Soloensis

PEMBELAJARAN DARING

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

PEMBELAJARAN DARING

Faidhatul Inayah

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Imam Setijawan, SE., Akt., M.S.Ak

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

 

Sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah. Solusinya, guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online).

Hal ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda.

Semua sektor merasakan dampak corona. Dunia pendidikan salah satunya. Dilihat dari kejadian sekitar yang sedang terjadi, baik siswa maupun orangtua siswa yang tidak memiliki handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini merasa kebingungan, sehingga pihak sekolah ikut mencari solusi untuk mengantisipasi hal tersebut. Beberapa siswa yang tidak memiliki handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok, sehingga mereka melakukan aktivitas pembelajaran pun bersama. Mulai belajar melalui videocall yang dihubungkan dengan guru yang bersangkutan, diberi pertanyaan satu persatu, hingga mengapsen melalui VoiceNote yang tersedia di WhatsApp. Materi-materinya pun diberikan dalam bentuk video yang berdurasi kurang dari 2 menit.

Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi siswa, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota) yang mereka miliki, sedangkan orangtua mereka yang berpenghasilan rendah atau dari kalangan menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran daring.

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti pembelajaran daring sehingga kurang optimal pelaksanaannya.

Solusi atas permasalahan ini adalah pemerintah harus memberikan kebijakan dengan membuka gratis layanan aplikasi daring bekerjasama dengan provider internet dan aplikasi untuk membantu proses pembelajaran daring ini. Pemerintah juga harus mempersiapkan kurikulum dan silabus permbelajaran berbasis daring. Bagi sekolah-sekolah perlu untuk melakukan bimbingan teknik (bimtek) online proses pelaksanaan daring dan melakukan sosialisasi kepada orangtua dan siswa melalui media cetak dan media sosial tentang tata cara pelaksanaan pembelajaran daring, kaitannya dengan peran dan tugasnya.

Kaitannya Pembelajaran Daring dengan 3 Teori  Etika Profesi, yaitu:

1.   Etika Utilitarianisme (memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan).

Berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory).

Manfat dari pembelajaran daring adalah:

§  Kapasitas Belajar yang Lebih Banyak

Belajar secara daring akan memberi siswa kendali penuh atas pembelajaran mereka dan siswa dapat bekerja dengan kecepatan mereka sendiri. Umumnya siswa bekerja lebih cepat dan memproses informasi dengan kapasitas lebih besar. lnilah mengapa belajar daring dianggap lebih baik dilakukan dalam periode belajar yang lebih pendek daripada ketika di kelas agar anak tidak lelah.

§  Membantu Menjaga Perilaku Disiplin

Sama halnya seperti bersekolah, belajar secara daring juga memberikan kesempatan bagi para siswa untuk menjaga perilaku baik melalui interaksi sosial dengan guru maupun teman-temannya. Selain itu, sistem ini juga dapat menjaga sikap bertanggungjawab ketika diminta mengerjakan tugas-tugas dari guru. Hal itu diharapkan dapat menghindari anak dari sikap malas dan acuh tak acuh selama pandemi panjang berlangsung.

§  Anak Akan Tetap Bahagia

Siswa yang tetap mengikuti sekolah secara daring akan lebih bahagia daripada anak berhenti bersekolah sama sekali selama pandemi.

2.      Etika Deontologi (Teori kewajiban).

Jika seseorang murid diberi tugas oleh gurunya dan melaksanakannya sesuai dengan tugasnya maka itu dianggap benar, sedangka dikatakan salah jika tidak melaksanakan tugas itu.

 

3.      Virtue ethics (Etika kebajikan).

Untuk pembelajaran daring pada masa darurat Covid-19 sebaiknya harus mampu mengasah kecerdasan otak, kehalusan budi pekerti dan ketrampilan tangan. Menurutnya melalui sistem among dengan pola momong bisa menjadi penyeimbang dengan pembelajaran jarak jauh. Harus diimbangi ngemong  dan among secara asah, asih, asuh untuk mengolah cipta, rasa, karsa melalui wiraga, wirama, wirasa sehingga pendidikan tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, budi pekerti, kebangsaan dan peradaban luhur nusantara.

Pembelajaran Daring menurut aturan Islam

Dalam sistem pembelajaran daring ini sebenarnya tidak cukup dengan hanya menyiapkan infrastruktur berupa jaringan dan platform aplikasi. Ada tuntutan yang justru lebih sulit dari itu, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan para pelajar. Kesiapan SDM dan pelajar ini mutlak diperlukan. Sebab tidak ada gunanya infrastruktur dan fasilitas baik jika para pengguna seperti SDM guru dan pelajar tidak siap menjalankannya. Sedangkan untuk menyiapkan SDM dan pelajar, hal ini perlu dilakukan sosialisasi secara masif dan terstruktur.

Kesuksesan pembelajaran daring selama masa krisis Covid-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Akan tetapi, fakta di lapangan pun berkata berbeda. Masih banyak siswa yang terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas selama belajar dari rumah, ditambah lagi dengan orang tua murid yang merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan banyaknya tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis saat ini.

Beginilah yang terjadi ketika sistem sekular kapitalis yang diterapkan. Semua pihak, baik para siswa, guru (sekolah) dan pihak orang tua (keluarga dan masyarakat) akan berhadapan dengan sistem pendidikan yang tidak jelas arah dan tujuan.

Kurikulum yang berubah-ubah, sistem administrasi dan standarisasi keberhasilan pendidikan yang juga berubah-ubah, termasuk program sertifikasi dan standarisasi kompetensi, serta standarisasi ketuntasan materi pelajaran dan sistem ujian nasional yang bisa dikatakan memusingkan. Semakin terlihat sistem pendidikan yang dijalankan adalah sistem yang asal jalan, dan negara sungguh nampak tidak peduli sistem pendidikan ini mau dibawa ke mana.

Untuk mencapai itu semua tidak bisa kita lepaskan dari peran negara dalam menyiapkan kurikulum, metode, biaya juga sarana yang mendukungnya. Jadi, dalam kondisi apapun, normal maupun pandemi atau lainnya, tujuan pendidikan harusnya tidak berubah. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah seharusnya negara memiliki kesungguhan dalam memberikan pelayanan terbaik untuk warga negaranya.

Berbeda dengan tujuan pendidikan dalam Islam. Pendidikan Islam bertujuan untuk membangun kepribadian Islam (pola pikir dan perilaku Islami), memiliki ilmu Islam dan menguasai ilmu terapan. Islam sebagai sebuah agama, tidak membatasi peserta didik hanya menguasai ilmu agama saja.

Ilmu terapan juga penting dikuasai karena Islam akan memimpin peradaban dunia. Di sinilah letak urgensitas ilmu dan dampaknya terhadap diri, masyarakat dan negara. Peradaban Islam diraih karena kaum muslimin memahami betul keutamaan mempelajari ilmu Islam sebagaimana anugerah yang Allah janjikan dalam firman-Nya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (TQS Al Mujadilah : 11)

Dengan demikian, negara Islam menyadari bahwa pendidikan merupakan hajat atau kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang akan memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu terapan dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Dan tanggung jawab penyelenggaraan proses pendidikan baik sarana maupun media yang memadai ada pada negara.

Negara akan hadir menyiapkan standar kurikulum shahih yakni kurikulum yang terintegrasi dengan akidah Islam, menetapkan metode pembelajaran yang baku dalam proses belajar mengajar. Menyediakan pula tenaga pengajar yang berkualitas berikut kompensasi kesejahteraannya yang mencukupi.

Negara juga mendorong dan memfasilitasi orang tua untuk meningkatkan kemampuannya mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan yang diharapkan. Yakni lahirnya individu-individu terbaik yang memiliki syakhsiyah Islamiyah, faqih fii ad-Din, terdepan dalam sains dan teknologi serta berjiwa pemimpin.

Pasalnya, pendidikan beserta  perangkatnya harus berkontribusi membentuk kemajuan Islam secara gemilang. Melalui pendidikan ini pula lah generasi mujtahid akan kembali tercipta hingga peradaban gemilang Islam dikenal hingga penjuru dunia.

Berbeda dengan saat ini, dalam kondisi normal saja murid sudah terbebani dengan tuntutan kurikulum, ditambah kondisi sekarang yang terkena wabah, murid semakin terbebani karena fasilitas sangat tidak memadai. Belajar menjadi sebuah tekanan dan tidak menyenangkan, sebab arah serta tujuan dari pembelajaran itu sendiri hanya mengejar nilai secara akademis yang bersifat parsial.

Islam memiliki aturan komprehensif yang tidak hanya menyelesaikan permasalahan pendidikan. Bukan hanya ketika di kondisi normal saja, tetapi juga di kondisi wabah seperti saat ini. Penyelenggaraan pendidikan akan berjalan ideal dalam situasi apa pun, tak bertumpu pada keadaan, dan semua pihak siap menjalankan secara maksimal tugasnya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Referensi:

https://bdkjakarta.kemenag.go.id/berita/efektivitas-pembelajaran-daring-di-masa-pandemi-covid-19

https://www.tintasiyasi.com/2020/04/pembelajaran-sistem-daring-efektifkah.html

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

faidhatul inayah

mahasiswa

Add comment