Soloensis

Tidur Berselimut Koran Solopos

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Saya, Satafa Alfian Najam (19 Tahun). Boleh dibilang sejak kecil saya sudah mengenal Solopos karena orang tua saya berlangganan solopos sudah lebih dari 15 tahun. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar saya mulai membaca Solopos. Saya paling suka membaca Solopos Minggu pada halaman anak. Dari pengalaman membaca halaman anak saya termotivasi untuk berkarya, menulis puisi, menggambar dan mengerjakan teka – teki anak. Alhamdulillah sering juga dimuat. Ketika duduk dibangku SMP dan SMA saya sering menulis di rubrik Ah Tenane, Curhat, dan Cernak

Pengalaman bahagiaku dengan Solopos adalah ketika membaca surat dari redaksi 11 Februari 2015, yang memberitahukan kepada pembaca bahwa mulai hari itu harian umum Solopos tidak hanya sebagai media informasi tetapi juga bermanfaat sebagai media antinyamuk. Saya langsung mengapresiasi bahwa Solopos mempunyai nilai plus dengan fungsi ganda. Pagi hari Solopos sebagai media informasi malam harinya Solopos kujadikan selimut dalam tidurku.

Ketika itu saya duduk di bangku kelas XII SMA. Setelah seharian mengikuti Try Out di sekolah dan sore harinya mengikuti bimbingan belajar badan saya terasa capek. Setelah salat Isya saya langsung tidur tanpa memakai obat anti nyamuk oles maupun obat anti nyamuk bakar. Beberapa lembar koran Solopos yang mengandung minyak sere kuletakkan dekat tempat tidurku dan beberapa lembar lainnya kugunakan untuk selimut. Tidurku pulas tanpa gangguan nyamuk.

Dua jam kemudian aku bangun karena terganggu oleh ulah adikku. Sebelum tidur adikku menyalakan dua obat anti nyamuk bakar. Satu ditaruh di kamarnya, yang satu akan ditaruh di kamarku. Ketika masuk kamarku, adikku berteriak karena melihat badanku tertutup beberapa lembar koran Solopos. “Mas kowe ngopo kok kemulan koran!” teriaknya. “Ganggu wong turu wae. Kamarku ojo disumeti obat nyamuk, kemulku iki wis mengandung antinyamuk.” Bentakku kepada adik dengan mata yang masih terpejam.

Mendengar jawabanku, adikku jadi tertawa ngakak karena dikira saya nglindur. Dia berusaha membangunkan saya “Mas tangiyo sik kowe nglindur yo koran kok ngandung antinyamuk” kata dia sambil menggoyang – goyangkan badan saya. Akhirnya saya bangun dan memberikan penjelasan “Aku sadar yo ora nglindur iki surat dari redaksi Solopos wacanen sik!” pintaku kepada adikku. Setelah itu adikku baru percaya bahwa Solopos merupakan media antinyamuk. Kemudian kami saling berpandangan dan obat antinyamuk kami matikan. Kami tos sebagai tanda sepakat, lalu tidur sampai pagi berselimut koran Solopos.
#soloensis

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Satafa Alfian

Mahasiswa Prodi Agroteknologi UPN "Veteran" Yogyakarta

Add comment