Soloensis

Tradisi Menghormat Sang Raja di Thailand

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Program bela negara sepertinya menjadi salah satu trending topic, selain kebakaran yang melanda hutan-hutan di Indonesia, tentu saja. Nah, berkaitan dengan bela negara dan upaya pemerintah Indonesia menumbuhkan rasa cinta kita terhadap Tanah Air, saya jadi ingat pengalaman saya sewaktu mengunjungi Bangkok, Thailand, pada 2010 lalu. Sudah lama bingit yaaa…? Tapi sampai sekarang pengalaman tersebut benar-benar membekas dalam ingatan, mungkin karena baru sekali itu saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana upaya pemerintah Thailand untuk menanamkan rasa cinta ke Tanah Air (ke Sang Raja ya? Auk ahh….perlu konfirmasi lebih lanjut nih kayaknya ke otoritas Thailand hehe).

Oya, tulisan serupa ini pernah saya muat juga di blog pribadi saya milik tetangga sebelah (Kompasiana). Ceritanya waktu itu saya sudah mati gaya (Mati anggaran juga) karena kelamaan ngabisin liburan di Ibu KOta Thailand. Bayangkan, dua pekan di Bangkok dengan budget pas-pasan! Mo ngapain coba? Sebetulnya banyak objek wisata menarik sih yang belum saya kunjungi, salah satunya adalah Tiger Temple. Tapi….itu tadi, balik lagi ke soal dana, alhasil pasrah aja men-delete objek tersebut dari daftar tempat wisata yang harus dikunjungi.

Beruntunglah di saat-saat kritis bin galau (ya galaulah karena judulnya liburan tapi kok lebih banyak menghabiskan waktu dengan glundang-glundung di apartemen), saudara saya menawari saya nonton film. Wah, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba! Kebetulan saya memang sudah lama mengidam-idamkan acara nonton bioskop di negeri orang. Pas di Kuala Lumpur, sebenarnya saya juga ingin nonton film. Tapi karena keinginan tidak matching ama keinginan teman seperjalanan, ya terpaksa hal itu cuma jadi impian. Eeeh… ternyata di Bangkok, keinginan itu justru terkabul. Asik!

Kebetulan, saat ini, sejumlah gedung bioskop di Bangkok sedang memutar Salt (dibintangi Angelina Jolie) dan kebetulan pula saya belum menonton film tersebut di Indonesia. Jadilah, pada Kamis (20/8/2010) malam, saya dan saudara berangkat ke sinema. Gedung bioskop terdekat dari apartemen adalah SFX Cinema yang masih satu kompleks dengan pusat perbelanjaan Emporium yang terletak di daerah Sukhumvit. Sukhumvit merupakan kawasan elite dan khusus tempat tinggal ekspatriat di Bangkok. Saking elitenya, setiap sore saya kerap melihat helikopter mondar-mandir dari satu bangunan ke bangunan lain. Waktu itu saya pikir : latihan perang kok setiap hari….eh enggak tahunya heli tersebut mondar-mandir untuk antar jemput para ekspat di sonoh! Yah, maklumlah, tingkat kemacetan di Bangkok sama parahnya dengan di Jakarta. Aduuuuh, katroknya sayaaaaa! Hahaha

Back to cinema, kami memilih jam pertunjukan pukul 22.00 waktu setempat. SFX merupakan salah satu gedung bioskop untuk menengah ke atas. Di mata saya, tak ada perbedaan berarti yang saya lihat. Gedung bioskop di Bangkok mirip-mirip dengan gedung bioskop di negara kita. Kalau Anda sering nonton di gedung bioskop 21, ya seperti itulah suasananya. Ada banyak studio, masing-masing studio memutar film beda-beda dan jam pertunjukan beda-beda. Ada tempat jajan yang jualan popcorn dan coke, ada banyak sofa empuk untuk duduk-duduk menunggu film dan ngobrol. Untuk ukuran gedung bioskop kelas menengah ke atas, menurut saya SFX Cinema ini terlalu sederhana dibandingin gedung bioskop kelas serupa di Jakarta. Untuk harga tiket pertunjukan silakan dilihat di foto (kurs waktu itu 1 baht = Rp350). Setelah ruangan dibuka, saya pun masuk. Berhubung saya mengambil jam pertunjukan malam, maka hanya ada beberapa gelintir penonton memenuhi ruangan. Sama seperti bioskop di Indonesia, sebelum film utama diputar, penonton disuguhi iklan film yang akan datang. Yang membedakan hanyalah terjemahan film-film asing di Bangkok ditulis dengan mempergunakan aksara Thailand yang pating kluwer mirip aksara Jawa itu. Berhubung saya enggak bisa baca huruf-huruf tersebut, otomatis saya hanya mengandalkan telinga dan kemampuan berbahasa Inggris saya untuk memahami dialog di film-film yang ditawarkan tersebut.

Selain memutar film yang akan datang, penonton juga disuguhi aneka commercial break. Iklan di Bangkok lucu-lucu dan konyol. Kalau anda penggemar film-film Jepang atau Korea, ya seperti itulah model iklan-iklan di Bangkok. Konyol abis pokoke. Setelah beberapa menit disuguhi iklan produk dan film yang akan datang, tiba-tiba di layar muncul gambar logo kerajaan dan settt…..tahu-tahu seluruh penonton di ruangan itu berdiri! Hloh…hloh….saya yang baru sekali itu melihat, hanya bisa bengong. Mo pada ngapain ya? Lalu, di layar, muncul tulisan dalam bahasa Inggris meminta semua penonton berdiri untuk menghormati raja dan kerajaan. Oooo…barulah saya ngeh. Saya pun ikut berdiri dalam sikap khidmat. Mau tau apa yang terjadi berikunya? Layar menyajikan potongan-potongan adegan aneka kegiatan yang dilakukan Raja Bhumibol diiringi musik lagu kebangsaan Thailand.

Selama beberapa menit kami semua hening, memandang ke layar dan menatap aneka gambar kegiatan sang raja yang tersaji di layar. Ingatan saya langsung melayang ke TVRI di era Orba, teringat gambar-gambar presiden sedang panen raya di anu, meresmikan anu dan sebagainya. Persis banget. Setelah lagu selesai, barulah penonton duduk, dan film Salt pun diputar. Saya masih setengah takjub mendapatkan pengalaman barusan. Kata saudara saya, tradisi itu selalu dilakukan setiap kali film akan diputar. Jadi, dia sudah tidak terheran-heran lagi seperti saya hehe…

Eh, tak dinyana, saya mendapat pengalaman kurang lebih serupa saat berada di stasiun BTS Bangkok. Waktu itu, pagi hari. Tiba-tiba lagu kebangsaan berkumandang dan….seeeettt! seluruh manusia di stasiun itu menghentikan aktivitas dan memberikan hormat dengan cara berdiam diri. Kalau dilihat dan dipotret sebetulnya bagus , karena semua orang seperti terkena sihir, mereka jadi patung yang diam tak bergerak…freezing moment. Waktu seperti berhenti berdetak. Kehidupan seperti berhenti bergerak. Bahkan, angin pun seperti berhenti bertiup. Sebagai pendatang, saya pun ikut aja…meski pun dalam hati pingin ambil kamera dan mengabadikan momen unik itu.

Mmh…saya jadi terpikir, bagaimana ya seandainya Indonesia memberlakukan tradisi seperti itu ya? Setiap film akan diputar, penonton diminta berdiri lalu diperdengarkan lagu Indonesia Raya sambil menonton slide keindahan Indonesia di layar bioskop, pasti bagus ya. Saya pikir, itu tradisi bagus untuk menanamkan rasa cinta terhadap Tanah Air di kalangan generasi muda kita. Selain itu, tradisi ini bisa membuat generasi muda kita tetap tahu dan hafal lagu Indonesia Raya (lagu kebangsaan kita). Sebab, faktanya, mostly generasi muda kita lebih hafal lagu-lagu Koreanan dibandingkan Indonesia Raya.

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semuanya …Hiduplah Indonesia Raya!

(Foto dan tulisan : Astrid Prihatini W.D)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Astrid Prihatini Wisnu Dewi

i love travelling sooo much!

Add comment