saya, sekolah itu taman bermain yang menyenangkan, bukan menakutkan. Bermain juga bisa menjadi wahana belajar yang efektif. Tak perlu ada PR bertumpuk-tumpuk yang harus dikerjakan di rumah. Tak perlu buku tebal yang memberatkan tas yang harus dibawanya. Tak perlu juga les mata pelajaran demi meraih nilai setinggi-tingginya. Itu pandangan saya.

Inti dari kelima itu, saya ingin anak saya senang dan nyaman bersekolah.

Setelah mencari ke sana kemari, setelah berdiskusi dengan istri dan anak, akhirnya diputuskan untuk menyekolahkannya di Sekolah Tumbuh 2, Jogja. Sekolah ini berlokasi di kompleks Jogja Nasional Museum, di Jl. Amri Yahya No 1. Gampingan Wirobrajan, Jogja.
Sebelum anak saya dinyatakan diterima, saya dan istri harus menjalani wawancara pihak sekolah. Wawancara berisi seputar komitmen kami dalam mendidik anak-anak, termasuk memastikan tidak ada bullying dalam proses mendidik anak. Intinya, jika orang tua tidak cukup berkomitmen dalam pendidikan anak, maka yang akan jadi korban adalah si anak yang bersangkutan.
Singkat kata, anak saya diterima di Sekolah Tumbuh 2. Mengapa pilihan kami jatuh ke sekolah ini, karena kelima “syarat” yang kami cari itu terpenuhi oleh sekolah milik yayasan keluarga Keraton Jogja ini.

Pertama, soal lima hari sekolah, di Sekolah Tumbuh memberlakukannya. Dengan lima hari sekolah, bukan berarti jam pelajarannya ditambah setiap hari. Anak-anak Multiprep I dan II (di sekolah ini menggunakan istilah Multiprep I karena berisi gabungan anak berusia 6-7 tahun) pulang pukul 12.30 WIB setiap harinya, kecuali Jumat. Dengan lima hari sekolah, impian saya agar anak punya waktu bermain dan istirahat lebih banyak jadi terpenuhi.

Kedua, soal sekolah yang mengapresiasi kemampuan anak, dalam pandangan saya juga terpenuhi. Tidak ada anak yang bodoh di kelas ini. Setiap anak punya bakat dan kemampuan sendiri-sendiri yang semuanya layak diapresiasi dan diberi ruang untuk bertumbuh. Anak saya, kata sang guru, pandai dalam teori dan berhitung. Nilai Matematika dan Bahasa Inggrisnya bagus. Konsentrasinya tinggi. Namun, anak saya masih terlalu pemalu di kelas. Kurang percaya diri dalam memberikan pendapat, dan kurang dalam olahraga. Teman lain, jago dalam olahraga dan keterampilan lain yang lebih menonjolkan kemampuan fisik. Teman lainnya juga, sangat aktif di kelas, rajin bertanya, dan sering menjadi leader. Ada pula yang jago dalam bermain gamelan, jago dalam berenang, jago melukis, bermusik. Semua adalah anugerah yang harus dikembangkan terus menerus. Apresiasi juga muncul dalam setiap hasil pengerjaan lembar kerja melalui kata-kata “excellent, amazing, superb, very good,” dan kalimat sejenis untuk memotivasi anak didik. Kesalahan dalam lembar kerja diberi penjelasan di mana kekurangannya dan bagaimana cara memperbaikinya.
Dengan komposisi satu kelas berisi 22 murid—jumlah ini bisa kurang, karena maksimal 22 murid—plus 2 guru dan 1 guru pendamping ABK, memudahkan para guru untuk memahami satu per satu kelebihan dan kekurangan siswa mereka.

Ketiga, sekolah ini juga tidak menerapkan ranking di kelas. Rapor yang dibagikan bukan melulu berisi angka-angka mata pelajaran, melainkan deskripsi detil mengenai kemampuan anak. Tentu merepotkan bagi guru untuk member deskripsi satu persatu siswa mereka, namun itu memang sudah seharusnya. Pola ini pula yang kini dijalankan dalam pendidikan berbasis Kurikulum 2013. Rapor tiap anak jadi tebal, karena berisi paparan deskripsi, kemajuan yang sudah dicapai, dan kekurangan yang harus dibenahi.

Keempat, pelajaran soal keberagaman juga ada di sekolah ini. Sekolah Tumbuh adalah sekolah inklusi dan memang member penekanan pada keberagaman. Jadi dalam satu kelas, komposisi dibikin sedemikian rupa hingga keberagaman itu tercipta. Yang pasti, karena sekolah ini inklusi, ada ABK di tiap kelas. Namun justru karena sejak awal anak-anak dibiasakan diri berbaur dengan ABK, toleransi mereka sangat tinggi. Anak-anak dan ABK bisa berbaur dan saling bantu, tanpa ada pandangan bahwa teman mereka berbeda dengan yang lainnya.
Selain itu, di satu kelas juga terdapat siswa dari golongan mampu dan tidak mampu, siswa dari berbagai latar agama (ada Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katholik), ada pula siswa bule. Semua menyatu dalam satu kelas. Internalisasi nilai-nilai kemajemukan di sini tak sebatas teori namun lebih banyak praktik sehingga sejak dini mereka sudah menyadari ada perbedaan di antara mereka namun tetap bersatu.
Di sekolah ini juga tidak mengharuskan setiap hari siswa harus berseragam. Hanya hari-hari tertentu siswa mengenakan seragam, selanjutnya pakaian bebas, boleh kemeja atau kaus. Bahkan ada yang bersekolah dengan mengenakan sandal karena sepatunya dititipkan di loker sekolah. Soal rambut juga tak harus cepak. Gondrong pun oke-oke saja. Seru juga lihat siswa ada yang gundul, ada yang rapi, ada yang gondrong rambutnya.

Kelima, saya ingin anak tidak terlalu dibebani PR dan seabrek tugas-tugas lain di luar sekolah. Buku-buku pun tak harus selalu beli baru, beli buku paket ini itu sehingga tasnya penuh sesak oleh buku tulis dan buku pelajaran. Di sini, setiap sekolah anak-anak hanya membawa satu folder (berisi lembaran gambaran program pelajaran selama sepekan) dan hasil lembar kerja yang dibikin oleh guru, bukan langsung comot dari LKS. Buku tulis pun tidak membawa sama sekali. Buku pelajaran apalagi. Ringan sekali tasnya. Minitrip maupun outing class sering dilakukan sambil bermain sehingga anak-anak suka. Di tas paling hanya berisi baju ganti, karena anak-anak suka bermain-main seusai pulang sekolah di area museum yang memang lapang dan teduh itu. Bahkan sering kali saat sudah dijemput, mereka enggan pulang karena masih asyik bermain dengan teman-temannya.

Tentu saja saya yakin bukan hanya di Tumbuh yang member penekanan pada keberagaman dan sebagainya. Saya percaya banyak sekolah lain yang juga bagus-bagus dan sesuai dengan visi misi para orang tua dalam mendidik anaknya.

Bukan berarti pula di sekolah ini sempurna. Tentu saja masih ada kekurangan, ada hal-hal yang mesti dibenahi. Namun setidaknya, saat anak saya bilang “senang bersekolah” dan sedih jika harus izin sekolah karena sakit atau ada keperluan lain, artinya memang sekolah menjadi tempat menyenangkan bagi dia. Itu saja.

Yonantha Chandra
Editor Solopos (yonantha.chandra@solopos.co.id)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
yonantha.chandra

yonantha.chandra

Add comment