SOLOENSIS

Resensi Buku

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Judul Buku : Lelaki Pembawa Mushaf
Nama Pengarang : Nafi’ah Al-Ma’rab (Sugiarti)
Nama Penerbit : Tinta Medina Creative Imprint of Tiga Serangkai
Tempat Penerbit : Jl. Dr. Supomo, No.23, Solo 57141
Terbit : September, 2016
Jumlah Halaman : 208 halaman.

Perjuangan Pemuda Penghafal Al-Qur’an
Novel ini bercerita tentang Khalid, seorang pemuda biasa yang menjadi korban PHP (Pemberi Harapan Palsu) seorang wanita cantik birjilbab anggun yang bernama Syafira. Keputusan Syafira yang akhirnya memilih Sofyan untuk menjadi suaminya membuat Khalid merasa kecewa atas keputusan Syafira tersebut. Khalid memutuskan untuk melupakan Syafira dengan melakukan perjalanan/hijrah dari kota Pekanbaru menuju kota Padang. Khalid benar-benar mengalami tekanan hidup. Di kota Padang Khalid menemui seorang sahabatnya bernama Ali, diperjalanan menuju kota Padang, Khalid bertemu dengan Fadhli adik tingkat Syafira. Fadhli bercerita tentang Syafira yang pada waktu itu akan melangsungkan acara pernikahan dengan Sofyan. Khalid semakin sakit hati mendengar Fadhli berbicara tentang Syafira tetapi disisi lain Khalid merasa penasaran dengan Fadhli, mungkin dia bisa mengetahui alasan mengapa Syafira memilih seseorang selain dia. Fadhli yang sejatinya adalah seorang mahasiswa yang sering berkumpul-kumpul di Masjid membuat Khalid merasa tidak senang karena wanita yang memberi harapan palsu tersebut juga termasuk salah satu dari mahasiswa yang sering berkumpul di Masjid.
Sesampainya di kota Padang Khalid bertemu dengan sahabatnya yaitu Ali dan menumpang di rumah kostnya. Dia akhirnya mengantarkannya ke sebuah Masjid di daerah sekitar untuk mengikuti sebuah pengajian, awalnya Khalid tidak suka dengan pengajian tersebut namun dia harus mengikuti perintah Ali yang juga selaku tuan rumah. Khalid yang menunggu di depan Masjid tiba-tiba mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat merdu dari seorang guru Rumah Al-Qur’an. Khalid merasa tenang mendengarkan suara yang merdu tersebut. Tiba di tempat kost Ali, Khalid langsung bertanya-tanya siapa orang yang melantunkan ayat Al-Qur’an tersebut dengan merdu. Tanpa sepengetahuan Ali, Khalid mencoba mencari tahu sendiri tentang orang tersebut, pada akhirnya Khalid bertemu dengan orang tersebut yang bernama Ustadz Hasbi dan menanyakan bagaimana cara melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu. Pada awalnya Khalid ingin belajar Al-Qur’an karena ingin melupakan seseorang wanita yang dulu pernah memberi harapan palsu. Dia belajar mulai dari nol, mulai dari belajar bersama anak-anak hingga mendapat ledekan dari sana-sini. Sampai akhirnya Khalid bisa belajar bersama Ustadz Hasbi. Tekat yang kuat membuat Khalid mampu bertahan hingga ia menuntaskan beberapa juz ayat-ayat Al-Qur’an.
Perjuangan Khalid untuk menghafal Al-Qur’an tidak sia-sia. Ia ditawarkan sebagai pendamping hidup Aisyah, putri Ustadz Hasbi yang pulang dari Mesir. Pada awalnya Ustadz Hasbi lebih memilih Ali untuk menjadi pendamping hidup Aisyah karena hafalan Al-Qur’an Ali lebih banyak ketimbang Khalid, namun Aisyah lebih memilih Khalid. Pernikahan pun kurang tiga hari lagi, namun kejadian gempa hebat yang meluluhlantakkan Padang membuat harapan menikah pun musnah. Aisyah tidak bisa diselamatkan karena terbawa oleh arus air dari pantai, namun Ustadz Hasbi masih bisa diselamatkan. Ustadz Hasbi memberikan amanah kepada Khalid untuk pergi ke Pekanbaru guna melanjutkan hafalan juz ayat Al-Qur’an di kerabatnya. Disisi lain, ternyata Syafira mengalami masalah dalam rumah tangganya. Sofyan menikah lagi dengan wanita pilihan ibunya yang sebenarnya ia tidak setuju dengan ibunya. Namun wanita kedua yang dinikahi oleh Sofyan tersebut selingkuh dengan pria lain. Pada suatu ketika Sofyan melihat istri keduanya bersama dengan pria lain dan ia mengikuti istrinya. Pada waktu Sofyan membawa istrinya pulang ke rumah, Sofyan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia tewas. Hati Syafira pun sangat terpukul atas kepergian Sofyan tersebut.
Sudah enam bulan Khalid belajar dengan Ustadz Ghofar. Hafalan Al-Qur’an nya sudah bertambah dua kali lipat. Rumah Al-Qur’an yang didirikannya pun kini sudah berkembang. Khalid mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, muncul rasa simpati dari Ustadz Ghofur untuk memberikan hadiah, hadianya pun tidak berupa barang atau pun uang, namun Ustadz Ghofur memberikan amanah untuk pergi ke Depok. Sesampainya disana, tanpa diduga Khalid bertemu dengan sahabat lamanya yaitu Ali. Ali mengantarkan Khalid untuk bertemu dengan Ustadz Hanif, selaku kerabat dari Ustadz Ghofur dan pimpinan ma’had. Satu tahun berlalu, Khalid sudah menuntaskan hafalannya. Ustadz Hanif senang, melihat santrinya akhirnya berhasil dengan kerja kerasnya. Ustadz Hanif menyuruh Khalid agar melakukan sunnah Rasul yaitu menikah. Tanpa berpikir panjang Khalid akhirnya membuat proposal untuk calon wanita yang hendak dipersuntingnya. Namun yang direkomendasikan oleh Ustadz Hanif adalah Syafira. Khalid langsung kaget melihat wanita yang akan di nikahinya adalah Syafira. Awalnya Khalid tidak setuju, namun zaman sekarang mencari wanita yang Hafidz Al-Qur’an sangat sulit. Lama kelamaan Khalid setuju dengan keputusannya untuk menikahi Syafira. Pernikahan kuarang dari tiga hari, kejadian yang tidak diduga kembali terjadi. Syafira mengalami sakit asma yang akut hingga masuk ke rumah sakit, hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir. Hati Khalid sangat terpukul melihat kepergian Syafira, merasa tidak menyangka kejadian yang kedua kalinya terjadi lagi.
Kejadian tersebut telah berlalu sekian lama, Sahabatnya Ali telah mempersunting wanita yang bernama Mita. Ali meminta tolong kepada Khalid untuk menjadi saksi pernikahannya dan membantu Mita mempersiapkan acara pernikahannya. Ali pun tahu ada kesedihan diraut wajah Khalid melihat dirinya akan segera menikah. Hal yang ditunggu pun dating, Khalid menjadi saksi pernikahan Ali. Ada tawa bahagia di wajah Ali. Dan Khalid menyimpan luka yang hanya ia sendiri yang tahu. Sebagai seorang sahabat yang baik Ali memperkenalkan Khalid kepada adiknya untuk dijadikan calon istri. Khalid menjalani semuanya dengan santai, tidak ada rasa yang aneh-aneh. Khalid merasa seperti mimpi mengucapkan kalimat akad di depan penghulu. Ia menatapi istrinya yang bernama Namirah Syahidah.
Kelebihan novel ini yaitu terdapat bahasa yang diperjelas, karena terdapat beberapa bahasa dari daerah Padang maupun Pekanbaru. Kertas yang digunakan tidak membuat mata capek, biasanya buku yang lain menggunakan kertas berwarna putih terang, namun kertas di buku ini dibuat dengan kertas berwarna kuning. Cerita dari novel ini sulit ditebak, sehingga membuat pembaca penasaran dengan cerita di novel ini.
Kelemahan novel ini yaitu terdapat kalimat-kalimat yang kurang jelas. Pada waktu percakapan antar tokoh agak sulit dimengerti, kadang membuat pembaca berimajinasi lain dalam menafsirkan kata-kata penulis.
Pesan moral yang disampaikan dalam novel ini adalah pemuda pada zaman sekarang lebih banyak mengeluh jika mendapat masalah ataupun cobaan, namun cerita di novel ini mengajarkan bahwa jika kita mendapat masalah, kita bisa melakukan hal-hal yang positif seperti belajar ayat-ayat Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Nama : M Agung Mukti
Alamat : Ds. Jatianom, Karangjati – Pandaan, Kota Pasuruan
Prodi : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
No Hp : 085648710406

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Agung

Menyukai Editing Video

Add comment