Soloensis

Mengenal Emboli Air Ketuban pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

images (32)

Emboli cairan ketuban (AFE) merupakan komplikasi kelahiran yang terjadi tiba-tiba dan mengancam nyawa ibu dan bayi. AFE ini akan segera terjadi ketika cairan ketuban ini telah masuk kedalam pembuluh darah sehingga menyebabkan penyumbatan. Lantas, apa jadinya jika mengalami kondisi tersebut dan bagaimana cara mengatasinya? Marilah kita simak ulasannya dengan lengkap pada artikel berikut ini.

Apa Itu Emboli Cairan Ketuban?

Emboli cairan ketuban (AFE) merupakan kondisi yang mengancam nyawa ibu dan bayi saat melahirkan atau setelahnya. AFE terjadi ketika cairan ketuban ini memasuki sirkulasi paru dan dapat menyebabkan kolapsnya sistem kardiovaskular pada ibu. Insiden AFE diperkirakan terjadi antara 1 dari 8000 dan 1 dari 80.000 persalinan. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa angka kematian akibat AFE mencapai 61-86%, namun sebuah perkiraan terbaru telah menunjukkan bahwa angka kematian sebesar 13-26%.

Penyebab Emboli Cairan Ketuban

Hingga pada saat ini, masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya emboli cairan ketuban pada seorang ibu yang ingin melahirkan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemungkinan besar emboli cairan ketuban disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem imun ibu terhadap zat dari ibu dan/atau bayi (cairan ketuban, sel janin, antigen ibu atau janin) yang akan masuk ke dalam aliran darah (sirkulasi). 

Plasenta yang rusak saat persalinan juga diketahui memicu respons imun pada beberapa orang dan menyebabkan AFE. Namun, para ahli belum bisa memastikan alasan mengapa hal tersebut hanya terjadi pada beberapa orang saja. Namun, ada beberapa faktor lain yang diduga juga meningkatkan risiko ibu hamil mengalami emboli air ketuban, baik faktor yang dimiliki ibu maupun janin. Faktor ibu antara lain:

  • Usia ibu hamil telah lebih dari 35 tahun.

  • Multiparitas.

  • Kontraksi yang intens selama persalinan.

  • Gangguan pada plasenta, misalnya plasenta previa.

  • Kehamilan kembar.

  • Preeklampsia atau eklampsia.

  • Melahirkan dengan metode induksi.

  • Cedera (trauma) pada lambung atau rahim.

  • Robeknya leher rahim.

  • Metode persalinan operasi caesar.

Sedangkan faktor yang berasal dari janin antara lainnya adalah sebagai berikut:

  • Gawat janin.

  • Kematian janin.

  • Bayi dengan jenis kelamin laki-laki.

Gejala Emboli Cairan Ketuban

Tanda dan gejala emboli cairan ketuban terjadi secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat. Gejala-gejala tersebut mirip dengan gejala komplikasi kehamilan dan persalinan lainnya sehingga membuat kondisi ini jauh lebih sulit dideteksi. Gejala yang mungkin terjadi antara lainnya adalah sebagai berikut:

  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.

  • Penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.

  • Edema paru.

  • Detak jantung.

  • Sianosis (bibir dan kulit kebiruan).

  • Pendarahan dari jalan lahir, tempat sayatan operasi caesar, atau tempat masuknya cairan IV.

  • Penurunan kesadaran.

  • Agitasi, kebingungan, atau kecemasan yang tiba-tiba.

Ada dua jenis AFE, yaitu AFE klasik dan atipikal. AFE klasik (tipikal) sendiri terdiri dari tiga fase. Fase 1 adalah terjadinya gangguan pernafasan dan peredaran darah, disusul fase 2 yang ditandai dengan gangguan koagulasi hemostasis ibu, dan fase 3 yaitu keadaan dimana telah terjadi gagal ginjal akut, yaitu sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), yang juga dapat menyebabkan kolaps kardiopulmonal.

Berbeda dengan AFE tipikal, gejala pertama yang muncul pada AFE atipikal adalah perdarahan yang mengancam jiwa akibat koagulasi intravaskular diseminata atau pembekuan darah. AFE atipikal biasanya terjadi selama atau segera setelah operasi caesar, ruptur serviks uteri yang parah, solusio plasenta, dll.

Cara Mengobati Emboli Air Ketuban

Emboli cairan ketuban merupakan kondisi darurat. Jika tidak segera ditangani, ini bisa menyebabkan ibu mengalami masalah medis yang mengancam nyawa, seperti kerusakan otak dan serangan jantung. Ada beberapa langkah tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi emboli cairan ketuban sebagai berikut:

  • Terapi oksigen untuk membantu ibu bernapas dengan normal dan menjaga suplai oksigen ke organ vital.

  • Resusitasi jantung paru dilakukan jika ibu mengalami henti napas atau jantung.

  • Resusitasi cairan untuk meningkatkan volume darah.

  • Melakukan transfusi darah untuk menggantikan darah yang telah hilang akibat pendarahan.

  • Pemberian obat-obatan untuk bisa mengatasi gangguan akibat AFE, seperti pemberian obat untuk mulai memperkuat fungsi jantung atau bahkan menghentikan pendarahan.

Komplikasi Emboli Cairan Ketuban

AFE seringkali terjadi secara tiba-tiba dan bisa sangat berbahaya bagi ibu dan janin. Itu sebabnya, kondisi ini memerlukan penanganan medis darurat. Pada stadium lanjut, AFE dapat menyebabkan gagal jantung dan paru pada ibu akibat kekurangan darah yang mengandung oksigen dalam tubuh. Ibu dengan penderita AFE juga dapat mengalami pendarahan yang tidak terkontrol dari rahim atau sayatan operasi caesar. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kejang, stroke, kerusakan otak, bahkan kematian.

Ibu yang melahirkan dengan emboli cairan ketuban memerlukan perawatan intensif dan pemantauan ketat di unit perawatan intensif (ICU). Selain itu, bayi yang lahir dari ibu dengan kondisi ini juga perlu dipantau di unit perawatan intensif neonatal (NICU), terutama jika kondisi bayi tidak stabil. Meski sangat sulit sekali untuk dicegah karena kerap terjadi secara tiba-tiba, namun ibu hamil masih tetap perlu untuk  melakukan antisipasi sedini mungkin dengan cara memeriksakan diri secara rutin ke dokter kandungan.

Demikian ulasan tentang Mengenal Emboli Air Ketuban pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai seperti yang dilansir alexistogel login, semoga bermanfaat.

    Apakah tulisan ini membantu ?

    Add comment