Soloensis

Strategi Perbankan Syariah dalam Menghadapi Situasi Covid-19

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Penulis : Adelisa Firda Kusuma Dewi, Arum Maulida, Dian Hapsari

Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Drs. Osmad Muthaher, M.Si

Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Sultan Agung Semarang

 

Indonesia adalah salah satu negara dengan pemeluk agama islam terbesar didunia. Melihat fakta tersebut, majelisulama indonesia (MUI) dan ikatan cendekiawan muslim Indonesia (ICMI) dengan melibatkan pemerintah dan pengusaha muslim mendirikan bank syariah di Indonesia pada tahun 1991. Perbankan syariah merupakan suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum islam (syariah). Pada mulanya, kemunculan bank syariah dipicu oleh keinginal adanya jasa keungan yang sesuai prinsip syariah yang membangun suatu sistem perbankan tanpa praktik riba (bunga), maysir (perjudian), dan gharar (ketidakpastian), serta praktik lain yang tidak sesuai dengan prinsip islam.

Pertumbuhanperbankan syariah Indonesia akhirnya datang pada akhir bulan Oktober 2019. Seakan keluar dari kutukan market share 5 persen sejak  2014, per Oktober 2019 pangsa pasar perbankan syariah Indonesia mampu menembus angka 6 persen berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau sekitar Rp 513 triliun. Faktor pendukung terbesar dari pencapaian pangsa pasar ini adalah karena meningkatkan pertumbuhan aset perbankan syariah pada unit BUS dan UUS sebesar 10,15 persen secara dibandingkan  sebelumnya menjadi Rp 499,98 triliun. 

Dari sisi pertumbuhan pembiayaan, bank syariah mampu merealisasikan pertumbuhan double-digit-nya di angka 10,52 persen dibanding  sebelumnya menjadi Rp 345,28 triliun dan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp 402,36 triliun. Saat ini, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia dikuasai oleh 14 Bank Umum Syariah (BUS) atau sekitar 65 persen, sedangkan 32 persen pangsa pasar perbankan syariah di kuasai  20 Unit Usaha Syariah (UUS) dan dan sisanya di kuasai oleh165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). 

Akan tetapi pada akhir-akhir ini kita kedatangan tamu yang tentunya datang tak diundang dikarenakan tamu ini sangat meresahkan manusia di seluruh Negara yang ada di dunia, yang mana hampir seluruh aspek kehidupan di setiap Negara turun drastis mulai dari perekenomian hingga proses untuk menjalani kehidupan sehari-hari menjadi stagnan atau terhenti. Adapun tamu yang dimaksudkan di sini yaitu Virus Corona atau biasanya disebut Covid-19.

Virus ini sangat mematikan yang mana sampai saat ini jumlah kematian yang diakibatkan Covid-19 di Indonesia mencapai angka kematian 1.959 orang pada tanggal 10 Juni 2020 yang menyebar hampir seluruh pelosok negeri, dengan dampak yang sangat buruk dari virus ini mengakibatkan aktivitas kita menjadi terbatas yang hanya bisa berdiam diri di rumah guna mematuhi arahan dari pemerintah untuk memutus rantai penyebaran dari Virus Corona atau Covid-19.

Beberapa sektor usaha terdampak oleh wabah pandemi virus corona (Covid-19), termasuk di dalamnya adalah sektor perbankan. Oleh karena itu, agar sektor perbankan dapat tetap eksis di tengah pandemi virus corona, maka perbankan harus melakukan mitigasi resiko secara cermat, serta menggunakan strategi kreatif menghadapi kondisi yang serba tidak menentu saat ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan bunga, tetapi beroperasi dengan sistem bagi hasil dan margin.

Dalam Bank Syariah diterapkan bagi hasil sesuai kesepakatan porsi di awal akad dan akan dijalankan hingga akhir perjanjian. Besar laba di bank syariah bergantung pada keuntungan yang di dapat dari pihak bank. “rasionya akan meningkat seiring peningkatan keuntungan bank syariah tersebut.

Adapun strategi bank yang dapat di lakukan di tengah pandemi, yaitu :

Pertama, bank harus mengelola mitigasi risiko dengan tepat. Bank juga harus punya peta navigasi baru dan mengelola mitigasi risiko dengan tepat untuk dapat menghadapi krisis yang ada. Proses mapping debitur untuk proses restrukrisasi harus segera jalan dan jelas sehingga cashflow bank terlihat setelah melakukan treatment.

Kedua, bank harus fokus pada industry yang prospek untuk dibiayai. Bank harus tebang pilih pada sektor usaha yang eksis dan berkembang di tengah merebaknya wabah corona.

Ketiga, digital banking. Layanan produk dan jasa harus dikonversi menjadi digital banking. Proses tersebut harus berjalan bertahap dan inisiasinya dilakukan secara terus menerus.

Keempat, inovasi dan kreativitas bank. Korona menuntut bank harus semakin berinovasi. Misalkan, bank saat ini tidak hanya menuntut pembayaran angsuran dan bunga kredit oleh debiturnya. Namun, bank juga harus memikirkan untuk dapat membantu nasabah, melalui penjualan prosuknya.

Kelima, pendampingan dan konsultasi bisnis. Nasabah UMKM yang bisnisnya terganggu akibat Covid-19 mendapatkan pendampingan dan konsultasi bisnis oleh staf bank, yaitu relationship manager (RM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Peran RM tersebut, akan melakukan pendampingan sekaligus sebagai konsultan apabila pinjaman nasabah dilakukan restrukturisasi hingga proses restrukturisasi tersebut berjalan lancar.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana perbankan syariah mampu menjadikan krisis wabah ini menjadi sebuah kesempatan pembiayaan-pembiayaan baru di sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan alat kesehatan seperti ranjang rumah sakit, masker, ventilator rumah sakit, alat tes, vaksin, alat-alat rumah sakit dan lain-lain. Selain membantu para petugas medis, alat-alat ini juga mampu menahan penyebaran Covid-19. Maka dari itu, sudah saatnya perbankan syariah mulai mervisi kembali strategi mereka, mengubah budgeting mereka, dan merencanakan hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari jikalau penyebaran virus ini berkepanjangan hingga akhir .     

Daftar Pusraka :

https://m.republika.co.id/berita/q9tijc320/perbankan-syariah-hadapi-covid19-tantangan-dan-solusi

https://koranseruya.com/opini-7-strategi-pemasaran-produk-bank-syariah-dalam-menghadapi-masa-pandemi-covid-19.html

https://palopopos.fajar.co.id/2020/06/04/strategi-perbankan-syariah-lebih-unggul-di-tengah-pandemi-covid-19/

https://analisis.kontan.co.id/news/strategi-bank-menghadapi-covid-19

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Dian Hapsari

It'me dian

Add comment