Soloensis

Dari Wasis Hingga Peneliti

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Solopos. Sebuah koran yang memberi begitu banyak arti dalam hidupku. Setiap langkahku, Solopos menjadi keutamaan yang terlibat di dalamnya. Perkenalkan, namaku Pratika Rizki Dewi salah satu personil Wartawan Siswa (Wasis) angkatan ke XIV. Menjadi wasis adalah impianku sejak duduk di bangku SMP, bahkan aku telah giat berlatih menulis dan terlibat dalam rubrik gaul sesi curhat. Sebenarnya aku bukan orang baru dalam rekrutmen wasis. Pada awal SMA saat rekrutmen wasis XIII, aku berkesempatan untuk mengikuti tahap seleksi. Mungkin, pada waktu itu kemampuan menulisku masihlah terbatas, jadi aku belum berkesempatan menjadi personil wasis. Namun, kegagalanku tak menjadi sebuah alasan untuk menyerah ataupun berputus asa. Aku tetap pada keseharianku, yakni menulis.
Aku tak berhenti memantau aktivitas wasis, untuk generasi ke XIV aku harus terpilih. Iya, itulah yang menjadi semangatku. Benar saja, aku kembali berkesempatan mengikuti tahap seleksi dan akhirnya aku terpilih. Sebuah impian yang menjadi kenyataan, wajahku menghiasi rubrik gaul Solopos setiap minggunya. Bukan ingin eksis atau terlihat gaul, tapi inilah diriku seorang wasis XIV yang mencoba menggali potensi lebih dari sekedar menulis berita saja.
Hobiku memang menulis, tapi lebih dari itu. Aku bisa dibilang sebagai calon sejarawan. Aku menulis esai untuk berbagai perlombaan, tentunya esai yang berhubungan dengan sejarah. Gembalaku di wasis, mas Bambang Aris Sasangka (Bas) ikut terlibat mengarahkanku dalam menulis esai. Beliau menyediakan Solopos, sebagai sumber rujukan dari setiap esaiku. Pada waktu itu, aku mengangkat Benteng Vastenburg yang memang sedang diperbincangkan statusnya sebagai benda cagar budaya. Semua kerja kerasku terbayar, aku berhasil menjadi juara pertama lomba menulis esai sejarah tingkat nasional yang diadakan oleh salah satu universitas di Semarang (2014). Aku sangat bangga, sebagai wasis mempunyai kemampuan menulis yang semakin handal, terlebih berita kemenanganku tertulis dalam rubrik gaul Solopos.
Karierku sebagai seorang jurnalis sekaligus sejarawan baru saja dimulai. Aku melangkahkan impian menatap masa depan. Berawal dari wasis, berlanjut ke esai, dan sekarang aku mencoba untuk menjadi seorang peneliti. Di awal tahun 2015, aku mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Surakarta (OPSS). Dalam karyaku ini, aku mengambil tema tentang harmoni etnis Tionghoa. Hampir sebagian besar sumber rujukan, data penelitian, hingga berita pendukung kuambil dari Solopos. Iya, memang inilah jalan hidupku. Aku kembali menjadi juara pertama dan berhak mewakili Surakarta ke tingkat nasional yakni Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015. Selanjutnya di tingkat nasional, Solopos sangat membantu penelitianku. Bahkan bukan hanya mas Bas, melainkan ada mas Sunaryo Haryo Bayu dan mas Riyanta yang bersedia membantuku. Mereka menjadi narasumberku terkait masalah Kerusuhan Mei 1998. Campur tangan mereka, menjadikan aku lolos dalam tahap final OPSI. Ini langkahku, ini impianku, aku tak boleh gagal. Perjuanganku hingga ke tahap nasional tidaklah mudah, dan aku tak boleh menyianyiakan kesempatan ini. Berbekal semangat juang dan tekadku, aku berhasil meraih medali emas OPSI. Sekali lagi, aku terpampang dalam rubrik Solopos sebagai siswa berprestasi. Terlepas dari kebanggaanku, inilah persembahan untuk sekolahku, kota Surakarta, dan Solopos. Terimakasih Solopos, terutama wasis yang telah menjadikan aku berani untuk melangkah. Sebuah hal yang dapat kubagikan dari pengalamanku, “Jangan berhenti melangkah”. Solopos menginspirasi.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Pratika_Dewi

Peneliti-Sejarawan Indonesia
Wasis Solopos generasi XIV

Add comment