Soloensis

Hambatan-hambatan Dalam Menulis

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

1. Berhenti Menulis Karena Sibuk
Sebagai Ibu bekerja di luar rumah, saya harus pandai-pandai mengatur waktu. Meskipun tidak ada jadwal kegiatan sehari-hari tetapi saya juga mengalokasikan waktu untuk menulis. Sesibuk apapun hari ini, saya tetap mengusahakan harus menulis kecuali kalau badan tidak bisa diajak kompromi.

Sebenarnya kalau sudah menjadi rutinitas, menulis itu bisa dilakukan di sela-sela kegiatan yang lain. Saya salut dengan sahabat-sahabat penulis yang saya kenal lewat medsos. Saya perlu belajar, mencontoh kegiatan menulis para sahabat. Biasanya mereka menulis dengan cara mencicil. Mereka menulis tidak selalu sekali menulis lalu selesai.

Ada yang menulis dimulai pada pagi hari, 15 menit untuk menulis. Kemudian siang harinya menulis selama 15 menit. Pada sore hari dan malam hari masing-masing 15 menit. Total sehari semalam minimal mereka menulis selama 1 jam, tetapi tidak terasa lama. Ya, karena komitmen menulis sedikit demi sedikit, setiap hari dan konsisten.

Ada seorang sahabat yang menggunakan waktu menulis setelah shalat tahajud. Benar-benar memerlukan perjuangan! Tidak semua orang bisa melakukan ini, menulis setelah shalat tahajud. Bahkan kadang-kadang untuk bangun shalat tahajud saja godaannya banyak. Karena terlalu sibuk, akhirnya lelah. Karena lelah inilah jadi malas menulis. Kesibukan ternyata bisa menjadi hambatan dalam menulis.

Saya termasuk orang yang tak begitu sibuk, tapi membiarkan waktu luang hilang begitu saja. Hal ini terjadi bila berada di kantor. Keadaan memaksa saya untuk berhenti menulis meskipun ada waktu luang atau ada kesempatan padahal saat itu tidak mengajar. Satu tahun terakhir, saya tidak bisa leluasa untuk menulis ketika berada di kantor. Ada faktor tertentu yang membuat saya tidak bisa menulis sesuka hati.

Kalau kesibukan menjadi alasan tidak bisa menulis, maka kita perlu membuat agenda harian. Kita memerlukan jadwal untuk menulis. Katakanlah ada 4 waktu di mana kita harus menulis. Setiap waktu menulis, kita luangkan 10-30 menit. Dengan langkah ini semoga kesibukan kita tidak menjadi alasan kita tidak menulis.

Alangkah mudahnya bicara dan berandai-andai, tapi prakteknya sulit. Kita memang perlu menanamkan komitmen pada diri kita sendiri kalau perlu kita paksa. Semua berawal dari terpaksa juga boleh. Nanti kalau sudah menjadi kebiasaan, di saat apapun, kita tetap menulis. Sesibuk apapun kita tetap menulis.
Tetap semangat menulis dan jangan menunda menulis.

2. Bosan Dan Jenuh Merupakan Hambatan Menulis
Setelah saya menekuni kembali kebiasaan menulis, saya tidak mau menulis hanya musiman saja. Kadang menggebu-gebu lalu bosan dan jenuh, selanjutnya berhenti menulis. Dalam menulis, saya selalu memiliki target pencapaian.

Target yang akan saya capai tidak muluk-muluk agar saya bisa melampauinya. Misalnya target menulis setiap hari lalu memosting tulisan di blog dalam sebulan tanpa berhenti. Karena banyak tema, ide dan gagasan yang bisa saya tulis, maka saya tidak kehabisan materi untuk menulis.

Akan tetapi kalau kebetulan dalam bulan tertentu saya banyak pekerjaan sekolah yang harus segera saya selesaikan, maka memosting tulisan dua/tiga hari sekali sudah cukup. Yang penting dalam satu minggu blog diisi dengan tulisan yang baru.

Kalau menulis setiap hari, apakah saya tidak pernah bosan dan jenuh menulis? Saya tidak akan bosan menulis, karena inilah bentuk syukur saya. Dulu ketika SMA saya harus berjuang menulis dengan mesin ketik, di mana bila terjadi kesalahan dalam mengetik harus dihapus/di tip-ex. Belum lagi kalau tulisan kita beberapa baris ada yang salah, maka saya harus mengetik dari alenia awal pada halaman tersebut. Repot, bukan?

Kini setelah semuanya mudah dan saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam menulis, saya lebih semangat menulis. Bila suatu saat saya berhenti menulis dan tidak bisa dipaksa, berarti kondisi badan saya sedang tidak baik.

Bagaimana kalau kita mengalami rasa bosan dan jenuh dalaam menulis? Ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh agar kita bisa kembali menulis dan tidak berlama-lama bosan.

1). Berhenti menulis lalu membaca
Kalau sedang bosan dan jenuh menulis, maka kita memang harus menghentikan kegiatan menulis. Menulis bisa diganti dengan membaca. Bahan bacaan bisa dari buku, majalaah, tabloid, Koran, berita dari internet dan lain-lain. Selain untuk mengusir rasa bosan, membaca juga bisa mendatangkan ide. Jadi jangan anggap bosan menulis lalu tidak produktif sama sekali. Ketika akan membaca, kita tetap menyiapkan alat tulis. Siapa tahu ada ide menarik dari bahan bacaan.

2). Menyalurkan hobi
Ketika rasa bosan dan jenuh sedang mendera, kita bisa melakukan hobi lama yang sudah kita tinggalkan. Misalnya bersepeda santai mengelilingi perumahan, berbelanja di pasar tradisional dengan nuansa desa, berkebun, membuat rajutan/keterampilan, memasak makanan kesukaan, jalan-jalan di area persawahan, memotret dan lain-lain. Menekuni hobi tadi bisa kita jadikan bahan tulisan.

3). Refreshing
Hampir setiap kegiatan yang kita lakukan akan berimbas pada pengeluaran. Artinya setiap gerak-gerik kita sebagian besar berbayar. Berbayar karena memang apa yang kita lakukan membutuhkan biaya. Contoh refreshing keluar rumah. Kita butuh transportasi, butuh makan, butuh akomodasi. Tapi kalau keluar rumah di sini hanya di halaman rumah, tidak terlalu banyak biaya yang kita keluarkan. Namun demikian, kita bisa menekan pengeluaran kita bila kita melakukan refreshing diperhitungkan pengeluarannya sehemat mungkin. Misalnya, pilih tempat wisata yang dekat dengan rumah dan tiket masuknya murah. Lebih-lebih kalau ada penawaran berwisata gratis, ini yang kita tunggu-tunggu.

4). Berolahraga ringan
Kapan kita melakukan olahraga? Seharusnya olahraga dilakukan rutin setiap hari. Pilihlah olahraga ringan yang tidak membebani kita. Misalnya jalan-jalan, angkat barbell diganti angkat botol berisi air mineral (tidak perlu 1 liter), senam, dan lain-lain. Dengan olahraga ringan badan dan pikiran akan kembali segar lalu kita bisa mulai menulis lagi.

Sebenarnya masih banyak cara menghilangkan bosan dan jenuh. Semua kembali pada masing-masing penulis. Semoga bermanfaat.

3. Hambatan Menulis Itu Bernama Sakit
Bersyukur itu tak memerlukan syarat. Ucapkan syukur lalu berbuatlah sesuatu untuk menunjukkan rasa syukur kita. Nikmat Allah begitu banyak dan kita tidak bisa menghitung satu per satu. Lalu dengan nikmat yang sudah kita terima, mengapa kita tidak mau bersyukur?

Jangan keliru beranggapan bahwa nikmat tersebut hanya sebatas yang berwujud materi. Bukan, nikmat Allah yang kita terima bukan hanya berwujud materi. Waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat Allah yang sering kita lupakan.

Dengan waktu luang dan badan yang sehat, kita bisa melakukan banyak hal, bisa bersilaturahmi, bisa merasakan murah bahkan gratis menghirup udara segar. Bagaimana, masih belum bisa bersyukur? Baiklah, kita umpamakan nikmat sehat dari Allah dicabut dan kita sakit. Apa yang kita rasakan?

Biasanya, ini pada umumnya lo, orang akan berandai-andai bahkan mengucapkan sesuatu sebagai nadzar bila sedang sakit. Misalnya, kalau saya sehat saya bisa menjalankan ibadah shalat wajib berjamaah di masjid (padahal biasanya ketika sehat juga tidak pernah shalat berjamaah di masjid). Atau, besok kalau saya sudah sembuh maka saya akan semakin dekat dengan Allah (padahal selama ini biasa-biasa saja).

Saya sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan, selalu bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan kepada saya. Rezeki, harta benda, anak-anak dan suami yang sholeh dan sholehah, waktu luang, dan kesehatan, semua saya syukuri. Bentuk syukur saya adalah dengan menggunakan waktu luang, apa yang saya miliki, dan kesehatan dengan sebaik-baiknya.

Kesehatan mahal harganya. Bahkan sehat tidak bisa dibeli. Saya berupaya untuk menggunakan waktu luang dan kesehatan badan saya untuk hal yang bermanfaat, salah satu di antaranya adalah untuk menulis.

Banyak hal yang bisa saya tuliskan. Dari pekerjaan yang memang harus mendokumentasikan/mengarsip dokumen, menulis sebagai hobi dan menulis untuk berbagi. Ketiga kegiatan menulis tersebut saya nikmati sebagai bentuk rasa syukur saya atas waktu luang dan badan yang sehat, yang Allah berikan pada saya.

Kalau sudah menulis saya sering lupa waktu. Oleh karena itu menulis juga saya jadwalkan. Biasanya menulis saya lakukan pada malam hari sebelum tidur. Atau pulang sekolah sambil menunggu waktu untuk menjemput si kecil dari sekolah (setelah Asar). Karena menulis sudah menjadi kebiasaan, maka saya tidak pernah merasa terpaksa. Saya menikmati kegiatan menulis ini.

Ada beberapa teman saya yang mungkin menganggap saya terlalu memaksakan diri dalam menulis hingga malam hari. Mereka tidak tahu, kalau saya merasa rugi dan kehilangan sesuatu bila saya tidak menulis.

Lalu apakah saya bisa rutin menulis setiap hari? Agenda saya adalah menulis setiap hari. Tapi kalau tiba-tiba saya jatuh sakit dan tidak kuat untuk berhadapan dengan laptop, maka saya akan absen. Saya tidak menulis pada saat saya sakit.

Seperti kemarin sepulang sekolah. Tiba-tiba kepala pusing sebelah. Saya merasa hanya kurang tidur setelah dua hari mudik. Selain kurang tidur, jadwal makan saya juga terganggu alias makan tidak teratur, ditambah lagi saya sedang kedatangan tamu tiap bulan. Lengkap sudah, saya harus berdamai dengan nikmatnya sakit.

Kepala sakit sebelah, perut tak bisa diajak kompromi, keluar keringat dingin.
Pagi hari sebelum berangkat mengajar, kondisi kesehatan belum kunjung membaik. Saya merasa tidak kuat untuk mengendarai sepeda motor. Pasrah, mau tidak mau saya minta bantuan suami untuk mengantar jemput. Di sekolah 6 jam mengajar, saya tetap harus bertahan. Ketika sudah selesai dan suami siap mengantar saya pulang, saya pamit pada teman guru. Biasanya pulang jam setengah dua. Kali ini saya ingin istirahat dengan bobok manis.

Suami menyarankan saya untuk “nyate kambing” dulu. Saya memilih tongseng kambing. Sampai di rumah, menyantap nasi tongseng kambing, badan langsung bugar. Paling tidak saya sudah bisa beraktivitas di dapur dan mencuci pakaian. Dan akhirnya, saya bisa menulis kembali.

Ganjaran sakit merupakan salah satu hambatan menulis. Memang dengan sakit, saya harus beristirahat, saya tidak bisa menulis dan saya harus menikmati rasa sakit itu. Tapi dengan sakit itulah ada ide untuk menulis. Meskipun sakit merupakan hambatan untuk menulis, tapi saya tidak mau berlama-lama sakit. Setelah sembuh, jalan terus menulisnya. Semoga bermanfaat.

Sumber bacaan:
https://kahfinoer.blogspot.co.id/2017/01/berhenti-menulis-karena-sibuk.html
https://kahfinoer.blogspot.co.id/2017/01/bosan-dan-jenuh-merupakan-hambatan.html
https://kahfinoer.blogspot.co.id/2017/01/hambatan-menulis-itu-bernama-sakit.html

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Noer Ima Kaltsum

Ibu Rumah Tangga, Ibu dari 2 anak. www.noerimakaltsum.com

Add comment