Soloensis

Kisah Burung Pipit dan Daun Senja

download (1)

Kisah Burung Pipit dan Daun Senja

 

Di sebuah hutan yang damai, di antara rerimbunan dedaunan dan alunan sungai yang berbisik lembut, hiduplah seekor burung pipit bernama Cendra. Cendra adalah burung kecil dengan bulu cokelat keemasan yang selalu bersinar ketika diterpa sinar mentari. Ia dikenal oleh penghuni hutan sebagai burung yang ceria dan penuh semangat, selalu berkicau dengan nada yang merdu dan menenangkan.

 

Namun, ada sesuatu yang selalu membuat Cendra resah. Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan senja menyelimuti hutan dengan warna jingga keemasan, Cendra akan terbang tinggi dan memandangi daun-daun yang mulai berguguran. Ia merasa iri pada daun-daun itu, yang bisa menyentuh tanah dan merasakan kehangatan bumi.

 

Pada suatu senja yang syahdu, Cendra terbang ke puncak pohon tertinggi dan bertemu dengan daun senja bernama Lira. Lira adalah daun yang berwarna merah menyala, hampir seperti api yang menari di udara. Dengan lembut, Lira berayun-ayun mengikuti irama angin yang sepoi-sepoi.

 

“Selamat sore, Lira,” sapa Cendra dengan suara yang lembut.

 

“Selamat sore, Cendra. Apa yang membuatmu terbang tinggi hingga ke sini?” tanya Lira dengan suara yang lembut dan menenangkan.

 

“Aku selalu iri padamu, Lira. Kau bisa menyentuh tanah dan merasakan kehangatan bumi. Sedangkan aku, hanya bisa terbang dan memandangi dari kejauhan,” ujar Cendra dengan nada penuh kerinduan.

 

Lira tersenyum bijak. “Oh, Cendra yang ceria, kau mungkin tak tahu, tetapi kami para daun juga iri padamu. Kami hanya bisa diam di sini, menikmati keindahan dari tempat kami yang terbatas. Sedangkan kau, bisa terbang bebas, menjelajahi langit dan melihat dunia dari atas.”

 

Cendra terdiam, merenungi kata-kata Lira. Ia tidak pernah berpikir bahwa daun-daun bisa merasa iri pada kebebasannya.

 

“Kau tahu, Cendra,” lanjut Lira, “Setiap makhluk di dunia ini memiliki keunikan dan keindahannya masing-masing. Aku menikmati setiap hembusan angin yang membawa aroma bunga dan tanah, tetapi aku juga menikmati saat-saat terakhirku saat gugur dan menyatu dengan bumi. Kau pun harus menikmati kebebasanmu, melihat dunia dari sudut yang berbeda, dan menyadari bahwa setiap perjalanan memiliki keindahannya sendiri.”

 

Cendra terbang rendah, mendekati Lira, dan menyentuhnya dengan lembut. “Terima kasih, Lira. Kata-katamu membuka mataku. Aku akan menikmati setiap saat dalam kebebasanku dan menghargai setiap keindahan yang kutemui.”

 

Lira tersenyum hangat. “Begitu pula denganku, Cendra. Aku akan menikmati setiap detik terakhir dalam kehidupanku sebagai daun senja, dan saat tiba waktuku untuk jatuh, aku akan menyambutnya dengan sukacita.”

 

Matahari perlahan tenggelam, dan hutan dipenuhi dengan warna-warna yang mempesona. Cendra terbang rendah, merasakan hembusan angin yang lembut, dan menyadari bahwa setiap detik dalam hidupnya adalah anugerah yang harus disyukuri. Ia terbang kembali ke sarangnya dengan hati yang penuh kebahagiaan, menikmati senja dengan cara yang baru.

 

    Apakah tulisan ini membantu ?

    RisaNurul Akbar

    Add comment