Soloensis

Mengirim tulisan ke Media

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Menulis pada dasarnya sama dengan profesi lain karena dapat dipelajari dan dikerjakan. Orang dapat membiasakan diri merefleksikan peristiwa kemudian ditulis dalam sebuah gagasan berupa surat, artikel atau menjadi sebuah buku.

Banyak sekali gagasan dan ide sederhana sehari-hari muncul di otak kita. Namun bagaimana ide tersebut dapat menjadi sebuah tulisan kemudian “dijual”. Yang penting bila dalam otak kita sudah terkumpul ide segera ditulis, karena bisa lupa setelah berganti suasana.

Lalu bagaimana cara menulis dan “dijual” ke media massa ?

Pertanyaan sederhana itu sering muncul bahkan berulang-ulang. Jawabannya, bahwa kita ingin menyampaikan pesan, ide, gagasan untuk beraktualisasi diri. Karena menulis akan mendatangkan kepuasan batin apalagi saat dimuat di media massa sebab akan dibaca banyak orang. Lebih lebih bila ada apresiasi tanggapan dari pembaca lainnya.

Lalu tulisan apa yang laku di jual? Jawabannya bermacam-macam. Dalam sebuah Koran/ majalah (media massa) berkaitan dengan 9 prinsip jurnalisme akan menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik. Diskusi publik ini bisa melayani masyarakat dengan baik, disini berbagai pandangan dan kepentingan masyarakat terwakili. (Jurnalisme Dasar, 2005 hal 12)

Di area inilah publik (kita) diberi ruang untuk menulis. Ada artikel/ opini/ kolom/ resensi buku, menulis cerpen, menulis feature, kolom remaja dan anak-anak. Di tempat ini tulisan kita dapat dijual dan mendapatkan imbalan. Imbalan yang diterima bervariasi tergantung dari besar kecilnya media massa (lokal/nasional). Imbalan berkisar antara Rp. 50.000 untuk majalah atau Koran lokal sampai maksimal Rp. 1.000.000 untuk Koran nasional.

Tetapi ada sebuah tempat (space) untuk publik menuliskan gagasan yang tidak mendapatkan imbalan namun tidak kalah penting dan berguna. Bahkan melalui forum ini kita dapat menjadi penolong bagi sesama. Surat Pembaca menjadi penting di baca karena biasanya berisi masalah aktual dan dialami sendiri oleh penulisnya.

Karena dasarnya menulis adalah kebiasan mengkomunikasikan gagasan untuk kepentingan orang lain. Oleh karena itu melalui Surat Pembaca ini, marilah kita memulai menulis di media massa. Sebab tidak diperlukan keahlian khusus untuk mempelajarinya. Sekali dimuat meski tak dapat bayaran akan menjadi ketagihan. Seperti yang dilakukan komunitas penulis surat pembaca (Epistoholik Indonesia).

Kalau tidak percaya, ( https://episto.blogspot.co.id/) Dan silahkan mencoba!

Selain mudah, surat pembaca pasti akan dimuat asal dilampiri foto kopi KTP atau tanda pengenal lain yang masih berlaku. Memang ada beberapa Koran yang sudah “menggurita” melakukan seleksi terhadap surat pembaca yang masuk.

Tulisan tidak dimuat jangan terus putus asa. Selalu mencoba dan mencoba. Karena apa yang seharusnya ditulis sangat banyak dan beragam.

Sejalan kecanggihan tekhnologi, ketentuan tulisan yang dikirim ke media massa tidak mengharuskan dikirim dalam bentuk ketik (print out). Dikirim dalam disket maupun melalui surat elektronik (E-mail) pihak media akan menerima, asal diberi data lengkap penulis termasuk nomor telepon yang mudah dihubungi.

Perlu disadari sebagai penulis pemula jangan merasa bila tulisan ditolak/ tidak dimuat berarti kiamat. Redaksi menolak biasanya karena alasan topik kurang aktual, penyajian terlalu summir (kurang jelas), berkepanjangan, tidak mengandung unsur baru atau penyampaian kurang menarik.

Kita harus menyadari kemampuan/kompetensi kita. Seorang guru yang bergumul dengan masalah sosial dan pendidikan lalu menulis tentang sains, ekonomi atau tekhnologi. Maka redaksi akan bertanya darimana dapat sumber-sumber bahan dari penulisan. Begitu seorang ahli hukum menulis tentang teknologi atau ilmu eksak.

Saatnya kita mulai berani mengirimkan tulisan kita ke media massa (cetak) apapun juga. Berani meninggalkan budaya lesan yang mudah berubah.

Siapkan mental dan semangat serta jangan mengenal lelah. Tidak dimuat berarti perlu direfleksikan dengan membaca ulang coretan yang pernah kita tulis. Selamat mencoba.

(www.fxt.blogspot.com)

#soloensis

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
fxtriyas

fxtriyas

guru

3 comments