Soloensis

Jepara Tetap Menjadi Sentra Ukir, Sragen Pun Tak Kalah Saing

WhatsApp Image 2024-06-15 at 19.59.21_51e66c41

Jepara memang terkenal sebagai kota ukir, namun tidak hanya di sana, seni ukir juga berkembang pesat di Sragen, tepatnya di Dusun Wonosari, Desa Banaran, Kecamatan Kalijambe. Di tempat ini, para pengrajin ukir telah berkarya selama kurang lebih 15 tahun.

Setiap ukiran membutuhkan waktu pengerjaan yang berbeda-beda. “Sebenarnya tergantung model ukiran yang dibuat. Karena sejak dahulu, kami membuat jenis atau model ukiran yang berbeda-beda. Untuk sekarang, ukiran yang dibuat untuk produksi kursi mungkin memakan waktu sekitar dua hari untuk satu set ukiran, tergantung tenaga dan kesibukan lainnya,” ujar Muljiono (55), seorang pengrajin ukir di Dusun Wonosari.

Jenis ukiran yang biasa dibuat di Dusun Wonosari cukup beragam. Ada tiga jenis ukiran yang populer, yaitu ukiran mawar, mahkota, dan blok. Untuk ukiran blok sendiri terdapat dua motif yaitu bambu dan daun. Proses pembuatan ukiran dimulai dengan pemotongan kayu sesuai kebutuhan, kemudian digambar dengan jiplakan yang sudah ada, lalu dilubangi dengan alat scoll saw, baru kemudian dilakukan tahap pemahatan atau ukiran sesuai dengan model yang diinginkan menggunakan alat pahat ukir.

Harga jual setiap ukiran bervariasi. Untuk satu set kursi ukiran dibanderol mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,4 juta. Namun, jika hanya membutuhkan ukirannya saja, harga berkisar antara Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu, tergantung jenis kayu dan tingkat kesulitan ukiran.

 

“Ditempat kami hanya membuat kursi ukiran, karena pengrajin di daerah biasanya hanya membuat satu atau beberapa jenis/model kerajinan tergantung pesanan dari tengkulak mebel masing-masing,” tambah Muljiono.

Di Dusun Wonosari, sistem penjualan tidak hanya langsung ke pembeli tetapi juga melalui tengkulak, sehingga lebih mempermudah pengrajin dalam menjual karya mereka.

    Apakah tulisan ini membantu ?

    RisaNurul Akbar

    Add comment