Soloensis

Membangun Identitas, Meraih Kenikmatan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Term “identitas” dan “kenikmatan” menjadi inti pembahasan buku yang—menurut saya–“aduhai” ini. Saya menangkapnya sebagai laku membangun identitas untuk menggapai kenikmatan. Identitas yang dipaparkan dalam buku ini bisa bermakna identitas pribadi maupun identitas kolektif.

Sedangkan kenikmatan yang dipaparkan dalam buku ini juga bisa bermakna kenikmatan pribadi maupun kenikmatan kolektif. Kerangkanya saja yang mungkin “abstrak”, yaitu tentang budaya, kebudayaan, zaman, yang semuanya berkonteks ruang dan waktu.

Ketika selesai membaca buku ini saya mendapatkan pencerahan tentang beberapa pertanyaan sepele yang beberapa tahun terakhir ini mengganggu pikiran saya, salah satunya pertanyaan: mengapa film Ayat-Ayat Cinta begitu digandrungi banyak orang?

Pertanyaan lainnya adalah: mengapa setelah sekian puluh tahun, generasi telah berganti, hantu komunis—lebih tepat lagi Partai Komunias Indonesia–masih selalu dibangunkan dan dibangun menjadi sesuatu yang “aduhai” dalam konteks peradaban kita era sekarang.

Masih ada satu pertanyaan lagi, yaitu: mengapa film Catatan Si Boy (seingat saya film ini dibikin sampai lima seri) pada era 1980-an (sata itu saya masih kecil, masih bersekolah di sebuah SD di kaki Gunung Merapi di wilayah Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta) menjadi film yang kemudian seakan-akan menjadi acuan gaya hidup remaja era itu?

Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia adalah buku termutakhir karya Dr. Ariel Heryanto, profesor di The School of Culture, History, and Language, Australian National University’s, Australia. Buku ini diterbitkan Kepustakana Populer Gramedia pada Juni 2015.

Buku ini berjudul asli The Politics of Indonesian Screen Culture terbit pada 2014, penerbitnya  NUS Press Singapore.  Buku ini tipe nyaris selesai baca. Ariel Heryanto sebelumnya adalah dosen di Universitas Satya Wacana, Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga, Jawa Tengah (Jateng).

Buku ini membahas budaya pop yang terkait dengan politik dan identitas. Buku ini membahas kenikmatan dari karya budaya pop, sekaligus semacam elaborasi hasil penelitian Ariel dan pemikirannya sejak lama.

Ada tiga narasi besar yang dieksplorasi dalam buku ini, yaitu Islam (dalam term islamisasi, islamisme, islamis, dan sebagainya), sejarah—yang kian banyak variasinya—ihwal peristiwa Gerakan 30 September 1965, dan eksistensi warga etnis Tionghoa. Ada satu lagi yang juga jadi pembahasan di buku ini, yakni soal perempuan.

Memahami buku ini memang harus memahami dulu—walau sepintas—dasar teori dan kerangka pembahasan yang digunakan Ariel. Buku ini sebenarnya hasil riset bertahun-tahun dengan kerangka kerja metode ilmiah yang ketat dan penyajiannya dalam bentuk buku juga menggunakan kerangka berpikir ilmiah.

Istimewanya, buku ini menggunakan narasi yang “renyah”, “sedap”, “mengalir”, dan bahasa sederhana sehingga kerangka berpikir dan laku riset yang sesungguhnya rumit dan butuh kening selalu berkerut itu menjadi teks yang sederhana, menarik, selesai sekali baca, dan  tentu mudah dipahami.

Objek penelitiannya adalah budaya populer. Kerangka pembacaan gejala-gejala sosial yang terjadi dalam waktu puluhan tahun dibedah dengan kerangka perkembangan budaya populer. Secara khusus, budaya populer yang digunakan untuk membedah gejala-gejala sosial dengan tiga narasi—eh empat—besar di atas adalah budaya layar atau film, film layar lebar, film yang diputar di bioskop. Film yang “mengundang” kerumunan massa untuk melihatnya.

Dalam pemaknaan saya, Ariel sangat serius dan akurat—karena menggunakan metode ilmiah yang ketat—mengkaji perkembangan budaya populer—khususnya film–dalam periode beberapa tahun, bahkan puluhan tahun, yang bisa menjadi sarana membaca sebagian perkembangan kebudayaan dan peradaban masyarakat Indonesia.

Term “identitas” dan “kenikmatan” itu diidentifikasi dan dikaji secara panjang lebar dengan kerangka analisis budaya layar atau film. Setelah membaca tuntas buku ini, saya berkesimpulan “identitas” yang dimaksud Ariel bisa bermakna hakiki, yaitu kebutuhan seseorang untuk “disebut”, “dianggap”, “dinilai” sekaligus sebagai bagian dari sebuah komunitas—kecil maupun besar—yang menjadi bagian perkembangan peradaban dan kebudayaan.

Sedangkan term “kenikmatan” bisa bermakna banyak hal. Term “kenikmatan” bisa bermakna hakiki dalam konteks pribadi manusia, misalnya ketika menjadi bagian dari “kerumunan massa” penonton film Ayat-Ayat Cinta (sutradara Hanung Bramantyo) berarti mendapat “kenikmatan” sebagai bagian dari arus besar komunitas/masyarakat yang gemar dengan film-film islami.

Secara sederhana saya menangkap salah satu dasar teori yang digunakan Ariel dalam riset ihwal budaya populer—film—yang kemudian menjadi pokok pembahasan buku ini adalah teori tentang post-islamisme dan post-sekularisme.

Post-islamisme yang digunakan sebagai kerangka teori, dalam pemaknaan saya secara sederhana, adalah langkah, laku, strategi setelah penggunaan segala daya dan upaya mengusahakan Islam—nilai-nilai Islam—menjadi terlembaha secara formal. Di Indonesia langkah ini dilakukan oleh partai-partai berbasis massa Islam atau berasas Islam yang ternyata, kini bisa kita lihat, gagal mewujudkan cita-cita mereka.

“Kegagalan” ini kemudian memunculkan langkah, laku, strategi di tengah masyarakat untuk mengusung nilai-nilai Islam secara cultural atau juga secara politik tapi tanpa jaminan penggunaan kekuatan-kekuatan otoritas formal kenegaraan.

Post-islamisme ini yang kemudian memunculkan gaya hidup yang diidentikkan dengan Islam. Film, busana, musik, bacaan, dan sebagainya menjadi salah satu manifestasi yang terlihat nyata. Dalam buku ini, Ariel menggunakan film sebagai objek riset dan analisisnya. Konteks subjeknya adalah orang-orang yang tidak anti-Islam, bukan non-islami, dan bukan juga sekuler.

Teori post-islamisme yang digunakan Ariel adalah modifikasi dari teori post-islamisme Dr. Asif Bayat. Penjelasan panjang lebar ihwal post-islamisme ala Asif Bayat ini bisa dibaca di buku Pos-Islamisme (judul asli: Making Islam Democratic: Social Movements and Post-Islamist Turns) yang diterbitkan LKiS Yogyakarta pada 2012.

Dr. Asif Bayat adalah seorang scholar terkemuka dari Universitas Leijden, Belanda. Ia banyak meneliti tentang studi Islam kontemporer, terutama gerakan sosial Islam. Buku Making Islam Democratic didasarkan studi Bayat mengenai perkembangan gerakan Islam di Iran dan Mesir, dua negara yang banyak dihuni oleh gerakan Islamis.

Apakah Islam sesuai dengan demokrasi? Pertanyaan ini, menurut Bayat, keliru dan tidak relevan. Persoalannya bukan pada sesuai tidaknya Islam dan demokrasi, tetapi bagaimana proses adaptasi yang dilakukan umat Islam sehingga ide demokrasi bersesuaian dengan realitas umat.
Gerakan sosial di Iran dan Mesir yang menjadi subjek penelitian Bayat punya dua pendekatan berbeda dalam mengartikulasikan “islamisme”. Gerakan-gerakan di Iran memilih “serangan frontal” atas simbol-simbol kekuatan Islam yang diinterpretasikan oleh Negara.

Di Mesir lebih menggunakan  “perang posisi” –meminjam wacana Gramscian— vis-a-vis negara Ini yang disebut oleh Asif Bayat sebagai “post-Islamisme” atau tren-tren pergeseran wacana dalam sebuah ranah besar gerakan islamisme.

Di Iran gerak islamisme lebih inklusif dan pro-kebebasan. Di Mesir mengalami fenomena yang berlawanan, yaitu mengarah pada “Islamisasi ruang publik”. Perbedaan ini disebabkan struktur politik yang berbeda. Iran menampilkan struktur politik yang kental dengan nuansa Islam sementara Mesir justru kental dengan sekularisme dan ide-ide sosialisme.

Secara struktur politik dekat dengan Mesir dan Turki yang memperlihatkan perlawanan kaum Islamis vis-a-vis rezim sekular,  Indonesia tidak serta-merta memperlihatkan gejala islamisme yang inheren dengan kedua negara tersebut.

Radikalisme keagamaan di Indonesia disebabkan bukan oleh kuatnya identitas “agama” para pemeluknya, tetapi justru oleh desakan ekonomi dan politik yang gagal dipenuhi oleh rezim politik. Hal ini dipertegas oleh fragmentasia Islam politik yang mengambil jalur moderat, nonviolent, atau demokrasi formal (PKS, HTI, dll) dengan Islam politik yang jalurnya radikal.

Proses Islamisasi dan sekularisasi tidak akan terjadi secara total karena kedua proses tersebut berjalan secara simultan dan beriringan. Islamisasi bergerak dari bawah secara kultural melalui pembudayaan di masyarakat. Sekularisasi difasilitasi negara Hindia-Belanda dan juga diwariskan dalam struktur politik kontemporer Indonesia.

Keduanya terus memainkan dialektika sejak kemerdekaan hingga saat ini. Kaum “Islam politik” boleh mengonsolidasi diri di parlemen, dalam wujud partai politik yang pekat dengan nuansa keislaman, misalnya, tetapi mereka tetap tidak memiliki akar yang kuat dalam wadah keindonesiaan. Gejala Islamisasi itu terbentuk secara kultural dalam wadah-wadah organisasi kemasyarakatan macam NU atau Muhammadiyah.

Proses demokratisasi yang telah bergulir sejak 1998 membawa perubahan wacana di kalangan Islamis. Sebelum 1998, kalangan Islamis berkutat pada dakwah yang tanzhimi (berorientasi perkaderan dan struktur organisasi tertutup), pasca-1998 dakwah mereka mulai masuk pada ranah politik formal (parpol atau ormas).
Orde Baru menentukan segala sesuatu dari atas, menjadi pengendali tunggal, termasuk mengendalikan wacana dan karya budaya selama 30 tahunan. Ketika Orde Baru runtuh terjadi kekosongan. Banyak pihak berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan merumuskan kembali laku dan arti “menjadi Indonesia”.

Sedangkan kerangka post-sekularisme saya tangkap sebagai kondisi budaya dan masyarakat Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru, lebih awal lagi, menjelang masa kejatuhan Orde Baru. Yaitu ketika Soeharto secara politik mulai memberi ruang kepada kekuatan-kekuatan politik Islam dalam konstruksi pemerintahan represif kala itu.

Sekulerisasi sebenarnya menjadi strategi dominan yang digerakkan Soeharto dan rezim yang dia pimpin. Kemunculan “lautan jilbab” (silakan membaca puisi Emha Ainun Nadjib yang sangat populer pada era 1980-an hingga 1990-an) adalah bagian dari strategi perlawanan terhadap sekulerisasi ala Orde Baru ini. Post-sekulerisasi menghasilkan elemen-elemen gerakan sosial berbasis Islam—nilai-nilai Islam, simbol-simbol Islam—yang bertujuan membangun peradaban yang lebih baik.

Post-sekulerisasi dan post-Islamisme ini menjadi kerangka pembacaan menjadi Indonesia. Menjadi Indonesia itu—dalam buku ini—terwujud dalam laku setelah “Islam” dan setelah “sekuler” yang terjadi secara simultan. Buku ini menjelaskan laku masyarakat biasa merumuskan arti ”menjadi Indonesia”  dengan laku merespons budaya layar (=saya suka menyebutnya budaya visual) seperti film, televisi, Youtube, dan lain-lain. Dalam buku ini pokok pembahasannya adalah film.

Dalam Bab III buku ini, Ariel menjelaskan semangat post-islamisme di Indonesia muncul dalam situasi yang berbeda bila dibandingkan dengan di Mesir dan Iran, sekalipun terdapat kesamaan ciri-cirinya. Islamisasi (Bab II) menjadi satu-satunya ciri paling mencolok yang mewarnai dekade pertama Indonesia sesudah Orde Baru (1966-1998), sekalipun islamisasi memiliki sejarah lebih panjang dengan kebangkitan dramatis Islam dalam kehidupan publik pada decade 1990-an, nyaris satu dekade sebelum kejatuhan Orde Baru.

Perubahan cepat dominasi media dari cetak  ke televisi kemudian ke online adalah penanda hadirnya zaman baru yang mengubah pandangan orang tentang ruang dan waktu.  Pada 1960-an masyarakat Amerika Serikat (AS) geger melihat anak-anak muda mereka keranjingan nonton televisi seperti saat ini masyarakat Indonesia geger melihat anak muda yang gandrung smartphone.

Cara mendapat kenikmatan (hiburan) berubah drastis. Perubahan ini diikuti dengan perubahan identitas. Perubahan identitas yang diamati Ariel Heryanto terkait dengan agama Islam, G 30 S, etnis Tionghoan, perempuan. Pertarungan merumuskan identitas baru untuk mengisi kekosongan melalui budaya layar menjadi inti pembahasan.

Indonesia mendapat rahmat luar biasa karena mampu menampung berbagai budaya yang diintegrasikan ke budaya lokal, namun tidak saling menindas. Kini tidak ada lagi yang namanya budaya asli. Semuanya adalah budaya hibrid. Budaya pop Korea Selatan (Korsel) diadopsi dari Jepang dan Jepang mengambilnya dari Barat.

Identitas dan kenikmatan selalu beriringan. Tidak ada yang lebih nikmat daripada mengafirmasi identutas. Tak sedikit di antara kita beranggapan budaya populer itu semacam barang buangan efek samping pembangunan. Budaya populer cuma dianggap industri kapitalis yang mendegradasi kekritisan generasi muda.

Perdana Putri dalam resensi buku ini yang diunggah di indoprogress.com menjelaskan budaya populer adalah wadah antaridentitas yang saling berkontradiksi ataupun akur satu sama lain, yang dibentuk oleh struktur masyarakat yang terdapat relasi antara faktor-faktor ekonomi, politik. dan kebudayaan.

Budaya populer tidak an sich hanya persoalan ”suka ini suka itu, seleraku” semata, juga tidak ujug-ujug ada melainkan diciptakan. Budaya populer sebenarnya dapat dijadikan contoh refleksi yang baik dalam mengevaluasi, mengkritik, dan menganalisis sistem nilai yang berlaku di masyarakat.

Saat membicarakan Islam, menurut Perdana Putri, mungkin bagi kita yang hidup di zaman sekarang akan terheran-heran melihat begitu terpecahnya karakter penganut agama tersebut. Ada Islam konservatif, moderat, hingga konservatif-moderat.

Ada gejala post-islamisme pada generasi muda muslim-muslimat perkotaan Indonesia. Generasi tersebut ingin tetap menikmati selera kebudayaan dan kemerdekaan mereka, tapi juga “tanpa mengorbankan keimanan(nya)” .

Film Ayat-Ayat Cinta adalah satu contoh yang diambil Ariel, yang menurut saya, sangat aduhai. Pembahasan Ariel ihwal film ini yang cukup panjang lebar dalam  buku ini menjawab tuntas pertanyaan saya: mengapa film yang tereksan islami walau substansinya tidak islami ini mampu menarik minat lebih dari dua juta penonton di Indonesia?

Film ini adalah contoh faktual dakwah Islam di ranah budaya populer. Film ini membicarakan Islam dengan bahasa anak muda masa awal 2000 dan berusaha mempertahankan nilai-nilai Islam yang dibawa dalam film itu (hlm. 85-88).

Saya sepakat pendapat Perdana Putri bahwa film ini tidak bersifat ”didaktik”, tidak menggurui penontonnya mengenai nilai Islam yang menjadi jalan cerita narasi film. Versi asli Ayat-Ayat Cinta berupa novel karya Habiburrahman El Shirazy tak selaku versi filmnya.

Film Ayat-Ayat Cintasangat laku dan mendapatkan perhatian yang begitu besar dari media, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menonton film ini dan sebagaimana diberitakan Kompas, ia “berkali-kali mengusap air mata (menangis)” saat menonton film ini.

Menurut Ariel, Ayat-Ayat Cintaadalah manifestasi post-islamisme yang menolak tunduk pada satu nilai atau dikotomi ‘salah-benar’ yang lazim dalam proses dakwah Islam (hlm. 90). Penonton film ini bebas, tapi masih dalam kerangka yang syar’i.

Saya belum pernah menonton film ini secara lengkap. Saya hanya sempat melihat film ini beberapa menit saat ditayangkan di televisi. Saya tak berminat menonton film ini saat ditayangkan di bioskop. Saya hanya tahu dari pembacaan saya ihwal “perjalanan” film ini bahwa sampai saat ini tak ada film berbau Islam setelah film ini yang mendulang kesuksesan secara finansial dan merebut perhatian publik begitu besarnya.

Film ini juga memunculkan kontroversi. Sosok-sosok pemain filmnya bukanlah personifikasi “muslim ala definisi dakwah Islam yang jamak”. Anda bisa mengetahui siapa Fedi Nuril, pemeran utama laki-laki dalam film ini. Apakah dia layak disebur representasi muslim “kafah”? Anda akan menemukan penjelasan panjang lebar ihwal kontroversi film ini dalam buku Ariel ini.

Dalam pemaknaan saya, dan juga dibahas sekilas dalam buku Ariel ini, hanya film Catatat Si Boy yang dirilis pada 1988, 1989, 1990, 1991, dan 2011 yang setanding dengan Ayat-Ayat Cinta. Dengan ruang dan konteks yang berbeda, dua film ini mewakili “budaya populer” yang mampu menarik kehendak mengidentifikasi diri dan kemudian menikmatinya.

Saya mendapatkan penjelasan “mentes” ihwal fenomena Catatan Si Boy yang disutradari Nasri Cheppy dengan bintang Onky Alexander ya di buku ini. Saya memahami konteks budaya populer yang membuat Catatan Si Boy begitu fenomenal dari penjelasan Ariel tentang post-sekulerisme dan post-islamisme. Demikian juga dengan Ayat-Ayat Cinta.

Lagi, mengutip Perdana Putri, post-islamisme tak “mak bedunduk” ada dan menggejala. Orde Baru bukanlah masa yang ramah terhadap penganut Islam, baik yang moderat, dan terlebih yang konservatif. Islam berkali-kali dipojokkan di masa Orde Baru dan hanya digunakan sebagai kendaraan politik Soeharto di akhir masa jabatannya.

Keruntuhan rezim Orde Baru membuat umat Islam mau tidak mau merumuskan ulang identitas atau konsep dalam mereka. Lahirnya kelas menengah muslim yang secara ekonomi lebih baik. Mereka memproduksi lagi identitas diri sendiri di tengah globalisasi, modernitas, demokrasi, dan kebebasan yang baru dialami secara nyata.

Buku Ariel juga mengupas sejarah “kelam” 1965 untuk membedah term “identitas” dan “kenikmatan”. Khusus dalam konteks ini, saya lebih dulu mendapat penjelasan gamblang setelah membaca banyak buku yang membahas sejarah kelas 1965 dengan berbagai versi.

Buku Ariel ini membuat saya teringat kembali mozaik-mozaik dalam banyak buku yang saya bawa itu. Inti yang saya tangkap dari term “identitas” dan “kenikmatan” dari eksplorasi Ariel terhadap sejarah kelam 1965 adalah kita tidak akan ke mana-mana sampai kita selesai dengan peristiwa pembantaian komunis dan terduga komunis tersebut.

Menurut Perdana Putri, peristiwa September 1965 menjadi kunci penting dalam sejarah Indonesia. Sulit membayangkan semua hal yang terjadi hari ini tanpa mengingat lagi bagaimana peristiwa berdarah itu hadir. Politik identitas yang dibangun Orde Baru berdiri di atas tulang belulang korban 1965 tersebut.

Penolakan terhadap berbagai gerakan politik kiri, penindasan etnis Tionghoa yang bertahun-tahun jadi kambing hitam, pada akhirnya bermuara ke satu peristiwa penting yang belum diselesaikan hingga sekarang. Ada sejarah yang vakum ketika bangunan identitas Orde Baru itu runtuh.

Jangan terlalu kaget melihat anak-anak muda zaman sekarang masih bisa mengglorifikasi Soeharto walau ia tidak lahir di zaman tersebut atau ketika PKI yang sudah mati 50 tahun masih saja dinistakan jadi biang keladi gunung berapi meletus, bahkan yang tak masuk akal: pembantaian Salim Kancil di Lumajang konon juga bagian dari “kebangkitan” PKI.

Saya menangkap banyak laku mencari identitas dan kenikmatan dalam term kevakuman sejarah kelam 1965 ini yang memang tak masuk akal ketika konteksnya adalah era sekarang. PKI sejati justru akan membela Salim Kancil karena Salim Kancil adalah sosok korban “7 setan desa”, sebagiannya adalah jalinan mafia pertambangan pasir, preman yang hidup dari pertambangan pasir, dan aparatur Negara yang silau dan mudah terpesona melihat tumpukan uang.

Puing-puing Orde Baru yang tersisa masih dipungut secara tidak sadar oleh masyara kat (atau bisa saja secara sadar, untuk kepentingan tertentu). Ariel dalam bab Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan tidak terlalu menyalahkan generasi muda yang tampak tidak tertarik dengan sejarah tersebut (dan dengan demikian justru melegitimasi narasi sejarah Orba).

Film Pengkhianatan G30S/PKI layaklah disebut “magnum opus” rezim Orde Baru untuk meneguhkan “identitas” dan “kenikmatan” yang dibangun dari—salah satu simpulnya—gejolak politik 1965. Setelah film ini tak diputar lagi di layar kaca—masih bisa dinikmati di Youtube—muncul pemahaman bahwa sejarah 1965 merupakan persoalan kompleks yang tetap harus dibicarakan, namun dengan porsi yang sesuai dengan ruang dan waktu di zaman tema ini dihadirkan (hlm. 137).

Buku Ariel ini berujung pada pemaknaan posisi generasi muda sebagai peserta aktif dalam merumuskan identitas masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari pembahasan tentang tren fashion muslim(ah) yang meroket secara fantatis dan memiliki ceruk pasar yang besar pada anak muda, atau ketika kita membicarakan halyu atau gelombang dominasi budaya populer Korea Selatan (selanjutnya K-Pop).

Buku Identitas & Kenikmatan adalah etnografi yang kaya akan permasalahan sehari-hari dalam kehidupan orang biasa. Teguh Karya yang dikenal sebagai sutradara kondang adalah bagian dari manusia Indonesia yang terimbas stigma etnis Tionghoa setelah peristiwa G 30 S 1965. Banyak orang tak tahu bahwa Teguh Karya berdarah Tiongho dengan nama asli Steve Liem.

Dia memang tak pernah memunculkan etnis Tionghoa dan ketingohoaan dalam film-filmnya. Orang-orang di sekelilingnya, menurut penjelasan dalam buku Ariel ini, bahkan enggan membicarakan ketionghoaan Teguh Karya selain dalam bisik-bisik. Teguh Karya sendiri sebenarnya dengan ringan mengakui ketionghoaannya tapi dia memang tak mau memunculkannya.

Saya menutup esai apresiasi saya terhadap buku Ariel ini dengan mengutip Perdana Putri, bahwa budaya populer yang hadir dalam medium layar; film, video, hingga televisi (dan bahkan mulai merambat ke gadget terkini), adalah ruang kontestasi identitas yang berjalan bersama kenikmatan dalam melegitimasikannya.

Identitas ini tidak hanya berurusan dengan kedirian (agennya), tapi juga merupakan benang kusut antara relasi kuasa yang terjadi di ruang-ruang politik, ekonomi, sosial, dan budaya sehingga mulai serius melihat apa wacana yang berjalan di antara ”kedangkalan” budaya populer sebenarnya adalah usaha mengurai benang kusut itu.

Sedangan penutup versi saya sendiri begini, buku ini, menurut saya, bisa menjadi sarana memahami perkembangan cepat kebudayaan kita setidaknya tiga dekade terakhir. Di Facebook, beberapa hari lalu, Ariel mengatakan buku ini segera terbit edisi revisinya. Artinya, buku ini memang menarik perhatian banyak orang. Eman-eman kalau kita tak membacanya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
ichwan prasetyo

ichwan prasetyo

Jurnalis, suka membaca, suka mengoleksi buku, sedih bila buku dipinjam (apalagi kalau tak dikembalikan), tak suka kemunafikan.

1 comment